GAZA — “Bukan pelukan hangat anak-anaknya yang menyambut, melainkan deretan lembaran surat kematian mereka.” Ungkapan lugas ini menyiratkan kepedihan mendalam yang tak sanggup disembunyikan oleh Ummu Muhannad Al-Siqali saat kembali bertemu dengan suaminya, Ahmad.

Enam anak mereka syahid akibat gempuran udara Israel. Serangan itu meratakan bangunan kediaman mereka di Jalur Gaza.

Kisah Ahmad (Abu Muhannad) bermula jauh sebelum meletusnya peristiwa 7 Oktober 2023. Saat itu, ia mengantongi izin kerja di dalam Garis Hijau (wilayah Palestina 48 yang dijajah Israel), sebagaimana ribuan buruh asal Gaza lainnya yang berjuang menafkahi keluarga dan memperbaiki taraf hidup.

Begitu pembantaian pecah, pintu pulang ke Gaza tertutup rapat. Ahmad terisolasi dan terpaksa berpindah dari tempat kerjanya di wilayah Palestina 48 menuju Kota Qalqilya di utara Tepi Barat. Sepanjang masa pengasingan itu, sambungan telepon menjadi satu-satunya penyambung asa antara Ahmad dan keluarganya yang menetap di Distrik Al-Shujaiya, timur Kota Gaza.

Dua Bulan Tertimbun Reruntuhan

Ahmad menuturkan kepada Al Jazeera bahwa komunikasi dengan istri dan anak-anaknya tak pernah putus. Namun, ketika gempuran di Al-Shujaiya makin membabi buta, keluarganya terpaksa mengungsi ke pusat Kota Gaza.

Di sanalah, pada awal Desember 2023, rumah penampungan mereka dihantam bom. Sebanyak 120 warga gugur seketika, termasuk enam anak Ahmad, empat laki-laki dan dua perempuan. Hanya lima orang yang selamat dari tragedi itu, di antaranya sang istri dan putri sulung mereka.

Kabar duka itu menghantam Ahmad bagai petir di siang bolong. Namun, ia hanya bisa bersabar dan memasrahkan diri dalam keterbatasan. Di Gaza, jenazah anak-anaknya baru berhasil dievakuasi setelah dua bulan tertimbun reruntuhan, lalu dimakamkan ala kadarnya di halaman rumah yang hancur tersebut.

Baru dua tahun berselang, jasad mereka dipindahkan untuk dimakamkan secara layak di Pemakaman Al-Maamdani.

Mengenang momen-momen terakhir bersama buah hatinya, Ahmad tak henti menatap foto-foto anak-anaknya di layar ponsel, berselingan dengan lembaran sertifikat kematian mereka. Ia mengingat kembali pesan terakhir kepada istrinya sebelum mengungsi: menuliskan nama anak-anak mereka di lengan masing-masing agar mudah dikenali jika hal buruk terjadi.

Kurang dari dua pekan lalu, Ahmad akhirnya berhasil kembali ke Jalur Gaza. Sebelumnya, ia sempat ditangkap oleh tentara pendudukan Israel dari kediamannya di Qalqilya. Meski militer mengetahui statusnya hanyalah seorang pekerja buruh, Ahmad tetap dipulangkan ke Gaza setelah menjalani masa penahanan dan penyiksaan yang berat.

“Titipan Itu Telah Pergi”

Setibanya di Gaza, saudara dan kerabat menyambutnya di Rumah Sakit Nasser. Namun, sang istri, Ummu Muhannad, menyambutnya dengan tangan menggenggam enam lembar surat kematian anak-anak mereka.

Dia mengaku melangkah ragu, maju-mundur, sebelum akhirnya memberanikan diri menemui suaminya karena titipan buah hati yang diamanahkan kepadanya telah pergi untuk selamanya.

“Perasaannya sangat berat dan tak tertuliskan dengan kata-kata. Bagaimana mungkin aku menemuinya tanpa anak-anak di sampingku? Hingga detik ini, aku masih tak sanggup membayangkan bagaimana mereka gugur,” tutur Ummu Muhannad dari dalam tenda pengungsiannya di Khan Younis.

Wanita yang berduka itu sempat terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya dengan tersisa sedikit harapan. Ia bermimpi putri sulungnya (satu-satunya anak yang tersisa) bisa kembali menempuh pendidikan.

“Dialah satu-satunya yang tersisa denganku. Dulu ia selalu mendapat peringkat teratas di sekolah, tetapi prestasinya sempat merosot karena trauma berat kehilangan seluruh saudaranya sekaligus. Aku ingin membantunya melupakan tragedi ini lewat pendidikan, karena hanya pendidikan yang bisa menjadi bekal masa depannya,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here