AL-QUDS — Menjelang maraknya perayaan Hari Raya Yahudi pada pertengahan September hingga awal Oktober ini, Kota Al-Quds yang diduduki mendadak “membeku” di bawah cengkeraman ketat aparat militer Penjajah Israel.

Kota Tua dan kompleks Masjid Al-Aqsa diubah menyerupai penjara raksasa demi memuluskan jalan bagi puluhan ribu pemukim Yahudi yang bersiap melakukan penyerbuan massal dalam dua pekan ke depan.

Kondisi lapangan kian mengkhawatirkan setelah militer Israel mengelar simulasi perang mendadak di Tepi Barat. Seluruh batalyon dan divisi dikerahkan untuk memeriksa kesiapannya menghadapi “skenario darurat” selama momentum Tahun Baru Ibrani (Rosh Hashanah), Hari Penebusan (Yom Kippur) pada 20 September, serta Festival Tabernakel (Sukkot) mulai 25 September mendatang.

Khatib Masjid Al-Aqsa, Syekh Ikrima Sabri, menegaskan, eskalasi ini bukan hanya rutinitas pengamanan hari raya. Otoritas Penjajah sengaja memanfaatkan kalender keagamaan untuk merekayasa konflik, menggerus kewenangan pengelolah masjid/Afaq Islam, dan secara bertahap merebut kontrol penuh Al-Aqsa demi proses Yahudisasi (Judaization).

“Penjajah Israel mengeksploitasi momen hari raya mereka untuk menyerobot Masjid Al-Aqsa. Kawasan ini sengaja dibuat terus menegang melalui serangkaian blokade,” ujar Syeikh Ekrima.

Dia menggambarkan Al-Quds saat ini berada di titik paling kritis di bawah rezim sayap kanan Israel, yang secara sistematis mengisolasi kiblat pertama umat Islam tersebut.

Syeikh Ikrima juga menyerukan kepada seluruh ulama, dai, dan umat Islam untuk tetap teguh (ribath) dan terus mendatangi Al-Aqsa meski harus menembus barikade militer. “Seorang Muslim tidak boleh putus asa. Kita harus tetap teguh mempertahankan agama, rumah, dan tanah air kita,” tegasnya.

Pembersihan Etnis dan Pengusiran Massal

Kekhawatiran Syeikh Ikrima bertaut langsung dengan kenyataan di lapangan. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, tercatat telah memimpin penyerbuan ke Al-Aqsa sebanyak 20 kali (terakhir pada 31 Agustus lalu) sembari menggelar ritual Talmudik secara terbuka di area timur kompleks masjid.

Bahkan, anggota Knesset Simcha Rothman telah menyuarakan desakan agar peniupan terompet ritual (Shofar) diizinkan secara resmi di dalam pelataran Al-Aqsa.

Untuk memuluskan langkah tersebut, mesin pemutus akses warga Palestina bekerja tanpa henti. Selama enam hari pertama September saja, Pemprov Al-Quds mencatat 15 keputusan pengusiran (deportasi) warga Muslim dari Al-Aqsa. Angka ini melonjak tajam dan menggenapkan total 800 vonis pengusiran sepanjang tahun ini.

Yousef Al-Rshaq (26), warga al-Quds asal Silwan, menjadi salah satu korbannya. Ia dijatuhi hukuman larangan mendekati Al-Aqsa selama enam bulan setelah dipanggil pemeriksaan pada 8 September. Padahal, rumah keluarganya hanya berjarak beberapa puluh meter dari masjid.

Derita Yousef tak berhenti di situ; sehari kemudian, pada 9 September, pemerintah Israel membuldoser rumah keluarganya di kawasan Al-Bustan hingga rata dengan tanah.

“Pengusiran saya dari Al-Aqsa dan pembongkaran rumah kami adalah bagian dari rencana besar untuk mengikis habis keberadaan warga Palestina di al-Quds,” ungkap Yousef.

Strategi Isolasi Bertahap

Peneliti dan akademisi Saher Ghazawi membeberkan bahwa strategi pendudukan menjelang hari raya beroperasi melalui pembatasan ruang yang berlapis. Mulai dari penutupan jalan, pemeriksaan identitas secara agresif, penahanan sewenang-wenang, hingga penghentian total kegiatan ekonomi warga lokal di Kota Tua.

“Semua tindakan ini bermuara pada satu tujuan: memutus Masjid Al-Aqsa secara bertahap dari lingkungan manusianya. Sebab, akses ke Al-Aqsa tidak dimulai dari gerbang masjid, melainkan dari kemampuan warga untuk masuk ke jantung kota Al-Quds,” terang Ghazawi.

Data resmi Pemprov Al-Quds mengonfirmasi bahwa sepanjang Agustus saja, sebanyak 5.009 pemukim Yahudi menyerbu Al-Aqsa dengan pengawalan ketat senjata api. Angka kumulatif per Agustus menembus 40.661 pemukim.

Kementerian Wakaf Palestina juga mencatat sedikitnya 26 kasus pelanggaran berat di dalam kompleks masjid sepanjang bulan lalu, termasuk pengangkutan kitab dan perlengkapan ritual ibadah Yahudi secara terang-terangan di depan Kubah Shakhrah.

Langkah-langkah ini memicu alarm bahaya bahwa pembagian area dan waktu (spatial and temporal division) di Al-Aqsa kini bukan lagi ancaman di atas kertas, melainkan kenyataan yang sedang dipaksakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here