TEL AVIV – Otoritas militer Israel dilaporkan tengah bersiap meluncurkan operasi represif untuk membajak iring-iringan Global Sumud Flotilla. Armada yang membawa misi kemanusiaan global ini telah bertolak dari Turki sejak pekan lalu dengan tujuan tunggal, menembus blokade laut yang mengepung Jalur Gaza.
Surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, pada Ahad (17/5) melansir bahwa intelijen mereka memperkirakan sekitar 50 kapal dalam armada tersebut akan memasuki zona sensitif dalam dua hingga tiga hari ke depan.
Skenario penanganan yang disiapkan Tel Aviv terbilang brutal. Mereka tidak segan-segan menggunakan kekuatan militer di perairan internasional terhadap para aktivis sipil ini.
“Kami akan mengambil alih kapal-kapal armada tersebut dan memindahkan para pesertanya ke sebuah penjara terapung,” ujar seorang sumber internal Israel secara blak-blakan kepada Yedioth Ahronoth.
Stigmatisasi dan Target Operasi
Guna melegitimasi tindakan keras yang akan diambil, pihak Israel mulai membangun narasi yang menyudutkan para relawan. Sumber tersebut mengklaim bahwa para aktivis kali ini diprediksi akan “lebih keras” dan diduga membawa senjata tajam, sebuah tuduhan klasik yang kerap diproduksi Tel Aviv untuk membenarkan kekerasan militer atas warga sipil tanpa senjata.
Tak hanya itu, militer Israel juga secara spesifik membidik sejumlah nama besar dalam gerakan kemanusiaan ini. Dua di antaranya adalah aktivis senior Thiago Avila dan Saif Abu Kishk.
“Perkiraan kami, Thiago Avila dan Saif Abu Kishk berada di atas kapal. Kali ini, kami tidak akan melepaskan mereka dengan cepat,” lanjut sumber tersebut.
Ironisnya, kedua aktivis ini sebenarnya baru saja dibebaskan Israel pada 10 Mei lalu setelah sempat ditangkap dalam aksi pencegatan armada sebelumnya. Gelombang pertama armada yang terdiri dari 50 kapal itu sendiri diketahui berangkat dari pelabuhan di Prancis dan Spanyol sejak 12 April.
Urat Nadi yang Berusaha Diputus
Misi pelayaran dari pantai Turki yang dimulai Kamis lalu ini murni merupakan gerakan moral sipil internasional. Tujuannya adalah menyalurkan bantuan darurat sekaligus membuka mata dunia atas penderitaan kolektif yang dialami warga Palestina di Gaza.
Upaya konfrontasi oleh Israel ini bukan yang pertama. Pada 29 April lalu, angkatan laut Israel juga telah meluncurkan serangan ilegal di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani. Saat itu, mereka menyergap kapal misi yang membawa 345 relawan dari 39 negara. Dalam operasi sepihak tersebut, Israel menahan 21 kapal dan sekitar 175 aktivis, sementara sisa kapal lainnya terpaksa memutar haluan ke perairan Yunani.
Rentetan aksi nekat para aktivis lintas negara ini adalah respons langsung atas blokade Israel yang telah mengunci Gaza sejak tahun 2007. Situasi di Gaza kian tak manusiawi pasca-perang pemusnahan yang dilancarkan Israel sejak 7 Oktober 2023. Agresi itu tak hanya meruntuhkan kota, tetapi juga memaksa 1,5 juta warga Palestina hidup luntang-lantung sebagai pengungsi di tanah mereka sendiri.
Kini, dengan disiapkannya ‘penjara terapung’ oleh Israel, dunia kembali dipertontonkan bagaimana sebuah misi bantuan makanan dan obat-obatan dihadapi dengan moncong senjata dan jeruji besi di laut lepas.
Sumber: Al Jazeera / Yedioth Ahronoth










