PALESTINA 48- Sebuah film dokumenter garapan media ternama asal Inggris, The Guardian, mengungkap fakta kelam di balik perang di Jalur Gaza. Mengangkat kesaksian langsung dari sejumlah prajurit Israel, dokumenter ini membongkar keberadaan sistem rahasia yang dipakai militer Israel untuk melancarkan pembantaian massal terhadap warga sipil.

Berdasarkan pengakuan para serdadu yang terlibat dalam operasi pengawasan dan pembunuhan jarak jauh, militer Israel memanfaatkan teknologi canggih berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem ini bekerja memindai dan menandai ribuan orang yang dicurigai sebagai anggota tingkat bawah dari kelompok perlawanan Hamas.

Setelah target teridentifikasi, militer melancarkan serangan udara ke rumah-rumah mereka pada malam hari. Para prajurit mengakui, komando tetap melayangkan bom meski tahu betul bahwa jet tempur mereka juga bakal merenggut nyawa seluruh keluarga yang tengah tertidur di dalamnya.

Menyadap Percakapan Terakhir Keluarga

Melalui dokumenter bertajuk “NAZA” tersebut, para tentara Israel membeberkan penggunaan metode peretasan ponsel untuk melacak lokasi target secara presisi. Yang lebih menyayat hati, militer Israel sempat mendengarkan percakapan pribadi para target bersama istri dan anak-anak mereka, hanya beberapa saat sebelum bom dijatuhkan dan menyebabkan mereka semua syahid.

Dokumenter ini juga menyajikan kesaksian mata insan di lapangan mengenai penghancuran pemukiman warga secara masif, bahkan saat militer memperkirakan seperempat penduduknya masih berlindung di dalam rumah. Tak hanya itu, pembakaran rumah-rumah warga sipil secara sistematis hingga penembakan di lokasi pembagian bantuan pangan turut dibongkar.

Pernyataan mengejutkan lain datang dari prajurit yang bertugas di unit intelijen rahasia yang bertanggung jawab langsung kepada kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Salah seorang anggota unit menyatakan secara terbuka bahwa misi utama mereka sebenarnya adalah “mengagalkan proses perdamaian.”

Head of Investigations The Guardian sekaligus Eksekutif Produser film tersebut, Paul Lewis, menegaskan bahwa karya ini merupakan puncak dari penelusuran bertahun-tahun. Misi utamanya: mengungkap sekaligus memverifikasi sistem sistematis yang digunakan intelijen militer Israel di tanah Gaza.

Dampak Kemanusiaan yang Mengerikan

Laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan di Gaza mencatat, sejak dimulainya gelombang pembantaian pada Oktober 2023, jumlah korban tewas telah menembus angka 73.670 jiwa, sementara korban luka-luka mencapai 174.682 orang.

Kementerian juga menegaskan, ribuan korban diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan dan berserakan di jalanan. Tim medis serta Tim SAR Pertahanan Sipil hingga kini terus mengalami kendala besar untuk menjangkau mereka akibat gempuran yang belum mereda.

Selain menelan korban jiwa yang didominasi anak-anak dan perempuan, agresi Israel telah meratakan sekitar 90% infrastruktur sipil di Gaza. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menaksir biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali wilayah yang hancur ini mencapai 70 miliar dolar AS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here