Di Gaza, tongkat penyangga tak lagi sekadar alat bantu berjalan. Ia berubah menjadi penopang utama untuk tetap bekerja. Para korban luka (sebagian kehilangan kaki) dipaksa menata ulang cara bergerak, menyesuaikan tubuh dengan pekerjaan yang tetap menuntut mobilitas tinggi. Semua itu dilakukan di tengah ketiadaan fasilitas ramah disabilitas dan minimnya akses pada kaki palsu yang layak.
Laporan ini menelusuri tiga kisah dari lapangan. Tiga pria yang tetap bertahan di profesinya, meski tubuh mereka tak lagi utuh. Mereka bukan sedang mencari simpati. Mereka hanya berusaha terus bekerja, dengan cara yang kini jauh lebih sulit.
Kamera yang Bertahan di Atas Reruntuhan

Pertengahan April 2024, fotografer jurnalistik Sami Shahada berlari menuju lokasi serangan. Kamera di tangan, seperti biasa. Tapi kali ini, ia tak kembali dengan tubuh yang sama. Sebuah ledakan memutus kaki kanannya di tempat.
Ia masih ingat detail detik-detik itu. Ia sadar sepenuhnya, bahkan sempat melihat kakinya terpisah sebelum dibawa ke ruang operasi. Dalam perjalanan, satu hal yang terus terlintas: bagaimana nasib pekerjaannya, yang selama ini menuntutnya bergerak cepat di tengah situasi berbahaya.
Satu bulan setelah amputasi, pada 13 Mei 2024, Sami kembali ke lapangan.
Cara kerjanya berubah total. Setiap langkah harus diperhitungkan. Berdiri di atas puing bangunan bukan lagi sekadar soal keberanian, tapi soal keseimbangan. Ia kerap membutuhkan bantuan saat harus naik atau bergerak cepat ketika situasi memburuk.
“Hari ini, setiap gerakan saya ukur. Tapi kamera di tangan justru membantu saya menjaga keseimbangan,” ujarnya.
Sami kini bekerja dengan satu kaki, mendokumentasikan kehancuran yang juga pernah menimpanya. Ia menolak menyebut apa yang ia lakukan sebagai bentuk keberanian. Baginya, ini bagian dari tanggung jawab profesional yang ia bangun selama 17 tahun.
“Kaki saya tertinggal di medan. Kamera saya tidak. Selama napas masih ada, saya akan terus merekam,” katanya.
Dari Tukang Kayu ke Petani Darurat

Muhammad Ahmad Nasir selamat dari reruntuhan Rumah Sakit Indonesia pada November 2024. Ia menggambarkan dirinya saat itu seperti sudah berada di ambang kematian, sebelum akhirnya ditemukan masih hidup.
Ia kehilangan satu kaki, mengalami kerusakan ginjal, dan masih menyimpan serpihan logam di tubuhnya. Setelah itu, ia tinggal di tenda pengungsian bersama enam anaknya, tanpa sumber penghasilan.
Harga bahan pangan yang melonjak memaksanya mencari cara lain. Ia mulai mengolah sebidang kecil tanah di samping tenda.
Pekerjaan sederhana itu berubah menjadi tantangan fisik. Nasir harus duduk di bangku kecil, membungkuk lama untuk menjangkau tanah, dan mengolahnya dengan alat seadanya. Tanah yang ia garap pun bukan tanah subur, penuh batu dan sisa puing.
“Ini bukan berkebun untuk hobi. Ini supaya kami bisa makan,” katanya.
Anak-anaknya membantu mengambil air dari jarak jauh. Ia sendiri menanam dan merawat. Hasilnya tak banyak (lobak dan arugula) tapi cukup untuk bertahan. Sebagian bahkan ia bagi ke sesama pengungsi.
Nasir sebenarnya ingin kembali ke profesi lamanya sebagai tukang kayu. Ia masih menyimpan harapan itu.
“Saya ingin kembali membuat perabot. Selama tangan saya masih bisa memegang palu dan gergaji, saya belum selesai,” ujarnya.
Tukang Cukur di Trotoar

Di kawasan Sabra, seorang pria berdiri di samping kursi plastik, memegang gunting. Namanya Muawiya Al-Wahidi, 42 tahun. Ia kehilangan satu kaki dalam serangan tahun 2021. Perang terbaru menghancurkan rumah sekaligus tempat usahanya.
Kini, trotoar menjadi ruang kerjanya.
Ia berdiri berjam-jam dengan satu kaki yang tersisa. Rasa sakit di punggung dan sendi menjadi bagian dari rutinitas. Pekerjaan yang dulu mengandalkan gerak lincah mengitari pelanggan kini harus dilakukan dengan cara berbeda.
“Biasanya saya bergerak mengelilingi pelanggan. Sekarang, saya minta mereka yang menyesuaikan posisi,” katanya.
Ia juga harus bergerak perlahan, kadang bersandar ke dinding untuk menjaga keseimbangan. Dokter sudah memperingatkan risiko serius: tekanan berlebih pada satu kaki bisa membuatnya kehilangan kaki itu juga.
Namun ia tak punya banyak pilihan. Tempat usahanya kini menjadi kamar tidur bagi anak-anaknya. Trotoar adalah satu-satunya ruang tersisa.
Saat musim dingin, kondisinya makin berat. Otot di sekitar bekas amputasi menjadi kaku. Hujan bisa menghentikan pekerjaannya sepenuhnya.
Meski begitu, ia tetap bekerja setiap hari.
“Kemampuan saya mungkin tinggal 10 persen. Tapi itu cukup supaya kami tidak harus meminta-minta,” katanya.
Muawiya adalah satu dari sekitar 12 ribu penyandang amputasi di Gaza. Tapi kisahnya mencerminkan sesuatu yang lebih luas: upaya bertahan dalam kondisi yang terus menyempit.










