Armada Global Sumud Flotilla kembali bergerak. Sekitar 40 kapal berlayar dari Barcelona, Spanyol, pada Rabu (15/4), menuju Jalur Gaza dalam upaya terbaru menembus blokade Israel dan mengirimkan bantuan kemanusiaan.
Keberangkatan ini sempat tertunda. Rencana awalnya, armada dijadwalkan lepas jangkar pada Ahad (12/4), namun cuaca buruk memaksa penundaan. Kapal-kapal, yang sebagian besar berupa perahu layar, akhirnya bertolak sekitar pukul 11.30 waktu setempat.
Penyelenggara menyebut, gelombang awal armada sebenarnya sudah bergerak lebih dulu. Sekitar 20 kapal telah berangkat dari Marseille, Prancis selatan, pada pekan sebelumnya untuk bergabung dalam misi ini. Armada tambahan juga direncanakan berangkat dari kota Siracusa di Pulau Sisilia pada 24 April.
Dalam perjalanan, flotilla dijadwalkan singgah selama sepekan di Italia selatan. Di titik ini, para relawan akan mengikuti pelatihan non-kekerasan sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan intervensi di tengah laut.
Mobilisasi lintas negara
Kampanye “Sumud” bertujuan menggalang ratusan aktivis pro-Palestina dari berbagai negara. Gerakan ini menjadi bagian dari rangkaian tekanan sipil internasional untuk membuka akses ke Gaza yang selama ini dibatasi.
Bantuan yang dibawa difokuskan pada kebutuhan dasar warga sipil, sekaligus menjadi simbol protes terhadap pembatasan yang dinilai memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Bayang-bayang insiden sebelumnya
Upaya ini bukan tanpa risiko. Pada Oktober 2025, misi serupa yang melibatkan sekitar 50 kapal disergap oleh militer Israel di perairan internasional Laut Mediterania.
Ratusan aktivis ditangkap, termasuk Greta Thunberg. Mereka kemudian dideportasi ke negara masing-masing, di tengah laporan dugaan penyiksaan dan perlakuan buruk selama penahanan.
Kasus tersebut bahkan memicu penyelidikan hukum di Rome. Kejaksaan setempat membuka investigasi atas laporan sejumlah aktivis Italia yang terlibat dalam flotilla. Aduan yang diajukan mencakup tuduhan percobaan pembunuhan, pelanggaran keselamatan pelayaran, hingga tindakan yang dikategorikan sebagai perompakan dan penahanan ilegal.
Misi kemanusiaan di tengah ketegangan
Meski pengalaman sebelumnya masih membekas, flotilla tahun ini tetap dijalankan. Para penyelenggara menyadari potensi risiko, namun menilai tekanan internasional perlu terus dijaga.
Bagi para relawan, pelayaran ini bukan hanya soal distribusi bantuan. Ia juga menjadi cara untuk mempertahankan perhatian dunia terhadap situasi di Gaza—wilayah yang hingga kini masih menghadapi pembatasan akses terhadap kebutuhan paling dasar.
Dengan rute yang telah disusun dan dukungan dari berbagai negara, armada ini kini bergerak menuju perairan yang tidak hanya sarat risiko, tetapi juga sarat pesan politik dan kemanusiaan.










