REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV — Investigasi yang dirilis media Israel Haaretz membongkar keterlibatan milisi bersenjata (geng pengkhianat) di Jalur Gaza yang beroperasi di bawah naungan militer Israel dan lembaga intelijen Shin Bet.
Milisi-milisi tersebut dilaporkan melancarkan deretan kejahatan perang serta pelanggaran HAM berat terhadap warga sipil, mulai dari penembakan, pengusiran paksa, penjarahan harta benda, hingga pembakaran permukiman.
Laporan Haaretz mengonfirmasi keberadaan lima kelompok milisi bersenjata yang beroperasi aktif di enam lokasi berbeda di seluruh Gaza. Seluruh kelompok ini mengantongi sokongan dana dan pasokan logistik militer dari Tel Aviv.
Angkatan Bersenjata Israel (IDF) dan Shin Bet menjalin koordinasi erat serta memelihara relasi dengan milisi-milisi tersebut memanfaatkan sentimen penolakan mereka terhadap Hamas. Seorang perwira Angkatan Udara Israel mengungkapkan kepada Haaretz bahwa pemerintah, militer, dan Shin Bet secara sengaja mengerahkan milisi yang telah dilatih untuk mengeksekusi aksi-aksi kejahatan di lapangan.
Perwira tersebut menambahkan, Angkatan Udara bahkan menerima instruksi khusus untuk memberikan pengawalan udara demi memastikan keselamatan para anggota milisi saat menjalankan aksinya di pemukiman warga.
Koordinasi Tingkat Tinggi dan Taktik Pengusiran
Berdasarkan kesaksian para prajurit Israel, citra satelit, serta wawancara langsung dengan warga Gaza, investigasi tersebut menyimpulkan adanya “koordinasi tingkat tinggi” antara milisi lokal, militer Israel, dan Shin Bet.
Milisi bersenjata ini telah difungsikan sebagai perpanjangan tangan eksekutif bagi militer dan intelijen Israel di dalam wilayah Gaza.
Ironisnya, milisi ini tidak hanya dikerahkan untuk menyasar anggota Hamas, tetapi juga menyerang warga sipil Gaza yang berjuang bertahan hidup di tengah krisis. Pada tahap tertentu, milisi tersebut bekerja sama dengan IDF untuk mengusir warga dari rumah mereka secara paksa.
Penjarahan dan Pembakaran di Bawah Pengawasan Drone
Seorang perwira Angkatan Udara Israel membeberkan kesaksiannya saat memantau pergerakan salah satu kelompok milisi melalui kamera drone pengintai bersama seorang personel Shin Bet.
“Kami menyaksikan mereka datang mengendarai dua atau tiga truk pikap yang sangat mirip dengan armada milik Hamas. Mereka menyerbu keluar, melepaskan tembakan ke arah warga, menerobos setiap bangunan, dan menjarah apa pun yang bisa dijangkau. Setelah mengangkut tumpukan barang jarahan, mereka membakar rumah-rumah tersebut,” tutur perwira yang dirahasiakan identitasnya.
Kesaksian prajurit dan saksi mata mengonfirmasi bahwa para milisi bersenjata ini bebas lalu-lalang di dalam area pangkalan militer Israel yang tersebar di wilayah Gaza.
Jejak Milisi Yasser Abu Shabab
Salah satu faksi yang tercatat paling aktif beroperasi berada di Gaza selatan, khususnya kawasan Rafah, yakni kelompok yang dipimpin oleh Yasser Abu Shabab.
Pada Juli 2025, Abu Shabab sempat tampil dalam wawancara di saluran televisi resmi Israel dan mengakui secara terbuka bahwa ia memimpin kelompok bersenjata yang didukung oleh militer Israel. Pengakuan tersebut direspons kelompok perlawanan Palestina di Gaza dengan mengeluarkan seruan penindakan terhadapnya atas tuduhan pembelotan.
Kelompok Abu Shabab berkembang menjadi salah satu milisi lokal utama yang diandalkan Israel untuk menjalankan operasi pengamanan dan memburu anggota Hamas. Otoritas Penyiaran Israel (Kan) pada Februari lalu melaporkan bahwa anggota milisi ini diizinkan berpartisipasi dalam proses pemeriksaan warga Palestina di perlintasan batas Rafah.
Meski Abu Shabab dilaporkan tewas terbunuh di timur Rafah pada awal Desember 2025 (yang diduga akibat perselisihan internal) proyek pengerahan milisi ini tidak terhenti. Laporan Haaretz menyebutkan strategi pembentukan milisi lokal justru kian diekspansi oleh Tel Aviv, terutama sejak berlakunya kesepakatan penghentian tembakan pada Oktober 2025.
Seorang perwira senior militer Israel mengakui bahwa milisi-milisi tersebut tidak memiliki kapasitas militer untuk menggeser dominasi Hamas secara mandiri. Tanpa perlindungan udara dan pasokan logistik dari militer Israel, kelompok-kelompok milisi ini dipastikan tidak akan bertahan di lapangan.










