TEL AVIV – Situasi di perairan internasional Laut Mediterania dilaporkan kian kritis. Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang tengah berlayar menuju Jalur Gaza, mengonfirmasi adanya pergerakan mencurigakan dari sejumlah kapal perang dan perahu cepat tak dikenal yang mulai mengepung posisi mereka, Senin (18/5).

Kabar ini berembus sesaat setelah armada mengumumkan bahwa mereka telah memasuki wilayah laut lepas. Lewat akun resmi mereka di platform X, pihak penyelenggara menyatakan bahwa armada sipil ini mulai ditempeli oleh armada militer misterius dari berbagai sisi.

“Ada kapal militer dan speedboat (perahu cepat) yang memosisikan diri di depan, belakang, dan di salah satu sisi armada kami,” tulis pernyataan resmi Global Sumud Flotilla.

Berdasarkan sistem pelacakan digital yang dirilis pada laman resmi mereka, jarak armada kemanusiaan ini dengan bibir pantai Gaza kini tersisa sekitar 310 mil laut lagi.

Skenario Pengadangan di Laut Lepas

Kecurigaan mengenai siapa di balik kapal-kapal misterius tersebut langsung terjawab oleh laporan media-media internal Israel. Surat kabar Maariv melansir bahwa Angkatan Laut Israel memang tengah bersiap melakukan operasi penyergapan dalam hitungan jam guna menghentikan laju armada yang bertolak dari Turki tersebut.

Seorang sumber militer menegaskan bahwa perintah eksekusi sudah jelas: mengadang kapal-kapal relawan ini di perairan internasional, jauh sebelum mereka mampu menyentuh zona laut Israel.

Setali tiga uang, harian Yedioth Ahronoth sebelumnya juga mengonfirmasi kesiapan militer Israel untuk mengambil alih kendali armada secara paksa. Skenario represif pun telah matang disiapkan bagi sekitar 50-an kapal sipil yang diprediksi tiba dalam dua hingga tiga hari ke depan.

“Kami akan kuasai kapal-kapal itu dan memindahkan para pesertanya ke sebuah penjara terapung,” ujar sumber Israel tersebut kepada Yedioth Ahronoth.

Seperti biasa, guna melegitimasi tindakan bersenjata terhadap warga sipil, pihak Israel mulai membangun narasi stigmatisasi. Mereka mengklaim para aktivis kali ini akan bertindak “lebih agresif” dan menduga adanya penggunaan senjata tajam oleh para relawan di atas kapal.

Ikhtiar Menembus Tembok Blokade

Misi pelayaran kemanusiaan ini resmi dilepas dari kota pelabuhan Marmaris, Turki, pada Kamis pekan lalu dengan melibatkan 54 kapal. Di atasnya, ikut berlayar jajaran dewan direksi gerakan seperti Samira Akdeniz Ordu, Iman al-Makhloufi, Saif Abu Kishk, Ko Tin-muang, Natalia Maria, serta ratusan aktivis dari 70 negara di dunia.

Langkah nekat para aktivis lintas benua ini bukanlah tanpa alasan. Ini adalah urat nadi kepedulian dunia yang mencoba memutus blokade darat, udara, dan laut yang diterapkan Israel atas Gaza sejak 2007 silam. Kondisi 2,4 juta warga di sana kian kritis sejak perang pemusnahan massal (genosida) berkecamuk pada Oktober 2023, yang memaksa 1,5 juta jiwa hidup terlantar di tenda-tenda pengungsian karena rumah mereka telah rata dengan tanah.

Pencegatan kali ini pun diprediksi akan mengulang konfrontasi berdarah sebelumnya. Pada 29 April lalu, militer Israel juga secara ilegal menyerang armada ini di dekat Pulau Kreta, Yunani. Saat itu, 21 kapal disita dan 175 relawan ditahan secara paksa.

Kini, dengan bayang-bayang kepungan kapal misterius dan ancaman ‘penjara terapung’, dunia kembali menyaksikan bagaimana bantuan pangan dan obat-obatan bagi balita yang kelaparan di Gaza, harus berhadapan dengan moncong meriam di laut bebas.


Sumber: Al Jazeera / Maariv / Yedioth Ahronoth

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here