GAZA — Bagi warga yang bertahan di Distrik Al-Zaytoun, timur Kota Gaza, pertanyaan yang membayangi pikiran mereka hari ini bukan lagi kapan perang akan usai. Pertanyaan yang jauh lebih mendesak dan menghantui adalah, ke mana lagi harus melangkah jika gelombang pengungsian baru kembali dipaksakan?
Seiring meluasnya pergerakan militer pendudukan Israel di sekeliling distrik tersebut, ribuan warga tersisa hidup dalam kecemasan mendalam. Penderitaan keluarga-keluarga yang terpaksa angkat kaki kian memuncak akibat ketiadaan zona aman maupun hunian yang mampu menampung arus pengungsi yang tak putus-putus.
Laporan dari sumber-sumber lokal mengonfirmasi bahwa pasukan militer Israel kembali merangsek masuk (infiltrasi) pada Rabu di sepanjang Jalan Al-Sikka, sebelah tenggara Al-Zaytoun. Pada saat yang sama, deretan armada tempur darat bergerak maju di bawah naungan gempuran udara dan tembakan intensif di sebelah timur Simpang Dawlah, timur Kota Gaza.
Tak hanya menyerbu, pasukan pendudukan juga melancarkan aksi pengeboman besar-besaran yang meratakan kawasan timur Gaza, disusul dentuman keras ledakan bom suara yang menggetarkan langit tenggara kota.
Saksi mata menceritakan bahwa situasi di lapangan memburuk dalam hitungan jam. Tinggal di sebagian besar wilayah Al-Zaytoun kini bak bertaruh nyawa di tengah hujan peluru dan intaian drone (quadcopter) yang tak berhenti menderu.
Banyak warga akhirnya memilih melarikan diri dari rumah mereka, sementara sebagian lainnya terpaksa bertahan di tengah ancaman maut semata-mata karena tak lagi memiliki pilihan tempat tinggal lain.
Yang Bertahan… Hidup di Bawah Bayang-Bayang Penangkapan
Aktivis kemanusiaan Maysara Arafat menjelaskan bahwa gelombang evakuasi belum mengosongkan seluruh Distrik Al-Zaytoun. Sejumlah keluarga masih nekat menetap di beberapa titik, terutama di sepanjang Jalan Salahuddin dan area barat distrik, meski situasi keamanan sangat genting.
Arafat menyebutkan bahwa pergerakan pasukan Israel diiringi aksi-aksi intimidatif yang meneror warga. Sejumlah penduduk sempat ditahan secara sewenang-wenang sebelum akhirnya dibebaskan. Insiden ini makin memicu ketakutan warga akan ancaman penangkapan massal atau target tembak langsung.
“Kehidupan sehari-hari warga kini bergantung pada momen jeda henti tembak yang sangat rapuh. Tembakan bisa meletus kapan saja, memaksa warga berlindung secara tiba-tiba di balik dinding bangunan yang retak atau di antara deretan tenda,” ungkap Arafat.
Geliat Bertahan Hidup di Tengah Reruntuhan
Meski maut membayangi setiap sudut, upaya warga untuk menyambung hidup tetap terlihat. Beberapa pedagang lokal nekat membuka kembali lapak-lapak kecil mereka untuk menjual kebutuhan pokok mendasar. Sebagian warga lainnya berikhtiar menyediakan kayu bakar dan perlengkapan harian guna meringankan beban tetangga mereka yang tidak mengungsi.
Warga menegaskan bahwa geliat ekonomi kecil ini bukanlah penanda situasi telah stabil, melainkan bentuk perlawanan pasif (sumud) untuk bertahan hidup di tengah krisis yang mencekik.
Mengungsi: Awal Kesengsaraan Baru
Penderitaan warga tak lantas usai ketika mereka berhasil melangkah keluar dari Al-Zaytoun. Sebaliknya, hengkang dari rumah justru menjadi awal dari pengembaraan panjang yang menyiksa untuk mencari tempat bernaung.
Muhammad Al-Bal’awi (60 tahun) menuturkan pahitnya kenyataan saat ia memutuskan memboyong keluarganya begitu operasi militer mendekat. Ia mengira akan dengan mudah menemukan tempat mengungsi, namun kenyataan di lapangan justru mempertemukannya dengan kelangkaan tempat tinggal dan melonjaknya tarif sewa di luar jangkauan ekonominya.
“Saya masih terus berpindah-pindah tempat bersama istri dan tiga putri saya hanya untuk mencari tempat bernaung. Sebagian barang bawaan terpaksa saya titipkan di rumah tetangga sampai kami menemukan tempat tinggal sementara,” tutur Al-Bal’awi pasrah.
Penumpukan Pengungsi di Wilayah Barat
Sebagian besar keluarga yang terusir dari Al-Zaytoun kini bergerak menumpuk ke arah distrik-distrik barat Kota Gaza. Namun, wilayah barat sendiri telah mengalami kepadatan penduduk yang ekstrem, hingga nyaris tak ada lagi ruang tersisa untuk mendirikan tenda baru.
Para pengamat kemanusiaan memperingatkan bahwa gelombang pengungsian yang terus berulang ini akan memicu kelumpuhan total pada layanan dasar. Akses terhadap air bersih, makanan, dan sanitasi makin sulit dijangkau di tengah keterbatasan fasilitas pusat-pusat pengungsian.
Perkembangan di Distrik Al-Zaytoun menegaskan realitas kelam yang dihadapi warga sipil Gaza hari ini: mengungsi tidak menjamin keselamatan, sementara bertahan pun tak lagi menawarkan kepastian hidup. Di tengah lingkaran krisis yang kian rumit, warga Gaza terus dipaksa beradaptasi dengan takdir yang berubah saban hari.










