GAZA — Bagi banyak warga Gaza, membuka Google Earth belakangan ini bukan sekadar aktivitas melihat peta. Dari balik layar, mereka justru menelusuri kembali tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari hidup mereka seperti rumah, sekolah, jalan, hingga lingkungan tempat mereka tumbuh.
Pemandangan dari udara yang diperbarui di Google Earth memperlihatkan perubahan drastis di Rafah dan sejumlah wilayah selatan Jalur Gaza. Foto-foto tersebut sebenarnya telah tersedia bagi pengguna, tetapi penyebarannya secara luas di media sosial dalam beberapa hari terakhir membuat banyak orang seolah baru pertama kali melihatnya.
Dari ketinggian, jejak kehancuran terlihat begitu luas. Kawasan yang sebelumnya dipenuhi bangunan kini tampak berubah menjadi hamparan reruntuhan.
Fenomena itu kembali membuka perhatian publik terhadap skala kehancuran akibat perang Israel di Gaza dan tuduhan mengenai penghancuran sistematis yang dilontarkan terhadap Israel.
Mencari Rumah yang Sudah Tak Ada
Seiring gambar tersebut tersebar, warga Gaza yang masih berada di wilayah itu maupun mereka yang kini tinggal jauh dari tanah kelahirannya mulai melakukan pencarian melalui layar ponsel dan komputer.
Mereka memasukkan koordinat rumah, sekolah, jalan, dan lapangan tempat mereka menghabiskan masa kecil.
Yang ditemukan sering kali bukan lagi bangunan yang mereka kenal.
Penulis asal Gaza, Tamer al-Nawaizi, membagikan dua gambar melalui platform X. Gambar pertama memperlihatkan rumah dan lingkungannya dalam peta, sedangkan gambar kedua menunjukkan kondisi kawasan tersebut setelah berubah menjadi reruntuhan.
“Gambar pertama menunjukkan rumah dan lingkungan saya di peta. Yang kedua diambil setelah kawasan itu berubah menjadi puing-puing,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa peta tersebut hanya memperlihatkan apa yang pernah ada di tempat itu, bukan keseluruhan yang terjadi setelahnya.
Untuk memperlihatkan kondisi di lapangan, al-Nawaizi juga membagikan video yang direkamnya sendiri dari dalam Gaza.
Menurut dia, gambar satelit saja tidak cukup untuk menggambarkan seluruh skala kehancuran.
Kisah serupa dibagikan Dr Muhammad Hamad. Ia memperlihatkan perbandingan kondisi Fakultas Sains dan Teknologi di Khan Yunis sebelum dan setelah perang melalui citra udara.
Dari gambar tersebut terlihat bagaimana kawasan yang sebelumnya dipenuhi aktivitas berubah menjadi reruntuhan.
“Saya Tidak Menemukan Apa Pun”
Abu Saleh, seorang dokter gigi asal Gaza, juga menceritakan pengalamannya ketika membuka Google Earth setelah mendengar adanya pembaruan citra.
Ia ingin melihat kembali Gaza, lingkungan tempat tinggalnya, jalan yang dikenalnya, serta rumah tempat ia tumbuh.
Namun, pencarian itu justru menghadirkan kenyataan yang sulit diterima.
Ia tidak menemukan atap, dinding, ataupun tanda yang menunjukkan bahwa sebuah rumah pernah berdiri di sana.
“Sekolah yang dulu dipenuhi tawa kami, kafe yang menyimpan cerita kami, dan gang-gang yang mengenal langkah kami semuanya berubah menjadi tanah,” tulisnya.
Baginya, kehancuran yang terlihat melalui citra udara bukan hanya soal hilangnya bangunan.
“Bagaimana kota sebesar Gaza, dengan sejarah dan kisahnya, bisa menghilang seperti itu dari permukaan bumi tanpa mengguncang hati nurani dunia?” tulisnya.
Ia menggambarkan Gaza bukan hanya sebagai kota yang hancur, tetapi sebagai ruang kehidupan yang seolah dihapus dari peta.
Aktivis lain, Tamer, juga membagikan gambar kawasan tempat tinggalnya.
“Ini rumah saya, lingkungan saya, dan kota saya. Tidak ada yang tersisa,” tulisnya. Ia menuduh Israel telah menghancurkan kawasan tersebut sepenuhnya dan mengatakan gambar Google kini memungkinkan publik melihat jejak kehancuran di Gaza.
Apa yang Tak Bisa Dilihat Satelit
Namun, bagi para penyintas, gambar dari udara tetap tidak mampu memperlihatkan keseluruhan tragedi.
Seorang warga Gaza yang selamat dari perang menulis bahwa ketika melihat reruntuhan rumah dari Google Earth, ia tidak hanya melihat bangunan yang rusak.
Ia melihat kehidupan yang pernah ada di dalamnya.
Ia membayangkan orang-orang yang tertimpa dinding dan atap rumah yang mereka bangun dan cat dengan tangan sendiri. Ia juga melihat benda-benda yang mungkin masih tertinggal di antara reruntuhan: mainan anak-anak, buku, tas sekolah, pensil warna, makanan yang belum sempat dihabiskan, selimut, hingga sepatu.
Ada pula bingkai foto keluarga dan barang-barang lama yang menyimpan sejarah keluarga.
Termasuk, menurutnya, kunci rumah lama di Jaffa atau Haifa.
Kesaksian-kesaksian tersebut menunjukkan batas dari apa yang dapat ditangkap oleh citra satelit. Dari udara, sebuah kawasan mungkin terlihat sebagai kumpulan bangunan yang runtuh. Namun, bagi orang yang pernah tinggal di sana, setiap bangunan memiliki cerita dan penghuni.
Gaza yang Berubah dari Udara dan Daratan
Pembaruan citra Google Earth memperlihatkan sebagian dari perubahan besar yang terjadi di Gaza. Namun, warga setempat menegaskan bahwa gambar dari udara hanya menunjukkan sebagian kecil dari kenyataan di lapangan.
Citra satelit tidak dapat menangkap seluruh detail kehancuran. Ia tidak memperlihatkan seluruh kehidupan yang hilang di balik reruntuhan, benda-benda pribadi yang tertimbun, maupun keluarga yang masih mencari anggota mereka.
Kawasan-kawasan yang dahulu memiliki rumah, sekolah, tempat ibadah, pertokoan, dan ruang publik telah berubah secara drastis.
Bagi warga Gaza yang membuka Google Earth untuk mencari rumahnya, peta itu akhirnya berubah menjadi semacam arsip kehilangan.
Mereka tidak lagi sekadar mencari sebuah alamat.
Mereka sedang mencari jejak kehidupan yang pernah mereka miliki.
Sumber: Media sosial










