Gelombang serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat meningkat tajam sejak pecahnya perang melawan Iran pada akhir Februari lalu. Di balik barikade militer dan pembatasan pergerakan yang diberlakukan tentara Israel, serangkaian serangan terhadap warga sipil justru kian sering terjadi.
Organisasi hak asasi manusia dan tenaga medis di wilayah itu melaporkan, para pemukim memanfaatkan situasi perang untuk memperluas serangan mereka. Jalan-jalan ditutup, pergerakan warga dibatasi, dan ambulans sering kali tertahan berjam-jam di pos militer. Dalam kondisi itu, korban luka tidak selalu bisa ditolong tepat waktu.
Data Kementerian Kesehatan Palestina mencatat sedikitnya lima warga Palestina syahid di Tepi Barat akibat serangan pemukim sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Sementara itu, organisasi HAM Israel, B’Tselem, melaporkan seorang warga Palestina lainnya meninggal setelah menghirup gas air mata yang ditembakkan saat terjadi penyerangan di sebuah desa. Dengan demikian, jumlah korban syahid sejak perang itu dimulai mencapai enam orang.
Jalan Ditutup, Desa Terbuka bagi Serangan
Pada hari pertama perang, tentara Israel menutup banyak jalan di Tepi Barat menggunakan gerbang besi dan timbunan tanah. Sebagian besar perlintasan menuju wilayah Israel juga ditutup.
Militer Israel menyebut langkah tersebut sebagai tindakan pencegahan keamanan. Pada saat yang sama, Israel melancarkan serangan udara ke Iran, sementara kelompok Hizbullah di Lebanon menembakkan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran.
Namun bagi warga Palestina yang tinggal di desa-desa terpencil di Tepi Barat, kebijakan itu justru membuat mereka semakin rentan.
Banyak desa menjadi seperti kantong-kantong terisolasi. Jalan keluar terbatas, akses bantuan sulit, sementara serangan pemukim tetap terjadi.
Di saat yang sama, tentara Israel masih menjalankan operasi penggerebekan rutin ke kota dan desa Palestina. Penangkapan kerap dilakukan tanpa dakwaan jelas, bahkan di saat situasi relatif tenang.
Darah di Abu Falah
Salah satu serangan paling mematikan terjadi di Desa Abu Falah, di utara Ramallah. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, dua warga Palestina ditembak mati oleh pemukim bersenjata sebelum fajar pada Ahad pekan lalu.
Saksi mata mengatakan lebih dari 100 pemukim berkumpul di pinggiran desa itu. Warga kemudian saling mengabarkan lewat grup WhatsApp untuk memanggil para pria desa agar melindungi wilayah mereka.
Bentrok awal terjadi dengan lemparan batu. Namun situasi berubah cepat ketika pemukim bersenjata tiba dan mulai menembakkan peluru.
Seorang warga yang ikut bertahan mengatakan seorang pemuda syahid ketika berusaha melindungi rumah dari serangan.
Jejak darah masih terlihat di kebun zaitun tempat serangan itu terjadi hingga beberapa hari kemudian. Warga menancapkan dua bendera Palestina di lokasi tersebut, menandai tempat dua korban ditembak. Seorang warga Palestina lain meninggal tak lama setelah kejadian.
Menurut B’Tselem, korban ketiga kemungkinan meninggal akibat gas air mata yang ditembakkan pasukan Israel yang berada di desa saat serangan berlangsung.
Militer Israel mengatakan telah membuka penyelidikan dan menyatakan mengecam “segala bentuk kekerasan”.
Ambulans Terhambat
Para tenaga medis mengatakan pembatasan jalan membuat penanganan korban menjadi jauh lebih sulit.
Juru bicara layanan ambulans Bulan Sabit Merah Palestina, Ahmad Jibril, mengatakan banyak ambulans tertahan di pos militer atau bahkan dihalangi saat hendak mencapai korban.
“Bukan hanya terhambat. Ada juga serangan terhadap tim medis oleh pemukim maupun tentara,” kata Jibril.
Ia mencontohkan sejumlah wilayah yang mengalami kondisi serupa, seperti Yirza di Lembah Yordan Utara, Masafer Yatta, Beit Ur al-Tahta, Abu Falah, Al-Mughayyir, dan Kafr Malik.
Gerbang besi dan tanggul tanah yang dipasang tentara membuat banyak desa praktis terisolasi. Akibatnya, bukan hanya korban serangan yang kesulitan mendapatkan pertolongan, pasien sakit pun kerap terlambat dibawa ke fasilitas medis.
Serangan Meluas
Organisasi pemantau HAM Israel, Yesh Din, mencatat lebih dari 109 laporan kekerasan yang dilakukan pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat sejak perang terhadap Iran dimulai.
Insiden tersebut mencakup penembakan, pemukulan, perusakan properti, hingga ancaman terhadap warga.
B’Tselem bahkan menyebut seluruh kasus warga Palestina yang terbunuh oleh pemukim sepanjang tahun ini terjadi hanya dalam satu pekan terakhir.
Menurut organisasi tersebut, milisi pemukim bersenjata memanfaatkan situasi perang untuk meningkatkan tekanan terhadap warga Palestina.
“Serangan-serangan ini sering terjadi dengan dukungan tentara dan bertujuan memaksa warga Palestina meninggalkan tanah mereka,” tulis B’Tselem dalam laporannya.
Yesh Din juga melaporkan bahwa dalam tiga insiden penembakan, pelaku mengenakan seragam militer Israel. Militer Israel belum memberikan komentar terkait temuan tersebut.
Banyak warga Palestina menuduh tentara lebih sering melindungi pemukim daripada melindungi penduduk desa.
Demam Permukiman
Peningkatan kekerasan itu terjadi bersamaan dengan ekspansi permukiman Israel di Tepi Barat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat sekitar 700 warga Palestina telah mengungsi akibat kekerasan pemukim sejak awal 2025 hingga awal Februari 2026.
Pemerintah Israel sendiri terus memperluas pembangunan permukiman. Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, secara terbuka mengatakan ekspansi itu bertujuan menghapus kemungkinan berdirinya negara Palestina.
Sementara itu, politisi sayap kanan Israel Yossi Dagan baru-baru ini mengumumkan pembangunan permukiman baru di sebuah lokasi strategis di pegunungan yang menghadap Kota Nablus. Permukiman tersebut merupakan salah satu dari 22 proyek baru yang diumumkan pemerintah Israel pada Mei lalu.
Laporan Uni Eropa pada 2024 menyebut lebih dari 700 ribu pemukim Israel kini tinggal di Tepi Barat dan Al-Quds Timur, berdampingan dengan lebih dari tiga juta warga Palestina.
Sebagian besar negara di dunia menilai pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan itu melanggar hukum internasional yang mengatur wilayah di bawah pendudukan militer.
Di lapangan, bagi warga desa-desa kecil di Tepi Barat, angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia hadir dalam bentuk jalan yang ditutup, ambulans yang tertahan, dan malam-malam yang lebih sering diwarnai ketakutan daripada tidur yang tenang.










