RAMALLAH — Keputusan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memasukkan Desa Sebastiya di Tepi Barat yang diduduki ke dalam Daftar Warisan Dunia memicu respons luas. Pejabat Palestina menyambut hangat penetapan ini dengan harapan dapat menghadang upaya Israel mencaplok kawasan bersejarah tersebut. Sebaliknya, pihak Israel merespons sinis dan menuding keputusan itu bermuatan politik.

Situs bersejarah Sebastiya resmi masuk dalam Daftar Warisan Dunia sekaligus Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya (World Heritage in Danger). Mekanisme ini dirancang untuk memberikan perlindungan darurat bagi situs-situs bernilai sejarah tinggi yang menghadapi ancaman kepunahan atau pengerusakan serius.

“Kami berharap keputusan ini memungkinan kami untuk terus menjaga dan melestarikan Sebastiya,” ujar Wakil Wali Kota Sebastiya, Nizar Kayed.

Kayed menegaskan bahwa penetapan UNESCO ini membentengi Sebastiya pascamunculnya keputusan penyitaan oleh otoritas pendudukan Israel. Rencana penyitaan itu tidak hanya merusak tatanan peradaban dan sejarah kawasan, tetapi juga mematikan mata pencaharian warga lokal serta menjadi bagian dari proyek perluasan pemukiman ilegal.

Situs Sebastiya dikelilingi rindangnya kebun zaitun yang membingkai pilar-pilar Romawi, dinding batu kuno, tangga bersejarah, hingga amfiteater antik.

Bagi warga desa di sekitarnya, yang mayoritas menggantungkan hidup dari sektor pariwisata, keberadaan situs ini adalah napas ekonomi. Namun, mereka kini terancam kehilangan tanah setelah otoritas Israel mengumumkan rencana penyitaan lahan seluas 445 acre (sekitar 180 hektare) dengan klaim demi “pengembangan kawasan”.

Kekhawatiran pejabat Palestina kian memuncak menyusul draf rancangan undang-undang baru di parlemen Israel yang bertujuan memperluas kendali penuh atas situs-situs arkeologi di Tepi Barat.

Jika disahkan, aturan ini secara praktis memangkas wewenang Otoritas Palestina (yang memiliki hak pemerintahan mandiri terbatas berdasarkan Perjanjian Damai Oslo 1993) atas peninggalan sejarah di wilayah yang diduduki Israel sejak Perang 1967.

Jejak Tiga Milenium Peradaban

Sebastiya merupakan salah satu situs arkeologi paling krusial di Palestina dengan akar sejarah membentang lebih dari 3.000 tahun.

Kota kuno ini mencapai puncak kejayaannya pada era Romawi ketika Raja Herodes Agung membangun kembali dan memperluas kawasan ini secara megah. Herodes menamai kota ini Sebaste sebagai bentuk penghormatan kepada Kaisar Augustus. Kota ini berkembang menjadi metropolis Romawi klasik yang dilengkapi kuil, stadion, serta jalan berderet ratusan pilar granit.

Situs ini juga menyimpan peninggalan dari era Hellenistik dan Bizantium, serta dipandang sebagai kawasan suci bagi umat Kristiani dan Muslim karena keberadaan makam Nabi Yahya (Yohanes Pembaptis).

Berbagai artefak yang ditemukan di Sebastiya (seperti tembok kota kuno, istana kerajaan, koleksi ukiran gading yang tersohor, hingga struktur megah Romawi) menjadi saksi bisu lintasan berbagai peradaban, mulai dari Kanaan, Asyur, Persia, Yunani, Romawi, Bizantium, Islam, hingga era Tentara Salib dan Utsmaniyah.

Ancaman Pemusnahan Identitas Sejarah

Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Palestina, Hani Al-Hayek, menyatakan bahwa Komite Warisan Dunia mengadopsi berkas pendaftaran Palestina melalui prosedur darurat. Penetapan ini merujuk pada Kriteria III Konvensi Warisan Dunia, yang mengakui Sebastiya sebagai bukti unik dari kesinambungan peradaban sejak Zaman Besi hingga era modern.

“Komite menggarisbawahi bahwa Sebastiya memiliki keunggulan berupa lapisan arkeologi yang padat dan urutan sejarah yang jelas. Ini mencerminkan evolusi pusat perkotaan, politik, dan keagamaan selama lebih dari dua milenium, yang memberikannya nilai universal luar biasa (Outstanding Universal Value),” terang Al-Hayek.

Penetapan status “Terancam Bahaya” diambil akibat ancaman nyata dari kebijakan pendudukan Israel, termasuk rencana penyitaan lahan, upaya pengubahan karakter sejarah dan kebudayaan situs, serta pembatasan atas akses perlindungan dan konservasi.

Al-Hayek menambahkan, Kementerian Pariwisata Palestina bersama mitra lokal dan internasional akan segera mengeksekusi rekomendasi UNESCO, termasuk memperbarui rencana manajemen situs serta memperketat pemantauan demi menjaga kelestarian Sebastiya bagi generasi mendatang.

Masuknya Sebastiya memperpanjang daftar situs Palestina yang diakui dunia di bawah naungan UNESCO, sekaligus menegaskan bahwa warisan budaya Palestina merupakan bagian tak terpisahkan dari peradaban manusia.

Pemerintah Palestina menegaskan, situs-situs bersejarah di Tepi Barat terus berada di bawah bayang-bayang ancaman Israel yang mencoba mengubah realitas lapangan dan menguasai peninggalan sejarah secara sepihak.

Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari Al Jazeera dan UNESCO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here