NABLUS — “Wahai warga desa, wahai warga Burqa! Para pemukim menyerang dan menembaki kami, cepat kemari, jangan bersembunyi!”

Pekikan itu bukan sekadar naskah panggilan darurat biasa. Seruan emosional tersebut dilontarkan oleh Naila Sulaiman, seorang perempuan Palestina, saat menyaksikan kelompok pemukim Yahudi radikal mengepung dan mengamuk di kediaman putranya.

Pesan tersebut menggambarkan skala ancaman mematikan yang kian mengintai warga Desa Burqa, sebelah barat laut Kota Nablus, akibat teror pemukim yang kian ganas.

Saat rombongan pemukim mendekati rumah dan mencoba menerobos untuk menyerang menantu serta cucu-cucunya, Naila bergegas merekam pesan suara melalui ponselnya. Rekaman tersebut menyebar kilat melalui grup-grup WhatsApp warga desa, memicu gelombang pemuda Burqa berlari menuju lokasi untuk menyelamatkan keluarga tersebut dari aksi main hakim sendiri.

Bersenjata dan Sangat Anarkis

Naila menuturkan bahwa rumah keluarganya terletak di area Ras Al-Mahlal—kawasan yang berdekatan dengan pemukiman Homesh dan pos-pos liar yang baru saja mekar di sekitarnya, khususnya pos Bayazid.

Terisolasi dan cukup jauh dari pusat pemukiman utama desa, rumah mereka menjadi sasaran empuk serangan terencana para pemukim ekstremis.

Mengenang detik-detik mencekam tersebut, Naila menceritakan bagaimana sekelompok pemukim yang dipersenjatai senapan api dan senjata tajam (pisau) secara mendadak menggeruduk rumahnya. Saat itu, menantu dan cucu-cucunya berada di dalam rumah dalam keadaan menangis histeris ketakutan, sementara putranya sedang bekerja jauh di luar desa.

“Saya berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan warga desa. Saya ulangi panggilan itu berulang kali sampai akhirnya para pemuda desa tiba satu jam kemudian untuk menghadang para pemukim yang makin beringas melancarkan teror,” kenang Naila.

Rasa aman kini menguap dari hidup Naila. Baik siang maupun malam, ia tak berani memejamkan mata dan memilih berjaga di balik pintu serta jendela, menyadari kediamannya kini dikepung oleh pos-pos militer dan pemukiman Yahudi dari segala penjuru.

Menolak Mengalah pada Pengusiran

Rasa cemas sejatinya telah membayangi keluarga ini sejak pertama kali menempati rumah tersebut 10 tahun lalu. Namun, tingkat kekerasan dan intensitas intimidasi melonjak tajam dalam dua setengah tahun terakhir.

Di tengah gempuran teror yang tak kenal ampun, Naila bersikeras menolak angkat kaki walau hanya satu langkah dari rumahnya. Bahkan jika seluruh pemukim dan tentara Israel datang mengepung secara bersamaan, tekadnya tak tergoyahkan.

“Jangan harap kami akan pergi melarikan diri! Meski serangan brutal kembali terjadi dua hari lalu, mereka tidak akan pernah bisa mematahkan keteguhan tekad (sumud) kami,” tegas Naila.

Aksi kekerasan ini bukanlah insiden tunggal bagi warga Burqa. Kelompok pemukim radikal yang dibackup oleh tentara pendudukan Israel terus mengintai berbagai sudut desa. Tekanan terberat saat ini dialami kawasan Al-Mas’udiyya, di mana otoritas pendudukan berusaha mengusir sekitar 80 jiwa penduduk asli dari tanah kelahirannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here