GAZA – Sejarah tidak hanya dihancurkan lewat peluru, tapi juga dengan melenyapkan para penjaganya. Sebuah laporan terperinci bertajuk “Remember Them: Gaza’s Scholars Killed in the Genocide” baru saja dirilis oleh koalisi akademisi dan aktivis. Isinya mengerikan: sebuah upaya sistematis untuk memenggal “otak” masyarakat Palestina melalui pembunuhan elit ilmiah secara masif.
Laporan ini kini menjadi basis data utama bagi arsip digital www.rememberinggazascholars.org. Di sana, nama-nama besar di dunia akademik bukan lagi sekadar angka statistik. Situs ini mengabadikan riwayat hidup para profesor dan peneliti yang tewas bersama seluruh anggota keluarga mereka di bawah reruntuhan rumah atau tempat pengungsian.
Para penyusun laporan menegaskan satu poin krusial: apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar imbas perang, melainkan “scholasticide”, pembunuhan intelektual yang bertujuan memutus rantai pengetahuan masa depan Palestina.
Memenggal Puncak Menara Gading
Daftar yang terdokumentasi mencakup profil-profil yang diakui secara internasional. Beberapa di antaranya:
- Sufian Tayeh: Pakar fisika terkemuka, Rektor Universitas Islam Gaza, sekaligus pemegang kursi UNESCO untuk ilmu fisika dan antariksa.
- Khaled al-Ramlawi: Profesor teknik yang menjadi tulang punggung riset di Universitas Islam.
- Rola Abd al-Jawad: Dosen muda berusia 29 tahun dari Universitas Gaza, representasi masa depan akademisi yang dipangkas sebelum berkembang.
“Mereka bukan hanya milik Palestina, mereka adalah bagian dari komunitas intelektual global,” tulis laporan tersebut. Kehilangan mereka dianggap sebagai pemiskinan terhadap dunia sains dan humaniora secara universal.
Universitas yang Berubah Jadi Debu
Penghancuran ini tak berhenti pada manusia. Infrastruktur pengetahuan Gaza telah diratakan. Menurut data hingga 25 Maret 2025, Israel telah menghancurkan 12 universitas dan tujuh institusi pendidikan tinggi lainnya di Gaza.
Sedikitnya 57 gedung universitas, mencakup laboratorium, perpustakaan, hingga museum—kini rata dengan tanah. Polanya mencurigakan: sebagian dihantam rudal dari udara, sementara sebagian lainnya diledakkan dengan sengaja setelah sempat dijadikan markas atau barak militer.
Contoh paling nyata adalah Universitas Al-Israa. Gedung ini diduduki militer Israel sebelum akhirnya diledakkan total pada Januari 2024 menggunakan ratusan ranjau. Tak hanya ruang kelas, laboratorium dan Museum Nasional yang menyimpan ribuan artefak bersejarah ikut menguap. Rekaman yang beredar bahkan menunjukkan para serdadu merayakan ledakan tersebut dengan sorak-sorai.
[Tabel: Neraca Penghancuran Pendidikan Tinggi di Gaza]
| Objek | Statistik Kerugian | Dampak Jangka Panjang |
| Universitas | 12 Kampus Hancur Total | Gaza kehilangan seluruh pusat risetnya. |
| Mahasiswa | 87.000 Terhenti Studinya | Ancaman “generasi yang hilang” (lost generation). |
| Akademisi Tewas | 200+ Dosen/Peneliti | Putusnya transfer ilmu kepada generasi muda. |
| Gedung Akademik | 57 Bangunan Rata | Butuh dekade untuk membangun kembali infrastruktur. |
Generasi Tanpa Guru
Angka-angka ini meninggalkan luka yang sulit dijahit. Sekitar 87.000 mahasiswa kini terlunta-lunta tanpa kampus. Lebih dari 1.200 mahasiswa tewas, sementara ribuan lainnya cacat atau mengungsi.
Tragedi ini menjadi lebih menyesakkan jika mengingat latar belakang para akademisi ini. Banyak dari mereka adalah lulusan universitas terbaik luar negeri yang secara sadar memilih pulang ke Gaza sejak 2007. Mereka bertahan mengajar di tengah pemutusan listrik kronis, kekurangan sumber daya, hingga siklus pengeboman berkala.
“Kehilangan ini tidak bisa diukur hanya dengan angka, tapi dengan hilangnya peran sosiologis mereka sebagai pendidik generasi yang seharusnya menjadi dokter, insinyur, dan sosiolog masa depan,” tulis laporan itu.
Arsip Digital: Melawan Lupa
Arsip di www.rememberinggazascholars.org diposisikan sebagai “arsip yang terus bertumbuh”. Tim penyusun masih mengumpulkan data dari keluarga korban, kolega, dan lembaga HAM untuk memastikan setiap nyawa memiliki halaman sejarahnya sendiri.
Ini adalah bentuk perlawanan sipil terhadap upaya penghapusan identitas. Ketika universitas dihancurkan menjadi debu dan para profesor dikubur tanpa nisan yang layak, arsip digital ini menjadi satu-satunya tempat di mana “otak” Gaza tetap hidup.









