GAZA — Tiga tahun genosida telah mengubah kehidupan warga Jalur Gaza secara drastis. Ratusan ribu orang terpaksa meninggalkan rumah dan bertahan di tenda-tenda pengungsian yang tak mampu melindungi mereka dari terik musim panas maupun dinginnya musim hujan.

Kehidupan sebelum genosida, meski jauh dari kata sempurna, kini hanya tinggal kenangan. Seorang perempuan mengenang masa ketika keluarganya masih memiliki rumah, dapur, dan kebutuhan hidup yang bisa dipenuhi.

“Dulu kami tinggal di rumah sendiri, punya dapur dan semua yang kami butuhkan,” ujarnya. Kehidupan mereka memang sederhana, tetapi masih memungkinkan keluarga itu hidup dengan layak. Kondisi tersebut kini tak lagi mereka rasakan.

Di tengah genosida yang menghancurkan tempat tinggal dan infrastruktur, perempuan-perempuan Gaza harus menghadapi rutinitas yang kian berat. Mereka mengantre panjang untuk mendapatkan air dan makanan.

Di jalanan, di antara puing-puing rumah, mereka juga mencari apa saja yang bisa digunakan untuk menyalakan api, baik untuk mengenyangkan anak-anak maupun menghangatkan tubuh mereka saat udara dingin.

Bagi banyak keluarga, bertahan hidup kini berarti mengerahkan tenaga setiap hari demi memenuhi kebutuhan paling mendasar.

Seorang lelaki lanjut usia menggambarkan bagaimana hidupnya berubah setelah rumahnya dihancurkan. Sebelum genosida, ia memiliki rumah empat lantai. Kini, ia tinggal di tenda yang tak cukup melindunginya dari panas maupun dingin.

“Saya punya anak-anak dan rumah empat lantai. Semuanya sudah hilang. Saya tidak tahu harus berbuat apa ketika musim dingin tiba,” katanya dengan suara penuh penyesalan kepada Al Jazeera Mubasher.

Musim dingin menjadi salah satu kekhawatiran terbesarnya. Tenda yang ia tempati bahkan sudah tiga kali roboh. Ia tak tahu bagaimana menghadapi hujan dan cuaca dingin jika tempat berlindung yang rapuh itu kembali ambruk.

Menurut lelaki tersebut, kehidupan warga Gaza seolah mundur seratus tahun. Kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, makanan, dan air minum sulit dipenuhi. Bahkan, tidur pun tidak lagi mudah karena suara pesawat dan dengungan drone terus mengusik.

“Kami tidak punya lagi kebutuhan dasar untuk hidup,” ujarnya.

Kehilangan rumah, kehilangan dokumen

Kehancuran akibat genosida tidak hanya merampas rumah warga Gaza. Banyak dari mereka juga kehilangan dokumen pribadi dan surat kepemilikan tanah yang menghubungkan mereka dengan rumah serta tanah airnya.

Seorang perempuan yang mengungsi mengatakan kepada Al Jazeera Mubasher bahwa keluarganya terpaksa pergi tanpa sempat menyelamatkan harta benda maupun dokumen penting.

“Kami pergi hanya dengan tubuh kami sendiri. Kami kehilangan segalanya: kartu identitas, barang-barang, dan surat kepemilikan tanah,” tuturnya.

Kehilangan dokumen tersebut menambah beban warga yang sudah kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Di tengah ketidakpastian kapan mereka bisa kembali, sebagian orang bahkan tak lagi memiliki bukti tertulis atas kepemilikan tanah yang diwariskan atau mereka tempati selama bertahun-tahun.

Ancaman musim dingin berikutnya

Kondisi pengungsian yang rapuh menimbulkan kekhawatiran baru menjelang musim dingin. Sejumlah organisasi internasional memperingatkan bahwa suhu rendah, hujan deras, dan potensi banjir dapat memperburuk keadaan warga Gaza.

Risiko itu meningkat karena banyak keluarga tinggal berdesakan di tenda yang tidak memadai, sementara kekurangan gizi membuat tubuh mereka semakin rentan. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling terancam.

Laporan UNICEF yang diterbitkan pada September lalu menyebut sekitar 84 persen penduduk Gaza (lebih dari 1,76 juta orang) masih tinggal di kamp-kamp pengungsian yang padat atau tempat penampungan rusak dan tidak layak. Tempat-tempat tersebut hanya memberikan sedikit perlindungan dari suhu yang sangat dingin, hujan lebat, dan banjir.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperingatkan bahwa Gaza memasuki musim dingin dalam kondisi kemanusiaan dan kesehatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kerusakan luas pada infrastruktur dasar membuat penduduk semakin rentan menghadapi cuaca ekstrem.

Menurut perkiraan yang dikutip WHO, sekitar 1,9 juta orang, atau lebih dari 70 persen penduduk Gaza, tinggal di wilayah dengan tingkat risiko iklim yang tinggi.

Sementara itu, UNICEF pada 17 September lalu menyerukan penyediaan dana sebesar US$97,5 juta untuk melindungi 540 ribu anak beserta keluarga mereka di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Dana tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman suhu yang mendekati titik beku, hujan lebat, banjir, serta berbagai kondisi musim dingin yang dapat membahayakan nyawa.

Bagi warga Gaza yang kehilangan rumah dan terpaksa bertahan di tenda, pergantian musim bukan sekadar perubahan cuaca. Ketika tempat berlindung tidak mampu menahan dingin dan hujan, musim dingin kembali menjadi ancaman bagi keselamatan mereka.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here