RAMALLAH — Aksi kekerasan dan intimidasi oleh kelompok pemukim ilegal Israel di Tepi Barat yang diduduki kian mengganas. Kendati militer Israel telah berulang kali menetapkan sejumlah wilayah sebagai zona militer tertutup, tindak perusakan dan serangan fisik terhadap warga lokal nyaris tak pernah benar-benar terhenti.

Kondisi mencekam ini salah satunya melanda Desa Taybeh, wilayah berpopulasi mayoritas Kristen yang kini berada di bawah ancaman pengepungan. Bagi warga setempat, rentetan serangan yang terjadi hampir setiap hari bukan lagi sekadar gangguan keamanan, melainkan ancaman nyata yang memicu ketakutan akan lahirnya gelombang pengungsian baru.

Sebuah laporan jurnalistik dari The Telegraph mengungkap bagaimana kelompok pemukim biasanya melancarkan aksi teror saat matahari mulai terbenam. Berbekal kendaraan, tongkat, dan batu, mereka menyisir permukiman, memecahkan kaca rumah, menyulut api, hingga menganiaya warga.

Jurnalis The Telegraph, Henry Bodkin, menyaksikan langsung bagaimana satu keluarga Badui di dekat Taybeh, sebelah timur Ramallah, dikepung selama lebih dari satu jam. Padahal, area tersebut berada di bawah perintah militer yang melarang pihak luar masuk.

Dalam insiden lain, kelompok pemukim berusaha menembus kediaman Nayef Al-Ka’abneh. Beruntung, pagar kawat berduri yang baru dipasang berhasil menahan laju para penyerang, meski mereka terus melempari rumah tersebut dengan batu.

Tekanan terhadap warga Taybeh kian terasa berat lantaran pos-pos pemukiman ilegal terus bermunculan dan melingkari desa tersebut.

Pengepungan Tak Hanya di Taybeh

Pola kekerasan serupa juga merambat ke desa-desa sekitarnya, salah satunya Qusra. Di wilayah ini, kelompok pemukim mengepung sejumlah rumah warga, memblokir akses jalan, serta memutus aliran listrik dan air. Sebanyak 15 warga, termasuk anak-anak, terjebak di dalam rumah dalam kondisi terisolasi.

Meski militer Israel menerjunkan pasukan tambahan dan mengisolasi Qusra sebagai zona militer tertutup, pergerakan para pemukim tak sepenuhnya terbendung. Akses bagi awak media untuk menemui warga yang terkepung pun ditutup rapat.

Di saat bersamaan, sejumlah rekaman video justru memperlihatkan aparat militer berdiri berdampingan dengan para pemukim, bahkan beribadah bersama di lokasi kejadian.

Pendiri organisasi hak asasi manusia sekaligus rabi asal Israel, Arik Ascherman, menilai fenomena ini mengindikasikan pergeseran situasi yang sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, aksi kekerasan tersebut tidak lagi berjalan sendiri, melainkan mendapat dukungan secara terselubung guna menguasai lahan dan mengusir warga Palestina dari tanah kelahiran mereka.

Bayang-bayang Pengungsian dan Krisis Ekonomi

Catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa sejak 2023, sedikitnya 38 komunitas warga Palestina di Tepi Barat telah kosong ditinggalkan penghuninya. Pada paruh pertama tahun ini saja, ribuan warga terpaksa mengungsi akibat kombinasi serangan pemukim dan pembongkaran paksa oleh otoritas terkait.

Di Taybeh, dampaknya tidak hanya merusak keamanan warga, tetapi juga melumpuhkan roda perekonomian. Blokade jalan dan keberadaan pos pemeriksaan membuat aktivitas perdagangan terhenti total. Sejumlah agenda lokal terpaksa dibatalkan karena pertimbangan keselamatan.

Pastor Pastor Jacques Noble Abed, pimpinan Gereja Katolik di Taybeh, memperingatkan bahwa jika aksi kekerasan ini terus dibiarkan tanpa penegakan hukum yang adil, situasi dapat berujung pada ledakan perlawanan atau “Intifada Ketiga”.

Dia mengimbau para pemuda setempat untuk tetap menahan diri agar tidak terjebak dalam eskalasi yang lebih meluas.

Eskalasi yang terus meningkat ini menempatkan warga Tepi Barat dalam posisi yang makin rentan. Di tengah minimnya perlindungan hukum bagi warga lokal dan dinamika politik internal Israel yang kian memanas menjelang pemilu, ancaman pengusiran dan kekerasan sistematis masih menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi warga Palestina setiap hari.

(Sumber: The Telegraph)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here