GAZA — Gelombang desakan internasional untuk mengungkap kondisi kesehatan Dr. Hossam Abu Safiya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di utara Jalur Gaza, terus menguat. Hingga kini, otoritas Israel tetap bergeming dan membantah laporan yang menyebutkan bahwa nyawa dokter tersebut tengah terancam di dalam tahanan.
Organisasi Physicians for Human Rights in Israel (PHRI) melalui pernyataan resminya di platform X pada 8 Juli 2026 mengungkapkan kejanggalan besar. Mereka menilai respons pemerintah Israel kepada Mahkamah Agung (terkait gugatan pembebasan 14 dokter Gaza) justru menimbulkan kecurigaan serius mengenai kondisi riil Dr. Abu Safiya.
PHRI menyoroti klaim Israel yang mengaku telah memeriksa Dr. Abu Safiya beberapa kali. Klaim tersebut dinilai cacat hukum karena tidak menjelaskan alasan medis maupun hasil pemeriksaan tersebut. Lebih jauh lagi, Israel menutup mata terhadap dokumen hukum yang membuktikan adanya cedera fisik parah, hilangnya kesadaran berulang kali, dan ancaman nyata terhadap nyawa sang dokter.
Menurut PHRI, Israel sengaja mengalihkan substansi masalah, yaitu penahanan sepihak 14 tenaga medis tanpa dakwaan maupun peradilan yang sah di tengah runtuhnya sistem kesehatan Gaza.
Kondisi Kritis di Ruang Sidang
Kesaksian memilukan diungkapkan oleh Elias, putra Dr. Abu Safiya, dalam wawancara khusus dengan Al Jazeera. Dr. Abu Safiya diketahui telah ditahan secara sewenang-wenang sejak Desember 2024 tanpa dakwaan resmi dan kini tengah mengajukan banding.
Saat dihadirkan di Mahkamah Agung Israel baru-baru ini, Elias menyebut ayahnya dibawa dengan tangan dan kaki diborgol. Tubuhnya kurus kering layaknya “kerangka hidup” akibat penurunan berat badan yang drastis, dipenuhi penyakit kulit, serta mengalami cedera di bagian mata. Kondisi fisik tersebut menjadi bukti bisu atas penyiksaan berat yang dialaminya selama interogasi.
Kondisi ini dipertegas oleh Nasser Oudeh, pengacara Dr. Abu Safiya. Oudeh menyatakan kliennya dipindahkan ke sel isolasi dan berada dalam bahaya besar setelah mengalami cedera serius di kepala dan wajah yang menyebabkannya kesulitan bernapas akibat penganiayaan sistematis setiap hari.
Dalam kunjungan terakhirnya, Oudeh melihat Dr. Abu Safiya kesulitan berjalan. Kepada sang pengacara, sang dokter menyampaikan kekhawatiran mendalam bahwa itu mungkin menjadi pertemuan terakhir mereka. Dr. Abu Safiya merasakan adanya upaya kesengajaan dari otoritas penjara untuk menghabisi nyawanya secara perlahan di dalam sel.
Dalih Keamanan Tel Aviv
Di pihak lain, Israel melalui Misi Tetapnya untuk PBB di Jenewa melontarkan tuduhan serius. Mereka mengklaim Dr. Abu Safiya memegang pangkat “Kolonel” di dalam struktur Hamas dan menuduhnya telah mengubah Rumah Sakit Kamal Adwan menjadi salah satu pusat operasi kelompok perlawanan tersebut selama perang berlangsung.
Terkait prosedur penahanan, pihak Israel berdalih bahwa proses hukum terhadap Dr. Abu Safiya berada di bawah pengawasan yudisial yang ketat, termasuk peninjauan oleh Mahkamah Agung pada 10 Juni 2026 lalu.
Israel menyatakan bahwa setibanya Dr. Abu Safiya di Pusat Penahanan “Nitzan” pada 24 Juni 2026, tim medis langsung melakukan pemeriksaan awal. Otoritas Israel mengklaim sang dokter berada di bawah pemantauan medis berkala dan menerima perawatan yang diperlukan sesuai dengan penilaian profesional dokter penjara.
Namun, bagi keluarga dan pembela hak asasi manusia, klaim sepihak tersebut hanyalah tameng untuk menutupi kondisi memilukan di balik jeruji besi Tel Aviv.
(Sumber: Al Jazeera / Media Israel)










