RAMALLAH — Di antara gerombolan pemukim ilegal Yahudi yang mengacungkan senapan, pentungan, dan batang besi, Anas Abu Aliya menyadari dirinya berada dalam jebakan maut. Pemuda asal Desa Al-Mughayyir, utara Ramallah, itu tak punya jalan keluar untuk melarikan diri, apalagi bertarung sendirian. Ia pun menjadi sasaran amuk kekerasan yang nyaris merenggut nyawanya.

Kisah Anas adalah cermin dari keseharian warga Al-Mughayyir. Militer Israel dan kelompok pemukim secara berkala memblokir satu-satunya akses keluar-masuk desa, mengadang warga yang melintas, serta menyerang rumah dan area pertanian. Desa di wilayah Tepi Barat ini telah berubah menjadi panggung teror harian yang kian tak terkendali.

Dihujani Tembakan, Diseret, dan Dipukuli 15 Menit

Awal mula petaka terjadi saat Anas merespons panggilan darurat untuk menolong sebuah keluarga yang diserang pemukim di pintu masuk desa. Begitu tiba di lokasi untuk meredam serangan, kelompok pemukim justru langsung melepaskan tembakan peluru tajam.

Anas berusaha menyelamatkan diri dengan berlari masuk ke salah satu mobil yang melintas, berharap kendaraan itu membawanya menjauh dari kejaran. Namun, harapannya kandas.

Sekelompok pemukim bertopeng langsung mengadang mobil tersebut, memecahkan seluruh kaca, lalu menarik paksa Anas dan sang pengemudi.

“Jumlah mereka sekitar 7 atau 8 orang, semuanya bertopeng,” tutur Anas kepada Al Jazeera. “Mereka menolak saya dari mobil, menyeret saya ke jalanan, lalu menghantamkan pentungan dan batang besi ke kepala saya selama 15 menit. Saat saya berusaha menangkis dengan tangan, mereka mematahkan tangan saya.”

Anas sempat pingsan selama lima menit hingga para pemukim menghentikan pukulan. Namun, pendarahan hebat di kepala terus mengucur deras membasahi wajah dan matanya. Dalam kondisi lemah, ia mencoba merangkak dan berjalan tertatih menuju desanya.

Nahas, kelompok pemukim lain yang berjumlah 10 orang sudah menunggunya di titik tak jauh dari lokasi pertama dan kembali mengeroyoknya.

Di tengah keputusasaan, Anas melihat sebuah jip militer Israel terparkir di ujung jalan. Ia berlari mendekati jip tersebut dengan harapan mendapat perlindungan. Namun, para prajurit Israel yang berada di lokasi hanya bergeming menyaksikan penganiayaan itu.

Empat pemukim terus mengejarnya dan kembali menghajarnya hingga akhirnya sebuah mobil dari desa datang menerobos dan melarikannya ke pusat medis.

Dokter di klinik lokal berjuang keras menghentikan pendarahan sebelum akhirnya Anas dirujuk ke Rumah Sakit Ramallah untuk menjalani operasi darurat guna menyelamatkan nyawanya.

Mantan Menteri Turut Jadi Korban: “Tangan Mereka Gemetar”

Tragedi yang menimpa Anas bukan kasus tunggal. Mantan Menteri Negara sekaligus mantan Gubernur Bethlehem, Abdel Fattah Hamayel (76 tahun), mengalami rintangan serupa saat hendak mengunjungi lahan pertanian miliknya di antara Desa Abu Falah dan Al-Mughayyir.

Hamayel menuturkan, sebuah mobil pemukim mendadak memotong jalurnya. Delapan pemukim berusia muda keluar membawa pentungan, rantai besi, dan senjata tajam, lalu mulai melempar batu dan menghancurkan kaca mobilnya.

“Mereka menyerang dari segala arah. Wajah dan kepala saya dihantam. Hari itu, saya benar-benar melihat maut di depan mata,” ujar politikus senior Palestina tersebut.

Meski menjadi korban penganiayaan, Hamayel menyoroti kerapuhan emosional para pelaku yang menurutnya hanya berani bertindak karena memegang senjata dan dilindungi militer.

“Tangan mereka gemetar saat memukuli saya. Mereka adalah kelompok pengecut yang kehilangan nilai-nilai dasar kemanusiaan,” cetus Hamayel yang telah bergabung dengan perjuangan Palestina sejak usia 17 tahun.

Dengan nada getir, ia menambahkan, “Saya tidak pernah membayangkan dalam fase terburuk sekalipun hidup saya, kita akan sampai pada level kemunduran yang begitu memprihatinkan ini.”

Al-Mughayyir: Benteng Terakhir pertahanan Tanah Palestina

Hamayel menegaskan bahwa desa-desa yang dikepung pemukiman ilegal seperti Al-Mughayyir merupakan benteng pertahanan terakhir warga Palestina. “Jika Al-Mughayyir runtuh, maka tatanan pertahanan tanah kita ikut berakhir,” tegasnya.

Data dari Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman Palestina menunjukkan escalation yang masif. Pasukan Israel dan kelompok pemukim mencatatkan sedikitnya 2.256 serangan terhadap warga dan aset Palestina sepanjang bulan Juli saja.

Khusus di Desa Al-Mughayyir, sejak eskalasi perang pecah pada Oktober 2023, sebanyak 7 warga lokal tewas terbunuh dan lebih dari 400 orang lainnya ditangkap oleh otoritas Israel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here