Pakar militer dan strategi, Mayor Jenderal Fayez Duwairi, menilai peringatan juru bicara sayap militer Hamas, Abu Ubaidah, soal tawanan Israel sebagai penegasan atas kegagalan operasi militer Israel dalam menyelamatkan mereka.

Dalam pernyataannya pada Jumat (4/4), Abu Ubaidah menyebut bahwa “setengah dari tawanan musuh yang masih hidup berada di wilayah-wilayah yang dalam beberapa hari terakhir diperintahkan oleh tentara pendudukan Israel untuk dikosongkan.”

Dia menambahkan, “Kami memutuskan untuk tidak memindahkan para tawanan dari wilayah tersebut dan tetap menjamin keamanan mereka, meskipun dalam kondisi yang berisiko tinggi terhadap keselamatan mereka.”

Abu Ubaidah menegaskan, jika Israel peduli pada keselamatan para tawanan, maka semestinya mereka segera bernegosiasi untuk mengevakuasi atau membebaskan mereka.

“Kami sudah memperingatkan. Pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas nyawa para tawanan. Jika mereka memang peduli, seharusnya mereka mematuhi kesepakatan yang telah ditandatangani, dan sebagian besar dari mereka kini sudah berada di rumah.”

Strategi Gagal Berulang

Dalam segmen analisis militer, Duweri menjelaskan bahwa wilayah-wilayah yang diperintahkan untuk dikosongkan itu adalah lokasi-lokasi yang sebelumnya sudah beberapa kali diserbu oleh pasukan Israel namun gagal. Hal ini, menurutnya, mencerminkan strategi militer yang berantakan dan menunjukkan bahwa kegagalan akan kembali terulang.

Duweri menyebutkan bahwa wilayah yang dimaksud Abu Ubaidah—yakni garis timur sepanjang 43 km, wilayah utara sejauh 12 km, dan selatan 14 km—adalah lokasi yang telah dimasuki pasukan Israel sebanyak 3 hingga 5 kali sebelumnya, termasuk pengerahan 25 brigade militer, namun tetap gagal.

“Pesannya jelas: jika gagal tujuh kali, maka kegagalan kedelapan tinggal menunggu waktu.”

Dia juga menuding bahwa agenda politik Netanyahu, bersama Kepala Staf Militer Eyal Zamir, lebih diutamakan dibanding nyawa para tentara dan tawanan.

“Pernyataan Abu Ubaidah membongkar ketidakpedulian pemerintah Israel terhadap nyawa rakyatnya sendiri, dan ini bisa memicu kemarahan publik Israel,” ujarnya.

Terkait perintah evakuasi tentara Israel di wilayah tertentu, Duweri juga mengutip pernyataan seorang perwira Brigade Golani yang menyiratkan kontradiksi serius: “Apakah tujuannya menyelamatkan sandera, atau menganggap setiap yang bergerak sebagai musuh?”

Menurutnya, Israel telah melepaskan tanggung jawabnya atas keselamatan para tawanan.

Pilihan yang Terpaksa

Duwairi menekankan bahwa para sandera tidak hidup di hotel mewah, melainkan dalam kondisi yang serupa dengan warga Gaza lainnya. Ia menyebut bahwa pejuang Palestina menjaga nyawa mereka karena alasan kemanusiaan dan religius, serta karena mereka menjadi kartu penting untuk menghentikan genosida.

Menurutnya, keputusan Abu Ubaidah untuk tidak memindahkan para tawanan merupakan langkah terpaksa akibat serangan udara, artileri, dan invasi darat Israel.

“Israel telah menciptakan kondisi lapangan yang membuat pemindahan mereka secara aman mustahil.”

Duwairi menambahkan bahwa sebagian tawanan hidup berada di zona serangan dan memperingatkan bahwa “Israel mendorong mereka ke arah kematian, lalu menyalahkan perlawanan.”

Dia menegaskan bahwa pesan-pesan politik dan militer dari perlawanan membongkar kebohongan narasi Israel, memperlihatkan kegagalan militer dan moral Tel Aviv, sekaligus menempatkan pemerintahan Netanyahu pada dua pilihan: terus gagal, atau menghadapi kemarahan rakyatnya.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here