GAZA — Hampir setahun berlalu sejak kesepakatan gencatan senjata ditandatangani dan pintu pembatas bantuan kemanusiaan kembali dibuka. Namun bagi rakyat Gaza, hidup tak lantas membaik. Ratusan ribu warga yang kehilangan tempat tinggal kini terjebak dalam krisis kemanusiaan berkepanjangan, terlunta-lunta di antara tenda-tenda yang kian lapuk, pusat pengungsian yang meluap, dan reruntuhan bangunan yang siap rubuh.

Harapan akan hidup bermartabat seolah makin menjauh. Tanpa atap yang memadai untuk melindungi diri dari sengatan terik musim panas lalu, kini ketakutan baru membayangi: ancaman banjir dan cuaca dingin yang menyengat seiring datangnya musim dingin.

Data dari Kantor Media Pemerintah di Gaza melukiskan skala krisis yang mengerikan. Dari sekitar 2,15 juta warga yang mengungsi (mencakup 510 ribu keluarga), lebih dari satu juta orang berdesakan di pusat-pusat pengungsian darurat.

Sementara 800 ribu jiwa lainnya terpaksa bertahan hidup di dalam tenda-tenda ala kadarnya yang sudah rusak dan tak layak huni.

Bantuan yang Tak Pernah Cukup

Direktur Jaringan Organisasi Masyarakat Sipil (PNGO) di Gaza, Mohammad Salha, membeberkan bahwa komitmen gencatan senjata untuk memasok ratusan truk bantuan setiap hari belum pernah benar-benar terwujud. Di lapangan, pasokan yang masuk hanya berkisar 180 hingga 220 truk per hari.

“Jumlah itu hanya menutup 25 sampai 30 persen dari kebutuhan riil masyarakat. Padahal, lebih dari 90 persen warga Gaza sangat membutuhkan perlengkapan tempat tinggal dan tenda baru,” ujar Salha.

Ia memaparkan bahwa lembaga kemanusiaan dan badan PBB terus menemui tembok tebal saat mencoba memasukan logistik tempat bernaung. Pemblokiran bantuan tenda ini membuat pengungsi tak punya pilihan selain menyambut musim dingin dengan tangan kosong.

Dari Tempat Singgah Sementara Jadi Hunian Abadi

Di sudut kota Gaza, tenda yang tadinya diniatkan sebagai penampungan darurat kini berubah menjadi tempat tinggal permanen yang menyiksa. Sebuah keluarga, keluarga Al-Obeid, terpaksa menjejaki kehidupan saban hari di dalam tenda sempit tanpa sekat, tempat mereka berbagi ruang untuk tidur, makan, dan beraktivitas tanpa ada sedikit pun privasi.

Salah seorang anggota keluarga menuturkan, tenda yang mereka tempati sejak awal gelombang pengungsian itu kini sudah menginjak usia hampir tiga tahun.

“Tenda ini tidak bisa lagi menahan dingin atau panas. Di sekeliling kami, kalajengking dan tikus berkeliaran di antara sisa makanan yang membusuk,” keluhnya.

Bagi mereka yang memilih kembali ke sisa-sisa bangunan rumah yang hancur, ancamannya tak kalah mengerikan. Beberapa keluarga nekat bertahan di bawah atap retak yang bisa rubuh kapan saja karena tak punya biaya untuk merenovasi atau mencari tempat lain.

Seorang warga mengaku tak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak di malam hari. “Setiap malam kami mendengar bunyi reruntuhan batu dan semen yang jatuh dari langit-langit. Saya terjaga sepanjang malam, mengawasi anak-anak karena takut tertimpa,” tuturnya.

Krisis Privasi dan Kesehatan Mental

Penyempitan ruang gerak kian memperkeruh situasi. Saat ini, tenda-tenda pengungsian berjejal hanya di sekitar 30 persen dari total wilayah Gaza. Sisa wilayah lainnya masih rawan menjadi sasaran tembak, membatasi pilihan warga yang terpaksa berpindah-pindah tempat (berkali-kali mengungsi).

Tenda-tenda itu kini meluber hingga ke garis pantai, trotoar jalan, bahkan berdiri tepat di samping saluran pembuangan limbah. Kondisi ini memicu krisis sanitasi dan kesehatan lingkungan yang masif.

Tak hanya merusak fisik, situasi ini menghancurkan kesehatan mental. Mohammad Salha mengungkapkan bahwa satu tenda sering kali diisi lebih dari enam orang, menggabungkan laki-laki, wanita, dan remaja tanpa batas yang jelas.

“Kami menerima banyak laporan soal hilangnya privasi total, yang berujung pada meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender di lokasi-lokasi pengungsian yang padat,” jelas Salha.

Kini, 11 bulan setelah gencatan senjata disepakati, ratusan ribu warga Gaza masih berjuang mencari tempat berlindung yang aman. Ketika bantuan yang datang hanya cukup untuk menutup kebutuhan darurat sesaat, tenda-tenda lapuk dan puing-puing bangunan terpaksa terus dijadikan “rumah”, sebuah monumen kelam dari krisis kemanusiaan yang tak kunjung menemukan titik terang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here