Di sebuah pasar sederhana di wilayah Al-Mawasi, barat Khan Younis, seorang ibu bernama Umm Muhammad Saqr berjalan dari satu lapak ke lapak lain. Dua jam berlalu, tangannya tetap kosong. Apa yang ia cari (kebutuhan dasar untuk keluarganya) tak mampu ia beli.

Pemandangan itu bukan kasus tunggal. Ia mencerminkan realitas mayoritas warga Gaza hari ini: hidup di bawah tekanan berlapis, perang, blokade, dan pembatasan ketat yang membuat kebutuhan paling mendasar pun sulit dijangkau.

Di tengah pembatasan akses perbatasan dan menurunnya aliran bantuan, warga Gaza menghadapi pertanyaan yang kian mendesak: bagaimana bertahan hidup di tengah himpitan yang tak kunjung longgar?

Bantuan Menyusut, Harga Melonjak

Umm Muhammad menggambarkan situasi itu tanpa basa-basi. “Kami keluar dari satu krisis, masuk ke krisis lain. Harga-harga melambung. Bahkan uang kertas yang sudah usang sering ditolak pedagang,” ujarnya.

Krisis likuiditas menjadi masalah tambahan. Sejak agresi Israel pada Oktober 2023, otoritas setempat tak lagi leluasa memasukkan uang tunai ke perbankan di Gaza. Akibatnya, warga kesulitan memperoleh uang layak edar untuk transaksi sehari-hari.

“Dari mana kami dapat uang?” kata Umm Muhammad. Pertanyaan itu kini menjadi keluhan kolektif di Gaza.

Situasi memburuk sejak eskalasi perang Israel–Amerika dengan Iran. Di tengah perhatian dunia yang teralihkan, pembatasan terhadap Gaza justru diperketat. Perlintasan ditutup, arus bantuan dibatasi, dan barang dagangan semakin langka.

Dampaknya langsung terasa di pasar. Harga bahan pokok, terutama sayuran, melonjak tajam. Banyak komoditas bahkan hilang dari peredaran.

Hidup di Batas Minimum

Di sisi lain pasar, Asma Abu Faisal menghadapi persoalan serupa. Sebagai ibu dari keluarga besar, ia harus menanggung beban ganda: harga yang terus naik dan bantuan yang kian menipis.

“Kami tidak tahu lagi bagaimana harus hidup,” ujarnya.

Perang yang berkepanjangan telah menghabiskan tabungan keluarganya. Sejak konflik dengan Iran pecah, ia mengaku belum menerima bantuan apa pun. Setiap hari, keluarganya berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar dalam kondisi yang ia sebut “sangat menyedihkan”.

Basil Abu Hamda, warga lainnya, menyoroti persoalan distribusi bantuan. Menurut dia, jumlah bantuan yang masuk sudah terbatas, dan pembagiannya dinilai tidak merata.

“Banyak kepala keluarga kehilangan pekerjaan. Daya beli jatuh, sementara harga terus naik,” katanya.

Pasar Sepi, Daya Beli Anjlok

Perubahan paling terasa terlihat di lapak-lapak pedagang. Muhammad Abidin, salah satu penjual sayur, mengatakan pola belanja warga berubah drastis.

“Orang sekarang beli per biji, bukan lagi per kilo,” ujarnya.

Jumlah pembeli menurun tajam. Masalah lain muncul: uang lusuh yang ditolak, ketiadaan uang receh, hingga harga yang tak lagi terjangkau. Semua itu memperlambat aktivitas jual beli.

Bagi sebagian besar warga, pilihan yang tersisa hanya mengurangi konsumsi, membeli sekadarnya, cukup untuk bertahan hari itu.

Bantuan Tak Seimbang dengan Kebutuhan

Direktur Kamar Dagang dan Industri Gaza, Maher al-Tabba, menyebut kondisi saat ini sebagai krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Menurut dia, apa yang diizinkan masuk ke Gaza (baik bantuan maupun barang dagangan) tidak sebanding dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Data Kamar Dagang mencatat, sejak eskalasi konflik dengan Iran hingga 23 bulan ini, sekitar 2.850 truk diizinkan masuk. Dari jumlah itu, 65 persen berisi bantuan kemanusiaan dan sisanya barang dagangan.

Namun angka tersebut dinilai masih jauh dari cukup.

“Ambang Kelaparan” Kian Dekat

Ketua Jaringan LSM Gaza, Amjad al-Shawa, memperingatkan situasi ini sudah mendekati titik kritis.

“Bayang-bayang kelaparan mulai terlihat,” katanya.

Sekitar 90 persen warga Gaza kini bergantung pada bantuan kemanusiaan. Namun dengan jumlah yang terbatas dan harga pasar yang tinggi, banyak keluarga kesulitan bertahan.

Al-Shawa juga menilai Israel tidak menjalankan komitmen dalam protokol kemanusiaan yang disepakati dalam gencatan senjata Oktober lalu. Pelanggaran disebut terjadi secara sistematis, terutama terkait jumlah dan jenis bantuan yang diizinkan masuk.

Sejak konflik dengan Iran memanas, tingkat kepatuhan terhadap kesepakatan itu diperkirakan hanya berkisar antara 20 hingga 40 persen. Dari 600 truk bantuan yang dijanjikan per hari, hanya sekitar 200 yang benar-benar diizinkan masuk.

Tak hanya itu, penutupan kembali perlintasan Rafah sempat menghentikan evakuasi pasien dan korban luka. Meski kini dibuka sebagian, prosedurnya tetap ketat dan terbatas. Sementara itu, akses bantuan dipusatkan hanya melalui satu jalur, yakni Karem Abu Salem, sementara perlintasan lain tetap tertutup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here