GAZA — Sebanyak 262 jurnalis dan pekerja media Palestina syahid sejak Israel melancarkan genosida di Jalur Gaza dimulai pada 8 Oktober 2023. Selain korban jiwa, sedikitnya 433 jurnalis juga dilaporkan terluka dalam serangkaian serangan yang berlangsung selama perang.

Data tersebut disampaikan Kantor Media Pemerintah Gaza pada Sabtu dalam pernyataan yang dirilis bertepatan dengan Hari Solidaritas Internasional untuk Jurnalis Palestina.

Dalam pernyataannya, kantor media tersebut menyebut jurnalis Palestina, khususnya di Jalur Gaza, menghadapi salah satu kampanye penargetan, pembunuhan, dan penghancuran sistematis terburuk dalam sejarah modern.

Menurut pernyataan itu, serangan terhadap jurnalis bertujuan menghilangkan suara dan mengaburkan fakta mengenai berbagai tindakan yang disebut dilakukan terhadap warga sipil selama perang.

Dari 262 jurnalis dan pekerja media yang syahid, 26 di antaranya merupakan jurnalis dan pekerja media perempuan. Selain itu, sebanyak 28 aktivis media berpengaruh juga dilaporkan syahid.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut lebih dari 433 jurnalis dan pekerja media terluka sejak awal perang akibat serangan yang secara langsung menargetkan mereka.

Selain korban luka dan jiwa, sedikitnya 50 jurnalis dan pekerja media yang identitasnya telah diketahui juga ditangkap sejak perang dimulai. Sebanyak 23 di antaranya disebut masih ditahan dalam kondisi yang berat, sementara tiga jurnalis lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.

Keluarga jurnalis turut menjadi korban

Dampak perang juga tidak berhenti pada para jurnalis. Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan militer Israel telah memusnahkan 32 keluarga dari para jurnalis yang syahid.

Perang tersebut juga menimbulkan kerugian besar bagi sektor media Gaza. Berdasarkan perkiraan awal yang disampaikan dalam pernyataan tersebut, total kerugian sektor media telah melampaui 800 juta dolar AS.

Kerugian itu mencakup penghancuran dan penargetan kantor berbagai lembaga media. Peralatan serta perangkat yang dibutuhkan untuk mengoperasikan stasiun penyiaran dan televisi juga ikut hancur.

Kerusakan tersebut membuat kerja media di Gaza menghadapi tekanan berlapis. Di tengah serangan, jurnalis tetap berupaya mendokumentasikan dan melaporkan kondisi yang terjadi di lapangan.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut situasi yang dihadapi jurnalis Palestina sebagai bagian dari upaya menghapus fakta dan menyembunyikan berbagai kejahatan terhadap warga sipil selama perang yang mereka sebut sebagai genosida.

Korban terus berjatuhan meski ada gencatan senjata

Sejak Oktober 2023, perang Israel di Jalur Gaza telah menyebabkan hampir 74 ribu warga Palestina syahid dan lebih dari 174 ribu lainnya terluka, menurut data yang dicantumkan dalam pernyataan tersebut. Kerusakan juga meluas hingga sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza.

Kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Namun, menurut sumber tersebut, serangan udara dan penembakan Israel masih terus terjadi di sejumlah wilayah Jalur Gaza.

Serangkaian serangan setelah gencatan senjata itu dilaporkan menyebabkan 1.408 warga Palestina syahid dan 4.916 lainnya terluka. Di antara korban tersebut terdapat jurnalis.

Dengan demikian, ancaman terhadap pekerja media tidak berhenti ketika kesepakatan gencatan senjata diberlakukan. Para jurnalis di Gaza masih menghadapi risiko ketika menjalankan tugas mereka untuk melaporkan perkembangan di lapangan.

Sumber: Aljazirah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here