GAZA — Unit elite Angkatan Laut Israel mulai bergerak merangsek dan membajak kapal-kapal rombongan Armada Global Sumud Flotilla (GSF) di lepas pantai Siprus, Senin (18/5). Rombongan kapal pembawa bantuan kemanusiaan yang bertolak dari Turki sejak Kamis pekan lalu itu dibajak di perairan internasional, ratusan kilometer sebelum mencapai tujuannya, membongkar blokade ketat di Jalur Gaza.

Pihak panitia penyelenggara Freedom Flotilla mengonfirmasi bahwa armada mereka telah dicegat oleh sejumlah kapal perang Israel. Dalam pernyataan resminya, panitia menyebut pasukan bersenjata zionis menaiki kapal di depan mata seluruh peserta. Mereka mendesak komunitas internasional segera menjamin koridor aman bagi misi yang murni bergerak atas dasar kemanusiaan, hukum, dan perdamaian tersebut.

“Kami meminta pemerintah negara-negara dunia bergerak menghentikan aksi pembajakan ini. Upaya ini jelas sengaja dilakukan demi melanggengkan pengepungan Gaza. Membiarkan kekerasan penjajah seperti ini menjadi ancaman bagi kita semua,” tulis perwakilan panitia dalam rilis resminya.

Laporan dari Israel Channel 12 menyebutkan, operasi penyergapan ini dikomandoi langsung oleh unit komando laut elite Shayetet 13. Sementara itu, koresponden Aljazeera di lapangan melaporkan empat kapal perang Israel mengepung armada, lalu memerintahkan seluruh kapten kapal untuk segera mematikan mesin.

Media-media Israel mengeklaim sedikitnya 100 aktivis telah ditangkap dalam operasi yang diperkirakan bakal berlangsung hingga Selasa besok. Para aktivis kemanusiaan ini dilaporkan langsung dipindahkan ke kapal militer Israel yang berfungsi sebagai “penjara apung”, untuk kemudian dibawa menuju Pelabuhan Ashdod. Namun, sumber internal Freedom Flotilla menegaskan bahwa pencegatan terhadap satu atau dua kapal tidak akan menyurutkan langkah sisa armada lainnya untuk tetap menembus Gaza.

Skenario “Penjara Apung” dan Ketakutan Tel Aviv

Rencana penghadangan ini sebenarnya sudah digodok matang-matang di Tel Aviv. Surat kabar Jerusalem Post membocorkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menggelar rapat keamanan internal sejak Ahad, menyusul estimasi bahwa armada tersebut akan memasuki wilayah laut mereka dalam waktu 48 jam.

Direktur Biro Aljazeera di Palestina, Walid Al-Omari, memaparkan bahwa militer Israel sengaja mencegat armada di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)—bukan di perairan teritorial. Strategi menggunakan kapal penjara apung di tengah laut ini sengaja dipilih untuk menghindari kerumitan diplomatik jika para aktivis dibawa langsung ke pelabuhan darat Israel atau wilayah pihak ketiga.

Al-Omari menambahkan, Tel Aviv mengerahkan kekuatan penuh, mulai dari Angkatan Laut, komando Shayetet 13, hingga pasukan infanteri. Dalih yang dipakai Israel masih senada: mereka mengeklaim ada elemen “aktivis radikal” dari organisasi IHH yang dituduh berafiliasi dengan Hamas. Israel tampaknya trauma dan berupaya keras menghindari terulangnya tragedi berdarah kapal Mavi Marmara pada tahun 2010 silam yang menelan korban jiwa.

Israel melabeli misi kemanusiaan ini sebagai tindakan “provokasi” dan bersikeras melarang armada bersandar di Gaza. Sebagai gantinya, mereka menawarkan opsi penyaluran bantuan lewat Pelabuhan Ashdod. Di sisi lain, diplomasi belakang layar terus berjalan intens guna mencegah benturan militer langsung dengan Angkatan Laut Turki yang dikabarkan siap mengawal armada tersebut.

Dari atas salah satu kapal armada, jurnalis Aljazeera Saifuddin Bouallag melaporkan bahwa situasi di perairan internasional sangat menantang. Selain ancaman fisik dari militer Israel, armada harus bertarung melawan cuaca buruk, angin kencang, dan ombak tinggi. Tuduhan Israel bahwa mereka membawa senjata tajam pun langsung dibantah keras oleh panitia lewat siaran langsung (live streaming) yang terus mengudara demi membuktikan sifat damai misi ini.

Menembus Pengepungan Gaza

Misi kali ini melibatkan 54 kapal yang serentak berlayar dari Pelabuhan Marmaris, Turki. Kapal “Family” bertindak sebagai pusat komando yang mengoordinasikan pergerakan kapal-kapal lain dalam radius 35 mil. Di dalam kapal utama ini, berkumpul tim dokter, pengacara, jurnalis, serta aktivis hak asasi manusia dari 70 negara. Sejumlah tokoh kunci kemanusiaan seperti Samira Aq Deniz Ordu, Iman Al-Makhloufi, Said Abu Kisyk, Ko Tinmaung, dan Natalia Maria ikut berada di garis depan.

Bagi para aktivis, fakta bahwa militer Israel harus mengerahkan pasukan elite dengan tingkat kewaspadaan tertinggi sebenarnya sudah menjadi bentuk kemenangan moral tersendiri. Setidaknya, aksi ini kembali membuka mata dunia dan memberi ruang bagi para nelayan Gaza yang selama ini ruang geraknya dicekik. Sementara itu, tim hukum internasional yang berada di kapal terus mendokumentasikan setiap pelanggaran hukum laut yang dilakukan Israel untuk dibawa ke pengadilan internasional.

Aksi penghadangan di perairan internasional bukan pertama kalinya dilakukan Israel. Pada 29 April lalu, militer Israel juga melakukan agresi serupa di dekat Pulau Kreta terhadap kapal Freedom Flotilla yang membawa 345 peserta dari 39 negara. Saat itu, Israel menahan 21 kapal dan 175 aktivis, meski sisa kapal lainnya tetap nekat melanjutkan pelayaran.

Gerakan Freedom Flotilla merupakan bagian dari rantai panjang perlawanan sipil global untuk mendobrak blokade zalim atas Gaza yang telah berlangsung sejak 2007. Kondisi kemanusiaan di kantong eksklave tersebut kian runtuh menyusul genosida yang dilancarkan Israel sejak Oktober 2023, yang menghancurkan ruang hidup dan memaksa 1,5 juta warga Palestina mengungsi tanpa arah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here