GAZA – Serangan udara militer Israel kembali menghantam sejumlah titik di Jalur Gaza pada Senin dini hari (7/9/2026 M – 25 Rabiul Awal 1448 H). Laporan dari sumber medis setempat mengonfirmasi sedikitnya lima warga Palestina gugur dan beberapa lainnya mengalami luka-luka akibat bombardir tersebut.
Di Gaza bagian tengah, serangan jet tempur Israel menyasar sebuah bangunan sekolah yang dijadikan tempat pengungsian warga sipil. Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa melaporkan seorang anak syahid dan beberapa pengungsi lainnya luka-luka akibat gempuran di lokasi tersebut.
Secara terpisah, pihak Rumah Sakit Al-Shifa mengonfirmasi empat korban jiwa lainnya dievakuasi setelah serangan udara menghantam kawasan Distrik Al-Rimal, Gaza bagian barat. Rentetan penyerangan ini memperpanjang daftar korban dari hari sebelumnya, ketika seorang ayah dan anak perempuannya syahid usai mobil yang mereka tumpangi dihantam rudal di Distrik Al-Nasr, Kota Gaza.
Di tengah gempuran yang belum mereda, duka mendalam masih menyelimuti warga Gaza. Pada Sabtu lalu, ratusan warga mengiringi pemakaman sekitar 100 jenazah (termasuk 60 anak-anak) yang jasadnya baru berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan di Distrik Al-Zaytoun.
Evakuasi ini dilakukan setelah hampir tiga tahun mereka tertimbun puing pascaserangan.
Kelompok perlawanan Hamas mengecam keras aksi tersebut dan menuduh Israel berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata. Langkah Israel dinilai sengaja merusak upaya pelaksanaan rencana perdamaian usulan Presiden AS Donald Trump yang mencakup penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza serta pelucutan senjata perlawanan.
Sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, otoritas kesehatan di Gaza mencatat jatuhnya korban jiwa yang terus bertambah. Data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel telah menyebabkan 1.344 warga Palestina meninggal dunia dan 4.464 lainnya luka-luka.










