RAMALLAH – Ismael Muhlis melangkah keluar dari gerbang Penjara Ofer di barat kota Ramallah dengan tubuh yang jauh berbeda dari saat ia pertama kali dibawa pergi. Tubuhnya kurus kering, wajahnya menyiratkan kelelahan yang teramat mendalam setelah menghabiskan 20 bulan (hampir dua tahun) di balik jeruji besi dingin milik otoritas Israel.
Ismail baru berusia 14 tahun ketika rumah keluarganya di kota Al-Ram, utara Yerusalem yang diduduki, digerebek oleh tentara Israel pada 15 Oktober 2024. Dari rumahnya, ia diseret ke pusat interogasi sebelum akhirnya dijebloskan ke bangsal khusus anak-anak (Ashbal) di Penjara Ofer. Kini, ia bebas di usia 16 tahun dengan membawa memori kelam tentang sebuah tempat yang ia sebut “penuh dengan anak-anak”.
“Kondisi di dalam sangat luar biasa sulit,” tutur Ismail saat menceritakan kesaksiannya kepada Al Jazeera. “Pihak penjara sengaja memberikan makanan dalam jumlah yang sangat sedikit, dan sering kali makanan itu sudah membusuk atau tidak layak konsumsi. Sebagian besar makanan kami hanyalah nasi yang porsinya jauh dari kata cukup.”
Kelaparan, Sanitasi Buruk, dan Hilangnya Hak Menghirup Udara Segar
Di dalam sel yang pengap, urusan kebersihan menjadi barang mewah yang mustahil digapai. Ismail menceritakan bahwa sanitasi di dalam barak hampir tidak ada, dan pasokan air bersih untuk mandi sangat terbatas serta tidak terjadwal dengan baik.
Penderitaan para tahanan anak ini kian berlipat ganda sejak pecahnya perang di Gaza. Hak dasar mereka untuk sekadar keluar menghirup udara segar di halaman penjara (al-foura) dicabut sepenuhnya.
Tak berhenti di situ, otoritas penjara menerapkan aturan psikologis yang menyiksa: setiap hari, sejak waktu subuh hingga ashar, seluruh kasur dan selimut para tahanan disita. Mereka dipaksa duduk di lantai semen yang dingin tanpa alas. Proses penghitungan jumlah tahanan dilakukan tiga kali sehari (saat fajar, siang, dan magrib) dengan metode yang merendahkan martabat.
“Kami dipaksa berlutut atau berdiri menghadap dinding dengan posisi yang sangat menghinakan setiap kali mereka menghitung jumlah kami,” kenang Ismail.
“Dulu, ada sedikit perbedaan perlakuan antara sel dewasa dan sel anak-anak. Tapi sekarang sama saja, mereka memukuli semua orang tanpa pandang bulu,” ujar Ismail Muhlis.
Ratusan Anak Berdesakan di Dalam Sel
Fakta yang paling mengerikan dari kesaksian Ismail adalah rentang usia para tahanan di dalam bloknya. Di dalam bangsal tempat ia dikurung, terdapat sekitar 197 anak yang dijejalkan ke dalam 22 kamar yang sempit.
“Di sana ada anak-anak kecil yang lahir tahun 2011 dan 2012. Mereka masih sangat kecil. Mereka seharusnya tidak berada di dalam penjara, mereka harusnya menikmati masa kanak-kanak mereka di sekolah dan tempat bermain,” ungkapnya dengan nada bergetar.
Harapan Seorang Ibu yang Sempat Terenggut
Di luar dinding penjara, Intisar Shawamreh (ibu kandung Ismail) melewati bulan-bulan penuh kecemasan dan air mata. Baginya, melihat anak laki-lakinya diambil saat masih bocah berusia 14 tahun dan kembali sebagai remaja berusia 16 tahun dengan tubuh ringkih adalah pukulan batin yang berat.
“Masa-masa penahanannya adalah bulan-bulan terberat dalam hidup saya,” kata Intisar. Namun, di balik kesedihan itu, secercah harapan mulai ia rajut kembali. “Sekarang dia sudah bebas, saya hanya berharap dia bisa membangun masa depan yang aman, kembali ke kehidupan normalnya, dan menyelesaikan sekolahnya hingga ke bangku kuliah.”
Menurut data terbaru dari lembaga-lembaga yang fokus pada urusan tahanan Palestina, Ismail hanyalah satu dari sekian ratus anak yang bernasib serupa. Saat ini, diperkirakan ada sekitar 9.500 warga Palestina yang mendekam di penjara-penjara Israel, di mana 95 di antaranya adalah perempuan, dan 360 lainnya adalah anak-anak yang terpaksa kehilangan masa kecil mereka di balik jeruji besi.
Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari Al Jazeera










