GAZA — Blokade total dan hancurnya infrastruktur tak membuat warga Palestina di Gaza kehilangan akal. Di tengah ketiadaan pasokan listrik dan minimnya perangkat energi, para pengungsi di dalam tenda-tenda darurat kini terpaksa memutar otak. Mereka melahirkan berbagai inovasi sederhana demi mendinginkan air dan mengawetkan makanan di tengah sengatan suhu musim panas yang membakar.
Sebuah laporan dalam segmen “Voices from Gaza” di saluran Al Jazeera menangkap salah satu potret perjuangan ini. Seorang ayah bersama istrinya berinisiatif membangun sebuah proyek mandiri skala kecil demi menyambung hidup. Modalnya adalah sebuah sirkuit listrik rakitan yang memanfaatkan energi alternatif.
Ia nekat memasang selembar panel surya di atas atap tendanya. Pasokan daya yang terbilang minim itu disalurkan ke sebuah kulkas rumahan miliknya, sekadar agar mesin itu mampu mendinginkan air dan beberapa botol minuman.
Melalui proyek mandiri ini, sang ayah mencoba mencari nafkah. Ia menyewakan beberapa rak kulkasnya kepada sesama pengungsi untuk menyimpan barang, atau menjual air dingin kemasan. Setiap hari, ia dan istrinya membungkus air secara manual ke dalam plastik. Kapasitasnya terbatas, paling banyak hanya mampu memproduksi sekitar 50 kantong air dingin per hari.
Meski begitu, ruang geraknya terbatas. Sang ayah mengeluhkan minimnya peralatan yang membuat dirinya tak mampu melayani seluruh permintaan warga yang ingin menitipkan makanan. Sistem kelistrikan yang ia rakit masih sangat primitif dan membutuhkan komponen tambahan jika ingin dikembangkan menjadi layanan komunal yang lebih luas.
Impian Sederhana Seteguk Air Dingin
Di sudut lain perkemahan, seorang ibu menceritakan getirnya realitas di dalam tenda. Kulkas rumah yang dahulu selalu penuh dengan makanan segar dan air bersih, kini telah beralih fungsi. Akibat pemadaman listrik total, alat elektronik itu kini tak lebih dari sekadar “lemari kayu” tempat menyimpan makanan kaleng agar terhindar dari jarahan tikus atau pembusukan. Fungsi pendinginnya telah mati total.
Dengan nada getir, perempuan tersebut berujar bahwa segelas air dingin atau sebotol air es kini telah berubah menjadi “impian terbesar dalam hidupnya” di tengah hawa panas yang mengepung tenda mereka.
Kebutuhan yang teramat mendesak akan air dingin ini akhirnya menciptakan roda ekonomi baru di dalam barak-barak pengungsian. Anak-anak dan pemuda Gaza kini berburu kantong-kantong jus dan air es dari para pemilik panel surya untuk kemudian mereka jajakan kembali.
Anak-anak kecil ini berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit di antara tenda. Mereka menjual setiap kantong air dingin seharga satu syikal saja (sekitar 33 sen dolar AS). Bagi para pengungsi, ini adalah penolong instan untuk sekadar membasahi tenggorokan dan bertahan di bawah cuaca ekstrem.
Karena solusi modern ini sangat terbatas dan mahal, sebagian besar warga Gaza akhirnya memilih “pulang” ke masa lalu.
Perdagangan gerabah dan kendi dari tanah liat kini marak kembali di pasar-pasar Gaza. Warga berbondong-bondong membeli kendi tradisional ini untuk menyaring sekaligus mendinginkan air secara alami. Ketika teknologi modern dipadamkan oleh perang, alat-alat warisan leluhur inilah yang menjadi benteng terakhir mereka melawan sengatan cuaca.
Krisis kemanusiaan ini berjalan beriringan dengan situasi keamanan yang terus memburuk. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza menunjukkan bahwa pelanggaran Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata hingga Rabu malam saja telah merenggut nyewaa 1.123 warga Palestina dan melukai 3.616 lainnya.
Jika ditarik sejak awal agresi pada 8 Oktober 2023, mesin perang Israel telah menewaskan lebih dari 73 ribu warga Palestina dan melukai lebih dari 173 ribu orang. Angka-angka ini diperparah dengan kehancuran masif yang melumat hingga 90 persen infrastruktur sipil di seluruh Jalur Gaza, memaksa jutaan manusianya hidup dalam kondisi prasejarah di abad modern.









