Seorang anak perempuan Palestina, Retaj Rehan, dilaporkan syahid setelah ditembak tentara Israel saat sedang berada di ruang kelas darurat di wilayah Beit Lahia, Gaza utara, Kamis (10/4/2026). Peristiwa itu terjadi di hadapan teman-teman sekelasnya, yang saat itu sedang mengikuti kegiatan belajar di dalam tenda sekolah.

Kementerian Pendidikan di Gaza menyebut Retaj, siswi kelas tiga sekolah dasar, tertembak ketika duduk di kelas di Sekolah Abu Ubaida bin Al-Jarrah. Insiden tersebut memicu kepanikan dan trauma berat di antara para siswa yang menyaksikan langsung kejadian itu.

“Kejahatan yang keji”

Kementerian Pendidikan Palestina mengecam peristiwa ini sebagai “kejahatan berdarah yang keji dan mengerikan”, yang disebut sebagai bagian dari catatan panjang kekerasan Israel. Dalam pernyataannya, kementerian menegaskan bahwa kejadian ini bukan peristiwa terpisah, melainkan bagian dari rangkaian agresi yang telah berlangsung lebih dari dua setengah tahun.

Menurut data otoritas pendidikan Gaza, serangan yang berkelanjutan telah menewaskan puluhan ribu anak, menghancurkan infrastruktur pendidikan, dan meratakan banyak sekolah di wilayah tersebut.

Pemerintah Palestina juga menegaskan bahwa Israel bertanggung jawab penuh atas peristiwa ini dan seluruh dampak kekerasan yang terjadi sebelumnya maupun yang masih berlangsung. Mereka menilai sikap diam komunitas internasional sama saja dengan pembiaran.

Dalam pernyataannya, otoritas pendidikan menyerukan intervensi segera untuk menghentikan serangan terhadap warga sipil, terutama anak-anak, serta mendesak pembentukan penyelidikan internasional independen dan akuntabilitas hukum tanpa pengecualian.

Sekolah yang Berpindah ke Tenda

Sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023, proses pendidikan lumpuh hampir total. Ratusan sekolah hancur akibat serangan, sementara bangunan yang tersisa banyak dialihfungsikan sebagai tempat penampungan pengungsi. Kondisi ini membuat sekitar 700 ribu pelajar kehilangan akses pendidikan formal.

Di tengah situasi itu, sebagian anak-anak tetap berusaha belajar di ruang kelas darurat yang didirikan di tenda-tenda pengungsian. Kegiatan belajar berlangsung dengan dukungan guru-guru sukarelawan, meski dalam kondisi yang jauh dari layak.

Namun proses belajar ini berlangsung dalam tekanan berat. Tenda-tenda rapuh itu harus menghadapi cuaca ekstrem, keterbatasan fasilitas, dan ancaman keamanan yang terus membayangi.

Di sisi lain, laporan pelanggaran gencatan senjata terus terjadi. Serangan udara dan tembakan yang dilakukan militer Israel dilaporkan menyebabkan ratusan korban jiwa sejak kesepakatan itu diberlakukan.

Menurut data yang dihimpun, sejak gencatan senjata diberlakukan, sedikitnya 738 warga Palestina syahid dan 2.036 lainnya terluka akibat berbagai pelanggaran di lapangan.

Kesepakatan tersebut sendiri dicapai setelah dua tahun perang besar yang dimulai pada Oktober 2023. Perang itu, yang berlangsung dengan dukungan Amerika Serikat, disebut telah menewaskan lebih dari 72 ribu warga Palestina, melukai lebih dari 172 ribu lainnya, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur di Gaza.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here