Ratusan pemukim Israel kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada Senin pagi (19/1/2026), di bawah pengawalan ketat kepolisian Israel. Di waktu yang hampir bersamaan, upaya perampasan tanah milik warga Palestina dilaporkan terjadi di Desa Beit Iksa, barat laut Al-Quds yang diduduki.
Pemerintah Provinsi Al-Quds mencatat sedikitnya 476 pemukim memasuki kawasan Al-Aqsa dalam dua gelombang, pagi dan siang hari. Sejumlah saksi mata menyebut, para pemukim melakukan ritual keagamaan di depan Kubah Shakhrah, serta di area timur masjid, dekat Mushalla Bab ar-Rahmah.
Di tengah eskalasi tersebut, otoritas pendudukan Israel menyerahkan surat keputusan pelarangan masuk Masjid Al-Aqsa kepada seorang pemuda asal Al-Quds selama satu pekan, dengan opsi perpanjangan. Seorang aktivis Al-Quds lainnya juga dilaporkan menerima larangan serupa selama enam bulan.
Sebelumnya, pada Kamis lalu, aparat Israel memanggil hampir 100 mantan tahanan Palestina untuk menjalani pemeriksaan lapangan selama berjam-jam. Mereka diberitahu akan kembali dipanggil untuk menerima perintah pelarangan masuk Masjid Al-Aqsa, menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Upaya Perampasan Tanah di Beit Iksa
Di lapangan, puluhan pemukim Israel, didampingi Wakil Wali Kota pendudukan Al-Quds, Arieh King, mendatangi Desa Beit Iksa pada hari yang sama. Kehadiran mereka dilaporkan bertujuan mengambil alih sebidang tanah di sisi barat desa tersebut.
Kepala Dewan Desa Beit Iksa, Murad Zayed, mengatakan para pemukim memasuki wilayah Ras Furaij dan Kurum al-Gharabah, lalu memasang kawat berduri di atas lahan milik warga Palestina sebagai upaya penguasaan.
“Warga desa berhasil menghentikan aksi tersebut sebelum pasukan Israel datang ke lokasi,” kata Zayed. Namun, ia menambahkan, aparat Israel hanya mengevakuasi pemukim secara simbolis, lalu menetapkan wilayah itu sebagai zona militer tertutup, sehingga warga dilarang mengakses tanah mereka sendiri.
Menurut Zayed, langkah ini bukan kejadian terpisah, melainkan bagian dari pola sistematis yang menargetkan Beit Iksa, desa yang terisolasi dan dikepung oleh permukiman Mevaseret Zion, yang dibangun di atas tanah Beit Iksa dan desa Palestina yang telah dikosongkan, Qaluniya.
Tekanan Berlapis di Al-Quds
Warga Beit Iksa selama ini hidup di bawah tekanan kebijakan pendudukan, mulai dari satu-satunya pos pemeriksaan militer yang mengontrol akses keluar-masuk desa, hingga pembatasan ketat pembangunan dan akses ke lahan pertanian. Kondisi ini memperparah kesulitan hidup warga dan mengancam keberlanjutan keberadaan mereka di tanah sendiri.
Di wilayah lain Al-Quds, aparat Israel juga memperketat langkah keamanan. Pemerintah Provinsi Al-Quds melaporkan penggantian fasilitas militer dan pemasangan gerbang besi baru di pos pemeriksaan Hizma selatan, timur laut kota.
Sementara itu, tim dari pemerintah kota pendudukan menggerebek Lingkungan Al-Bustan di Silwan, selatan Masjid Al-Aqsa, bersamaan dengan penggerebekan yang terjadi di Kamp Shuafat, utara Al-Quds.
Sumber: Media Palestina










