Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel, Itamar Ben-Gvir, Kamis (23/1/2026), menyetujui pemberian izin membawa senjata bagi warga 18 permukiman baru di Tepi Barat, termasuk permukiman Sanur di utara wilayah tersebut, menurut laporan Channel 7 Israel.

Keputusan ini menambah daftar sebelumnya, di mana antara Oktober–Desember 2025, 23 permukiman telah memperoleh hak serupa. Sejak kebijakan ini diperluas, lebih dari 240 ribu warga Israel tercatat memiliki izin membawa senjata pribadi.

Paralel dengan perluasan senjata, militer Israel mulai memindahkan peralatan dan bangunan sementara ke permukiman Sanur untuk mendirikan pos militer permanen, bagian dari rencana memperluas kendali Israel dan menghidupkan kembali permukiman yang sebelumnya dibongkar.

Di sisi lain, operasi militer Israel di Tepi Barat terus berlanjut. Pasukan pendudukan menargetkan kendaraan dengan pelemparan gas di jalan utama dekat Kamp Qalandiya, utara Al-Quds, menimbulkan sesak napas bagi penumpangnya.

Palang Merah Palestina melaporkan satu warga tertembak dekat tembok pemisah di Al-Ram. Serangkaian penangkapan juga dilakukan: tujuh warga Palestina ditangkap dari berbagai daerah, termasuk seorang mantan tahanan wanita. Target operasi mencakup Nablus, Jenin, Ramallah, Al-Bireh, Kamp Aqbat Jabr, Kamp Al-Am’ari, serta beberapa desa di timur Tubas.

Selain itu, tentara Israel menghancurkan satu rumah dan fasilitas pertanian di Al-Duyuk Al-Tahta, barat Jericho, dengan alasan bangunan tanpa izin, serta mengeluarkan pemberitahuan untuk menghancurkan fasilitas lain di area tersebut.

Kekerasan, pengusiran, dan ekspansi permukiman ini merupakan bagian dari eskalasi Israel sejak perang di Gaza Oktober 2023. Data menunjukkan setidaknya 1.107 warga Palestina syahid, sekitar 11.000 lainnya terluka, dan lebih dari 21.000 ditangkap, membentuk pola yang menurut pengamat Palestina berpotensi membuka jalan bagi aneksasi Tepi Barat.

Sumber: Al Jazeera + agensi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here