GAZA — Meski mesin pembunuh militer Israel terus membombardir Jalur Gaza lewat aksi penghancuran dan berbagai bentuk pembersihan etnis, isu Gaza perlahan mulai terdepak dari sorotan utama panggung politik internasional. Redupnya perhatian dunia ini memicu kekhawatiran besar bahwa otoritas pendudukan kini makin leluasa mendikte keadaan di lapangan demi melancarkan skema kejahatannya tanpa pengawasan.

Padahal, meski kesepakatan gencatan senjata telah ditandatangani beberapa bulan lalu, realitas di lapangan menyajikan tabir yang sama sekali berseberangan.

Serangan udara Israel tak pernah benar-benar padam, pembunuhan berencana terus berulang, area pendudukan militer makin meluas, dan kucuran bantuan logistik serta medis terus merosot, beriringan dengan gempuran sistematis terhadap aparat kepolisian dan lembaga penjaga ketertiban publik.

“Gencatan Senjata” yang Tak Pernah Menghentikan Pembunuhan

Beberapa hari terakhir menyaksikan eskalasi gempuran yang amat tajam. Tembakan artileri dan bom udara menghantam berbagai sudut Gaza, menelan korban jiwa yang tak sedikit.

Salah satu insiden paling berdarah menyasar sebuah apartemen di sebelah barat laut Kota Gaza. Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menewaskan satu keluarga utuh, seorang ayah, ibu, dan tiga anak mereka.

Satu-satunya anggota keluarga yang selamat adalah seorang anak yang kebetulan sedang berada di luar rumah saat jet tempur melancarkan serangan.

Rumah Sakit Al-Shifa mengonfirmasi telah menerima jasad satu keluarga tersebut, bagian dari 11 martir yang gugur pada hari yang sama di berbagai titik lokasi.

Di Lingkungan Al-Zaytoun, tiga warga sipil tewas seketika akibat serangan udara. Di tempat lain, jasad seorang wanita dievakuasi dari tenda pengungsian yang dihantam artileri di sebelah timur distrik tersebut, sementara dua warga lainnya tewas di lokasi terpisah.

Data resmi otoritas kesehatan di Gaza mencatat bahwa akumulasi korban jiwa akibat pelanggaran kesepakatan gencatan senjata oleh Israel kini telah membengkak menjadi 1.144 orang syahid dan 3.703 lainnya luka-luka.

Menanggapi hal ini, gerakan Hamas mengecam keras gempuran bertubi-tubi tersebut sebagai kelanjutan dari perang genosida, seraya mendesak negara-negara penjamin dan Amerika Serikat untuk menekan Israel agar mematuhi komitmen kesepakatan dan menghentikan seluruh bentuk pelanggaran.

Ekspansi Wilayah Militer di Atas Kertas Perjanjian

Bentuk pelanggaran tak cuma berupa aksi pengeboman, melainkan pencaplokan wilayah secara merayap. Kesepakatan yang ditandatangani pada Oktober 2025 sejatinya menetapkan bahwa pasukan Israel hanya bertahan di sekitar 53% wilayah Gaza pada fase pertama sebelum melakukan penarikan bertahap.

Namun, area kontrol militer tersebut justru meluas menjadi 58% pada Desember lalu, dan kini telah menembus lebih dari 60% menurut kalkulasi pemerintah daerah setempat. Bahkan, pemerintah Israel secara terbuka menyatakan niatnya untuk memperluas pencaplokan hingga 70% wilayah Gaza.

Di lapangan, pembatas yang dikenal sebagai “Garis Kuning” (Yellow Line) tidak pernah konstan. Blok-blok beton terus digeser maju, diiringi pembuatan benteng tanah dan pendirian 32 pos militer terbarikade.

Selain itu, “Zona Oranye” (Orange Zone) yang membentang sejauh 200 hingga 500 meter di belakang Garis Kuning terus diperluas, di mana keberadaan warga Palestina di area tersebut dianggap sebagai ancaman keamanan yang sah untuk ditembak oleh tentara Israel.

