DEIR AL-BALAH – Di antara deretan tenda yang memadati Jalur Gaza, masa kanak-kanak telah lama mati. Kini, yang tersisa adalah ribuan orang dewasa mini. Data terbaru menunjukkan sedikitnya 39.000 anak Gaza kini menyandang status yatim atau piatu. Di antara mereka, ada kelompok yang disebut sebagai “Al-Luthama”, anak-anak yang kehilangan kedua orang tua sekaligus dalam sekali serangan udara.
Bagi mereka, sekolah bukan lagi pilihan. Labirin pengungsian telah mengubah ruang bermain menjadi tempat kerja paksa demi kelangsungan hidup. Laporan koresponden lapangan mengungkap realitas yang mencekik: bocah-bocah ini kini menjadi mesin penggerak ekonomi keluarga, membelah antrean di dapur umum (tekia), hingga memikul jeriken air dan kayu bakar di bawah ancaman moncong senjata.
Tulang Punggung yang Rapuh
Seorang remaja (yang kini menjadi kepala keluarga dadakan setelah ayahnya syahid) bercerita tentang beban yang ia panggul. Sebagai anak tertua, ia tak punya waktu untuk meratapi kehilangan. Di pundaknya yang masih cedera akibat serpihan bom, ia harus mengangkut galon air setiap hari. “Ayah adalah segalanya bagi kami. Sekarang, ‘segalanya’ itu harus saya kerjakan sendiri,” ujarnya datar.
Ketakutan bukan lagi perasaan, melainkan rutinitas. Garis depan pertempuran hanya berjarak 50 meter dari tenda tipis yang mereka huni. Suara tembakan dan ledakan adalah lagu pengantar tidur yang memastikan rasa aman tak pernah benar-benar ada.
Pendidikan yang Tergadai
Pendidikan praktis lumpuh. Mumin Abu Rudaina, salah satu anak di pengungsian, mengakui bahwa bertahan hidup lebih mendesak daripada belajar. Fokus harian mereka adalah memastikan perut adik-adiknya terisi, bukan menghafal rumus matematika. Tenda-tenda pengungsian kini berfungsi ganda secara brutal: menjadi dapur, kamar tidur, sekaligus ruang kelas darurat yang pengap.
Kondisi serupa menimpa anak-anak perempuan. Hala, yang kehilangan ayahnya, menggambarkan hidupnya kini sebagai “jalan buntu”. Tanpa kepala keluarga, uang untuk sekadar membeli pakaian atau kebutuhan dasar saat hari raya hanyalah angan-angan. Mereka terjebak dalam kemiskinan struktural yang dirancang oleh blokade dan mesin perang.
Dapur Data: Krisis Perlindungan Anak Gaza (April 2026)
| Kategori | Statistik | Keterangan |
| Kehilangan Orang Tua | ± 55.000 Anak | Kehilangan salah satu atau kedua orang tua sejak 7 Okt 2023. |
| Yatim Piatu (Al-Luthama) | ± 39.000 Anak | Kehilangan kedua orang tua; tanpa pelindung utama. |
| Butuh Dukungan Psikososial | > 1.000.000 Anak | Mengalami trauma berat dan gangguan kecemasan. |
| Status Pendidikan | Putus Sekolah Massal | Anak-anak beralih menjadi pencari nafkah keluarga. |
Normalisasi Trauma
Kementerian Pembangunan Sosial Palestina mencatat angka yang membikin begidik: lebih dari satu juta anak di Gaza kini membutuhkan dukungan psikologis mendesak. Namun, di tengah keterbatasan sumber daya, terapi terbaik yang mereka dapatkan hanyalah kemampuan untuk bertahan hidup hingga esok pagi.
Investigasi ini menunjukkan bahwa penghancuran Gaza bukan hanya soal infrastruktur beton, tapi soal penghancuran institusi keluarga. Dengan puluhan ribu anak tanpa pendamping, Gaza sedang menghadapi ledakan masalah sosial di masa depan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan bantuan pangan.










