Abu Ubaida, juru bicara militer baru Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, menyatakan pihaknya telah menyerahkan seluruh informasi dan detail terkait lokasi jenazah tawanan Israel terakhir di Gaza kepada para mediator. Pernyataan ini muncul di tengah operasi luas yang diluncurkan militer Israel untuk menemukan jenazah prajurit Ran Goyli.
“Pencarian musuh atas jenazah prajurit Ran Goyli, berdasarkan informasi yang kami berikan kepada mediator, membuktikan kebenaran pernyataan kami,” kata Abu Ubaida.
Ia menegaskan, Hamas telah menangani seluruh isu tawanan dan jenazah dengan transparansi penuh, menyelesaikan semua kewajiban sesuai kesepakatan gencatan senjata, termasuk menyerahkan semua jenazah dan tawanan hidup secepat mungkin, meski Israel tidak sepenuhnya menepati komitmen dan melakukan berbagai pelanggaran.
Abu Ubaida menekankan, “Kami berkomitmen menutup isu ini sepenuhnya dan tidak ada niat menunda, demi kepentingan rakyat kami.” Ia juga menyerukan agar mediator menekan Israel untuk menepati seluruh kesepakatan.
Operasi Militer Israel
Pemerintah Israel menyatakan militer mereka tengah melakukan operasi besar untuk menemukan jenazah Ran Goyli di sebuah pemakaman di utara Gaza. Operasi ini menggunakan seluruh data intelijen yang tersedia dan dipastikan akan terus berlanjut selama diperlukan.
Juru bicara militer Israel menekankan pentingnya publik tidak menyebarkan informasi yang salah yang dapat merugikan keluarga Goyli maupun upaya penemuan jenazah. Militer memulai pencarian terfokus di wilayah “Garis Kuning” di utara Gaza dan akan memeriksa ratusan jenazah satu per satu, tahap pertama mencakup 170 jenazah.
Sebelumnya, pada 8 Desember, upaya pencarian jenazah di timur kawasan Zaitoun, Gaza, berakhir tanpa hasil. Namun Israel menyatakan masih mengandalkan informasi intelijen dan kemungkinan Hamas dapat memberikan tambahan data melalui interogasi terhadap elemen-elemen terkait.
Hamas menegaskan seluruh kewajibannya telah dipenuhi: menyerahkan jenazah dan tawanan hidup sesuai kesepakatan, meninggalkan Israel tanpa alasan untuk menunda implementasi tahap kedua gencatan senjata, termasuk pembukaan perlintasan Rafah.
Sumber: Al Jazeera










