Sumber-sumber Palestina kepada Al Jazeera melaporkan, pasukan pendudukan Israel, Kamis (15/1/2026), membunuh Mohammed Al-Houli, salah satu komandan Brigade Syahid Izzuddin Al-Qassam, bersama sejumlah anggota keluarganya, dalam serangan udara yang menghantam Kota Deir al-Balah, Jalur Gaza bagian tengah.
Menurut sumber tersebut, Al-Houli merupakan figur penting di jajaran Brigade Al-Qassam pada wilayah Brigade Tengah. Ia diketahui beberapa kali lolos dari upaya pembunuhan sebelumnya, sebelum akhirnya gugur dalam serangan terbaru Israel.
Menanggapi peristiwa ini, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyatakan bahwa pasukan pendudukan Israel kembali melakukan “kejahatan baru” dengan mengebom rumah keluarga Al-Houli di Deir al-Balah, yang mengakibatkan sejumlah warga Palestina syahid.
Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa pembunuhan ini, bersama rangkaian serangan yang terus terjadi di berbagai wilayah Gaza, merupakan pelanggaran terang-terangan dan berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Hamas menilai tindakan tersebut kembali membuktikan bahwa Israel tidak memiliki komitmen terhadap perjanjian dan secara sistematis berupaya menggagalkannya sebagai jalan menuju dimulainya kembali perang genosida di Gaza.
Hamas juga menyebut kejahatan ini sebagai cerminan sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang meremehkan kesepakatan gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat dan dijamin para mediator.
Gerakan itu menuntut komunitas internasional dan para mediator untuk segera bertindak, mengecam pembunuhan tersebut, serta memaksa Israel mematuhi seluruh isi kesepakatan, termasuk beralih ke fase kedua gencatan senjata tanpa penundaan.
Sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku, Israel tercatat telah membunuh 442 warga Palestina dan melukai 1.236 lainnya. Pada saat yang sama, Israel masih memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya bantuan pangan, obat-obatan, dan perlengkapan hunian ke Gaza, tempat sekitar 2,4 juta penduduk hidup dalam kondisi kemanusiaan yang kian memburuk.
Dengan dukungan penuh Amerika Serikat, Israel selama dua tahun terakhir menjalankan agresi berskala genosida di Jalur Gaza yang menewaskan sekitar 71 ribu warga Palestina dan melukai puluhan ribu lainnya, mayoritas anak-anak dan perempuan. Serangan tersebut juga menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil, dengan estimasi biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sumber: Al Jazeera










