Krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk bagi pasien gagal ginjal. Peringatan kemanusiaan kian menguat seiring tertutupnya seluruh jalur penyeberangan dan terhambatnya izin perjalanan medis, membuat ratusan pasien terjebak dalam daftar tunggu yang berubah menjadi ancaman nyata bagi nyawa mereka.
Dari Unit Cuci Darah Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah, gambaran krisis kesehatan terlihat jelas. Pasien gagal ginjal menghadapi kelangkaan parah obat-obatan dan perlengkapan medis, akibat pembatasan Israel yang tidak hanya menghambat pasokan obat, tetapi juga menyentuh ketersediaan alat vital untuk menjalankan terapi dialisis secara rutin.
Koresponden Al Jazeera, Ashraf Abu Amra, melaporkan unit dialisis kini menampung pasien jauh melebihi kapasitas. Penumpukan pasien terjadi setiap hari, sementara ketidakteraturan jadwal cuci darah dan keterbatasan layanan telah memicu kematian berulang dalam beberapa pekan terakhir.
Penderitaan pasien tidak sekadar tercermin dalam angka. Sejumlah pasien mengaku menjalani malam tanpa tidur akibat nyeri yang terus-menerus, tanpa obat dan tanpa sarana medis untuk meringankan rasa sakit. Salah satu pasien mengatakan, rasa nyeri tak pernah benar-benar hilang, sementara harapan untuk mendapatkan perawatan layak kian menipis.
Pasien lainnya menegaskan bahwa tuntutan mereka sederhana: pembukaan penyeberangan dan masuknya obat-obatan. Dengan kondisi rumah sakit yang tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar, perawatan di dalam Gaza dinilai semakin berisiko dan jauh dari memadai.
Puluhan Ribu Pasien Terjebak
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat sekitar 30 ribu pasien dan korban luka saat ini menumpuk di rumah sakit Gaza, menunggu izin keluar wilayah untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Kapasitas layanan kesehatan lokal disebut tidak lagi mampu menangani kasus-kasus kritis.
Salah seorang pasien menggambarkan kemerosotan kondisinya akibat kekurangan pengobatan, termasuk penurunan drastis kadar hemoglobin dalam darah, yang secara langsung meningkatkan risiko kematian.
Seorang dokter di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa memperingatkan kelangkaan obat-obatan esensial, terutama hormon eritropoietin. Ia menyebut ketiadaan obat tersebut telah menyebabkan satu hingga dua pasien dialisis meninggal setiap bulan, akibat ketidakmampuan mengendalikan kadar darah.
Di tengah situasi ini, lembaga-lembaga internasional, organisasi kemanusiaan Palestina, dan Kementerian Kesehatan terus mendesak tekanan internasional terhadap Israel agar membuka seluruh penyeberangan (khususnya Rafah) guna memungkinkan pasien mendapatkan perawatan sebelum masa tunggu berubah menjadi vonis kematian.
Tahap pertama kesepakatan gencatan senjata di Gaza mulai diberlakukan pada 10 Oktober lalu, setelah dua tahun agresi Israel yang menewaskan lebih dari 70 ribu warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar infrastruktur sipil. Namun, Israel dilaporkan masih melanggar kesepakatan melalui serangan berulang dan pembatasan ketat terhadap masuknya bantuan kemanusiaan vital ke Gaza.
Sumber: Al Jazeera










