DEIR AL-BALAH — Jejak kehancuran akibat agresi di Jalur Gaza tak lagi sebatas meratakan pemukiman warga dan fasilitas publik. Gelombang gempuran juga terus menerjang sarana ibadah yang selama puluhan tahun menjadi simbol sejarah dan pusat kehidupan sosial masyarakat setempat.

Masjid bersejarah “Abu Salim” di Kota Deir Al-Balah menjadi rumah ibadah terbaru yang rata dengan tanah setelah dihantam serangan udara militer Israel.

Didirikan pada 1951 oleh Al-Haj Muhammad Abu Salim, masjid ini merupakan salah satu sarana ibadah tertua di kawasan tengah Gaza. Selama lebih dari tujuh dekade, Masjid Abu Salim berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan, tempat menghafal Alquran, hingga ruang silaturahmi yang merekam jejak kehidupan antargenerasi di Deir Al-Balah.

Hancurnya bangunan bersejarah ini menorehkan luka mendalam bagi warga lokal. Tragedi ini memperpanjang deretan ratusan masjid dan mushala di Gaza yang mengalami nasib serupa—rusak berat, hancur total, atau terbengkalai tanpa penanganan.

Fasilitas Publik dan Sarana Air Bersih Turut Dihantam

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama di Gaza mengonfirmasi bahwa pengeboman Masjid Abu Salim terjadi bersamaan dengan serangan ke mushala Masjid Asqalan di Kamp Al-Shati, Gaza utara. Serangan tersebut meratakan bangunan mushala sekaligus merusak parah area masjid bersejarah di sekitarnya.

Kementerian juga mencatat fasilitas publik lain tak luput dari sasaran. Depot instalasi penyulingan air bersih dan Pasar As-Salam milik Komite Zakat Sheikh Radwan hancur total akibat bom. Sementara itu, mushala Masjid Ar-Radwan di sebelah barat Kota Gaza dilaporkan mengalami kerusakan parsial.

Otoritas keagamaan Gaza mengecam keras pemboman rumah ibadah dan fasilitas umum ini sebagai kejahatan yang merusak tatanan hidup bermasyarakat. Mereka menegaskan otoritas pendudukan bertanggung jawab penuh atas kehancuran tersebut, seraya mendesak lembaga hukum internasional untuk segera menyeret para pelaku ke meja hijau.

Data resmi Kementerian Wakaf mengungkap angka yang mencemaskan: sebanyak 1.244 masjid dari total 1.275 masjid di Jalur Gaza telah menjadi sasaran serangan. Dari jumlah tersebut, 1.077 masjid di antaranya hancur total.

Beribadah di Bawah Tenda dan Kayu Seadanya

Kehancuran fisik masjid berdampak langsung pada kelangsungan ibadah harian warga Gaza. Hilangnya tempat ibadah yang layak memaksa masyarakat mendirikan sarana darurat di tengah serba keterbatasan.

Direktur Jenderal Kementerian Wakaf Gaza, Amir Abu Al-Amrein, menegaskan bahwa serangan menyasar seluruh infrastruktur keagamaan, mulai dari bangunan masjid, mushala, hingga area pemakaman. Ia mendesak adanya intervensi internasional yang nyata untuk melindungi situs-situs keagamaan yang tersisa.

Menurut Abu Al-Amrein, dari ribuan rumah ibadah yang ada sebelum perang, kini hanya tersisa 224 masjid yang masih berdiri utuh. Untuk menampung jemaah, warga mendirikan 428 mushala sementara, sehingga total titik peribadatan yang bisa digunakan saat ini mencapai 652 lokasi.

Kementerian Wakaf terus berupaya membenahi 65 bangunan masjid yang tersisa menggunakan bahan seadanya seperti kayu dan terpal. Meski begitu, sedikitnya 142 lokasi masjid lainnya masih terbengkalai dan membutuhkan perbaikan mendesak.

Kebutuhan Desakan di Lokasi Pengungsian

Seiring bertambahnya jumlah pengungsi di wilayah selatan dan tengah Gaza, kebutuhan akan tempat ibadah sementara makin mendesak. Kepadatan penduduk di tenda-tenda pengungsian membuat mushala darurat menjadi tumpuan utama jemaah.

Abu Al-Amrein menjelaskan bahwa Gaza saat ini membutuhkan sedikitnya 100 mushala darurat baru. Di sisi lain, sekitar 70 hingga 80 mushala sementara yang sudah ada justru mengalami kerusakan akibat gempuran susulan maupun terpaan cuaca ekstrem.

Pihak kementerian terus berupaya memperluas kapasitas mushala darurat yang ada agar mampu menampung lebih banyak jemaah. Namun, keterbatasan logistik di lapangan membuat upaya ini belum sebanding dengan melonjaknya kebutuhan warga.

Selain bangunan fisik, masyarakat di lokasi pengungsian juga mengalami krisis mushaf Alquran, perlengkapan kebersihan, hingga dukungan logistik bagi para pengurus masjid dan tenaga keagamaan.

Merawat Memori di Atas Puing

Robohnya Masjid Abu Salim bukan sekadar hilangnya dinding dan kubah beton, melainkan hilangnya memori sejarah yang menopang kehidupan warga Deir Al-Balah selama hampir tiga seperempat abad.

Di tengah puing-puing yang tersisa, rekonstruksi tempat ibadah dipastikan menjadi salah satu agenda pemulihan terberat di Gaza ke depan, bersanding dengan pembangun kembali perumahan, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur umum.

Namun sebelum melangkah ke tahap rekonstruksi, tantangan terdekat adalah menyelamatkan sarana ibadah yang tersisa. Saat ini, jutaan warga Gaza harus terus menjalankan ibadah harian di balik dinding kayu dan naungan terpal, menjadi bukti daya tahan di tengah hancurnya situs-situs bersejarah mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here