Bantuan Mencekik, Kelaparan Mengintai

Beriringan dengan eskalasi militer, krisis kemanusiaan kian menghujam akibat merosotnya pasokan pangan dan obat-obatan. Kementerian Pembangunan Sosial Palestina melayangkan peringatan keras mengenai parahnya krisis ketahanan pangan di tengah lonjakan harga barang dan minimnya bantuan luar negeri.

Gaza idealnya membutuhkan setidaknya 600 truk bantuan per hari. Namun, armada truk yang diizinkan melintas saat ini hanya berkisar antara 190 hingga 250 truk per hari, hanya memenuhi 30 hingga 35% dari kebutuhan minimum masyarakat, atau mengalami defisit bantuan hingga 65%.

Kondisi mencekik ini memaksa berhentinya operasional dapur-dapur umum dan dapur lapangan (Takia) yang selama ini menjadi tumpuan makan harian bagi jutaan pengungsi dan keluarga miskin.

“Sebanyak 77% warga Gaza kini hidup dalam tingkat kerawanan pangan kritis. Lebih dari 100 ribu anak-anak berada di bawah ancaman gizi buruk akut, mendampingi sekitar 37 ribu ibu hamil dan menyusui yang mengalami gizi buruk serta krisis fasilitas kesehatan,” bunyi laporan Kementerian Pembangunan Sosial.

Lumpuhkan Polisi, Ciptakan Chaos

Tekanan militer tak hanya menyasar pemukiman dan suplai logistik, tetapi juga membidik institusi keamanan sipil yang menjaga ketertiban di dalam Gaza. Di tengah krisis ekonomi dan penumpukan pengungsi, peran kepolisian lokal amat krusial untuk mencegah penjarahan.

Namun, personel, markas, serta armada kendaraan polisi terus-menerus dijadikan target pengeboman.

Peneliti studi keamanan dan militer, Rami Abu Zubaida, menilai bahwa serangan bertubi-tubi terhadap aparat kepolisian menunjukkan bahwa Israel memandang institusi ini sebagai benteng ketahanan domestik warga Palestina.

“Arah serangan dalam beberapa bulan terakhir memperlihatkan perluasan target: dari fasilitas militer bergeser ke personel polisi yang sedang mengamankan pasar, mengawal pembagian bantuan kemanusiaan, menjaga aset publik, hingga menyelesaikan konflik antarwarga. Ini adalah upaya sistematis meruntuhkan fondasi sosial masyarakat,” jelas Abu Zubaida.

Abu Zubaida menambahkan bahwa melumpuhkan kepolisian di masa perang disengaja untuk membuka pintu bagi kejahatan, kriminalitas, dan anarki, sehingga penderitaan fisik warga kian sempurna.

Gerakan Kampanye Digital: “Mereka Membohongi Kalian”

Sadar akan redupnya isu Gaza di media massa global, para aktivis, jurnalis, dan pekerja kemanusiaan meluncurkan gerakan kampanye digital dalam bahasa Arab dan Inggris pada 16 Juli lalu dengan tagar #Kadzabu_Alaikum (“They Lied to You” / “Mereka Membohongi Kalian”).

Kampanye ini bertujuan mematahkan narasi menyesatkan yang mengesankan bahwa perang di Gaza telah berakhir pasca-penandatanganan gencatan senjata. Mereka menegaskan bahwa bom, kelaparan, dan kematian masih menjadi menu harian warga Gaza.

Juru Bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal, menuliskan kecamannya, “Gencatan senjata model apa ketika anak-anak kami masih terus dibunuh, rumah-rumah dihancurkan, tenda pengungsian dibom, dan keluarga-keluarga dirundung duka setiap hari?”

Dalam sebuah video kampanye, seorang anak Gaza yang terbaring dengan selang medis di tubuhnya menyampaikan pesan menyayat hati, “Mereka memberi tahu kalian bahwa perang telah usai… tapi perang ini tidak pernah selesai. Kami masih hidup dalam gempuran bom, kelaparan, dan kehancuran setiap hari.”

Di antara poin-poin manis di atas kertas perjanjian dan realitas pahit di lapangan, Gaza berdiri dalam ketimpangan yang amat nyata. Saat mata dunia teralih ke krisis geopolitik lainnya, lebih dari dua juta warga Palestina di Gaza ditinggalkan bertaruh nyawa di bawah bayang-bayang agresi yang menolak usai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here