LAUT MEDITERANIA – Di antara 420 aktivis kemanusiaan dari 40 negara yang diseret paksa oleh militer Israel dari perairan internasional Laut Mediterania, sosok Zohar Regev (54 tahun) menjadi anomali yang paling dibenci sekaligus ditakuti oleh sistem peradilan Tel Aviv.
Lahir sebagai pemukim Yahudi Israel, ia kini berdiri di garis depan sebagai seorang muslimah yang membongkar borok negaranya sendiri ke panggung global setelah kapal “Armada Ketahanan” (Freedom Flotilla) yang ditumpanginya dibajak oleh komando laut Israel pada Selasa, 19 Mei 2026.
Armada internasional yang bertolak dari Marmaris, Turki, pada pertengahan Mei tersebut membawa misi tunggal: menembus blokade laut ilegal dan menyalurkan bantuan logistik ke Jalur Gaza. Namun, bagi Regev, konsekuensi yang diterimanya jauh lebih personal.
Setelah melalui interogasi intensif dan dihadirkan di Mahkamah Sulh (Pengadilan Negeri) Ashkelon, hakim resmi menjatuhkan vonis deportasi dan melarangnya mendekati perimeter Gaza selama 60 hari ke depan atas dakwaan palsu “upaya penyusupan ke zona militer tertutup”.
Teror Sipir dan Intimidasi Langsung Itamar Ben-Gvir
Dalam kesaksian eksklusifnya kepada Al-Jazeera, Regev memaparkan bahwa agresi militer kali ini diwarnai dengan tingkat kekerasan yang brutal dan terstruktur. Para aktivis tidak hanya menghadapi todongan senapan otomatis, melainkan mengalami pelecehan seksual, kekerasan verbal, hingga penganiayaan fisik selama proses pemindahan ke darat.
“Saat dipindahkan dari kapal ke dermaga, seorang tentara mencengkeram leher saya dengan sangat keras, menekan kepala saya ke bawah untuk meruntuhkan harga diri saya,” kenang Regev.
Kondisi di dalam penjara pun digambarkannya layaknya “kandang singa” yang dibangun dari tumpukan kontainer besi kedap udara. Di dalam sel darurat tersebut, para aktivis terus diisolasi di bawah ancaman peluru karet.
Puncak dari intimidasi ini terjadi ketika Menteri Keamanan Nasional Israel yang beraliran ekstrem kanan, Itamar Ben-Gvir, melakukan inspeksi mendadak ke dalam kompleks penjara kontainer tersebut untuk mengancam para aktivis secara langsung.
“Sangat memalukan melihat bagaimana dunia memberikan perhatian besar pada drama Ben-Gvir saat mengintimidasi aktivis internasional, sementara di saat yang sama dunia membiarkan pria itu lolos begitu saja setelah menghancurkan kehidupan jutaan warga Palestina setiap harinya,” kritik Regev tajam.
Jalur Spiritual: Dari Kibbutz Menuju Islam
Zohar Regev lahir pada tahun 1972 dan menghabiskan masa kecilnya di Kibbutz (pemukiman agraris) Kfar HaHoresh, sebuah kawasan komunal yang terletak dekat dengan kota Nazareth. Ia tumbuh di dalam lingkaran keluarga Israel non-konvensional yang secara terbuka mendidik anak-anaknya bahwa okupasi militer adalah sebuah kesalahan moral.
Perjalanan intelektual dan spiritual Regev bergeser drastis ketika ia memutuskan tinggal selama dua tahun di Betlehem, Tepi Barat.
Di sana, interaksi intensifnya dengan realitas kehidupan warga Palestina membuka matanya secara penuh. Di kota suci tersebut, Regev memutuskan meninggalkan yudaisme dan memeluk agama Islam, sebelum akhirnya memutuskan pindah dan menetap di Spanyol pada tahun 2004.
Transformasi Ideologis Zohar Regev
- Fase I: Internalisasi Nilai Anti-Okupasi
Lingkungan Kfar HaHoresh
Tumbuh di keluarga kelas pekerja yang memandang pendudukan wilayah pasca-1967 sebagai cacat moralitas negara. - Fase II: Pengenalan Islam Melalui Aksi
Interaksi Sosial di Betlehem
Menemukan konsistensi iman pada komunitas muslim Flotilla yang berani mengubah keyakinan spiritual menjadi aksi nyata pembelaan kemanusiaan. - Fase III: Dekonstruksi Total Dogma Negara
Gugatan Terhadap Zionisme
Menyimpulkan bahwa akar konflik bukan sekadar perang 1967, melainkan fondasi zionisme yang bersifat rasis.
Rapor Aktivisme dan Penahanan Sektor Laut
Bagi Regev, Islam memberikan jawaban atas pencarian panjangnya mengenai konsep keadilan yang tidak tebang pilih. Ia mengaku terkesan dengan keteguhan hati para aktivis muslim di atas kapal kemanusiaan yang berani bertaruh nyawa bukan demi popularitas, melainkan karena panggilan iman.
“Ada kerja keras yang harus diselesaikan di level hati, dan saya menemukan instrumen keadilan itu di dalam Islam,” jelasnya.
Melalui keberaniannya berdiri di atas kapal kemanusiaan, Regev menegaskan bahwa perjuangannya kini telah melompat jauh melampaui batas nasionalisme sempit.
| Parameter Profil Aktivis | Rekam Jejak / Data Aktual | Kategori Gerakan Sipil |
|---|---|---|
| Nama & Identitas | Zohar Regev (54 Tahun) | Mualaf / Aktivis Perdamaian |
| Asal Kediaman | Kibbutz Kfar HaHoresh (Spanyol sejak 2004) | Eks-Warga Negara Israel |
| Skala Operasi Laut | 420 Aktivis / 40 Negara | Koalisi Global Freedom Flotilla |
| Status Hukum Terbaru | Deportasi & Ban 60 Hari | Diputus oleh PN Ashkelon (Mei 2026) |
“Seluruh proyek zionisme pada dasarnya adalah sistem yang rasis dan merusak, baik bagi kaum Yahudi itu sendiri maupun bagi siapa saja yang bersentuhan dengannya. Sistem ini mencoba menyelesaikan sebuah masalah dengan cara memberikan hak istimewa (privilege) eksklusif kepada satu kelompok di atas penderitaan kelompok lain. Ini adalah resep instan menuju perang abadi.”
— Zohar RegevDengan berakhirnya masa penahanan di Ashkelon, Regev dipaksa kembali ke Spanyol. Namun bagi perempuan pembongkar tabu ini, garis pembatas 60 hari yang dijatuhkan pengadilan Israel hanyalah coretan di atas kertas.
Selama blokade Gaza belum runtuh, suaranya akan tetap menggema dari seberang lautan, membuktikan bahwa jeruji besi dan intimidasi menteri sekalipun tidak akan pernah sanggup memenjarakan sebuah keyakinan yang telah mengakar di dalam hati.










