Juru bicara militer Brigade Al-Qassam, Abu Ubaidah, mengungkapkan, separuh dari tawanan Israel yang masih hidup berada di wilayah yang baru-baru ini diminta oleh militer Israel untuk dikosongkan. Ia menegaskan bahwa pemerintah Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu memikul tanggung jawab penuh atas nasib mereka.

Dalam pernyataan singkatnya, Abu Ubaidah menyebut bahwa Brigade Al-Qassam memutuskan untuk tidak memindahkan para tawanan dari wilayah tersebut karena situasi lapangan yang sangat berbahaya. Ia menjelaskan bahwa para tawanan kini berada dalam prosedur pengamanan ketat yang justru membahayakan keselamatan mereka.

“Jika musuh benar-benar peduli dengan nyawa para tawanan ini, maka mereka harus segera melakukan negosiasi untuk mengevakuasi atau membebaskan mereka. Kami sudah memberikan peringatan,” ujar Abu Ubaidah.

Dia juga menuding pemerintah Netanyahu lalai dalam menjalankan kesepakatan yang ditandatangani pada Januari lalu, yang menurutnya bisa saja mengembalikan sebagian besar tawanan ke rumah mereka.

Sementara itu, agresi militer Israel di Jalur Gaza telah memasuki hari ke-18 sejak dimulainya kembali serangan pada 18 Maret lalu. Ratusan warga Palestina dilaporkan syahid dan ribuan lainnya terluka dalam serangan brutal yang sebagian besar menyasar perempuan dan anak-anak.

Di sisi lain, militer Israel mengumumkan perluasan operasi darat di bagian utara Jalur Gaza, termasuk dimulainya operasi di kawasan Syujaiyah dalam beberapa jam terakhir.

Sejak 18 Maret, serangan Israel telah menewaskan sekitar 1.300 warga Palestina dan melukai hampir 3.000 orang, mayoritas adalah anak-anak dan perempuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here