HEBRON — Puluhan pemukim Yahudi bersenjata menyerbu Desa At-Tuwani di selatan Hebron (Al-Khalil), Ahad (19/7/2026). Selain membakar pintu masuk Masjid At-Taqwa, massa yang bergerak anarkis tersebut mencoba membakar rumah-rumah warga beserta penghuninya yang sedang tertidur lelap.

Laporan langsung koresponden Al Jazeera Mubasher dari lokasi kejadian memperlihatkan jejak kehancuran yang menyayat hati: pintu utama Masjid At-Taqwa hangus terbakar, kaca-kaca jendela hancur berkeping-keping, dan coretan slogan rasis membanjiri dinding tempat ibadah tersebut. Selain fasilitas masjid, aksi teror ini membakar sejumlah mobil, rumah tinggal, serta sebuah fasilitas pengolahan susu warga.

Salah seorang warga lokal, Muhammad Al-Huraini, menuturkan bahwa sekitar 30 hingga 50 pemukim radikal melancarkan penyerangan mendadak dari arah pos pemukiman liar Havat Ma’on, salah satu basis pemukim paling ekstremis di kawasan Masafer Yatta.

“Mereka mengepung masjid setelah tengah malam, memecahkan kaca jendela, dan melempar bahan kimia yang mudah terbakar. Beruntung, warga yang terbangun segera berlari memadamkan api sebelum kobaran membesar dan merambat ke dalam ruang utama salat,” kata Al-Huraini.

Percobaan Pembunuhan Keluarga dan Anak-Anak

Gagal meratakan masjid dengan tanah, massa pemukim berbelok menyerang rumah-rumah warga di sekitarnya. Rumah keluarga Al-Huraini menjadi salah satu sasaran paling brutal.

Para penyerang memecahkan pintu dan jendela, lalu menyiramkan cairan mudah terbakar ke dalam kamar-kamar saat seluruh anggota keluarga (termasuk anak-anak) sedang tertidur lelap. Mereka juga menyiram mobil keluarga dengan bahan bakar sebelum menyulutnya hingga terbakar habis.

Seorang balita nyaris tewas terpanggang. Anak tersebut terbangun tepat saat seorang pemukim menyiramkan bahan bakar melalui jendela kamarnya. Balita itu berhasil berlari menyelamatkan diri beberapa detik sebelum lidah api melahap ruangan tersebut. Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi warga sekitar untuk menjinakkan kobaran api di dalam rumah.

“Di dinding masjid dan rumah-rumah kami, mereka mencoretkan kata-kata bahasa Ibrani yang bermakna ‘Pembalasan’ dan ‘Tahanan Rumah.’ Aksi ini jelas bertujuan menyebar teror psikologis agar kami takut dan memilih angkat kaki meninggalkan tanah kelahiran kami,” tegas Al-Huraini.

Tak berhenti di situ, massa penyerang merusak satu-satunya pabrik pengolahan susu lokal yang menjadi tumpuan ekonomi para perempuan di kawasan Masafer Yatta. Alat-alat produksi dihancurkan dan seluruh stok olahan susu yang siap edar dibakar hingga rusak total.

Eskalasi Tanpa Henti di Tepi Barat

Desa At-Tuwani memang menjadi salah satu sasaran empuk teror pemukim karena letaknya yang strategis dan mayoritas bangunannya terancam penggusuran oleh otoritas Israel dengan dalih “tanpa izin” di Area C (wilayah di bawah kontrol penuh militer Israel berdasarkan Perjanjian Oslo).

Sejak agresi militer meluas di Gaza pada Oktober 2023, eskalasi kekerasan oleh tentara dan pemukim Yahudi di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, kian tak terkendali.

Data resmi lembaga kemanusiaan Palestina mencatat, rangkaian serangan sistematis di Tepi Barat telah merenggut nyawa 1.181 warga Palestina, melukai sekitar 13.000 orang, dan menyebabkan lebih dari 24.000 warga ditangkap oleh aparat pendudukan. Aksi anarkis yang dialami warga At-Tuwani ini makin mempertegas bahwa tidak ada lagi tempat aman bagi warga Palestina, bahkan di dalam rumah mereka sendiri saat terlelap di malam hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here