GAZA — Di sebuah tenda sempit di kamp pengungsian bagian barat Kota Gaza, Nada Al-Kafarna (27) mendekap erat Aylul, bayinya yang baru lahir. Wanita asal Gaza utara ini terpaksa mengungsi ke wilayah tersebut demi menyelamatkan diri dari gempuran yang tak kunjung reda.

Di ruang darurat yang amat jauh dari kamar bayi impiannya itu, Nada berjuang memberikan kenyamanan bagi sang buah hati. Panas menyengat menembus terpal yang mengepung mereka, sementara ruang yang ada tak cukup menampung seluruh anggota keluarga. Ancaman penyakit, infeksi, hingga ancaman hewan pengerat membayang-bayangi setiap detik hidup mereka.

Saat matahari tepat di atas kepala, Nada memegang selembar karton, mengipasinya perlahan untuk menghalau hawa panas yang membakar. Ia khawatir suhu tubuh bayinya yang belum genap berusia satu bulan itu melonjak. Di saat yang sama, matanya terus waspada terhadap tikus dan serangga yang kerap masuk tanpa permisi.

“Anak saya sering menangis histeris karena ruam kulit akibat panas ekstrem dan tidak adanya ventilasi,” ujar Nada. Tanpa aliran listrik, jangankan pendingin udara, kipas angin pun tak ada untuk sekadar meringankan gerah.

Hilangnya ruang privat, kehancuran akses jalan, hingga terpaksa diangkut dengan gerobak di atas jalanan berdebu hanya untuk kontrol medis berkala, makin menumpuk kecemasan Nada. Rumah mereka yang dulu memiliki ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi kini menyusut menjadi sepetak tenda berukuran 3×3 meter.

Perjuangan Menjaga Nyawa Baru

Kisah senada datang dari Qusay Naim (25). Kebahagiaannya menjadi seorang ayah berbaur rapat dengan rasa takut yang mendalam. Bayinya yang diberi nama Sham terlahir langsung berhadapan dengan realitas keras pengungsian.

“Sejak dia lahir, saya dan istrinya tidak berani meninggalkannya walau sedetik. Kami bergantian bergadang dan berjaga karena tikus berkeliaran di sekitar tenda,” kata Qusay.

Qusay tadinya membayangkan menyambut Sham di rumah yang aman, pintu yang bisa dikunci rapat, dan atap yang kokoh. Namun perang memaksa keluarga kecil ini bertahan hidup di antara reruntuhan.

“Kami sudah mencoba segala cara untuk menutup celah tenda dan mengusir serangga, tapi mereka selalu kembali,” ucap Qusay pasrah. Ia hanya berharap perang segera usai agar bisa memboyong keluarganya pulang.

Ancaman Tumbuh Tumbuh Anak Gaza

Kondisi pengungsian yang berjejal, krisis sanitasi, hingga tiadanya asupan gizi seimbang berdampak langsung pada kesehatan ibu hamil dan anak-anak. Dokter spesialis anak, Musab Farwana, menegaskan bahwa kepadatan pengungsian berisiko tinggi memicu penularan infeksi bakteri dan virus yang dapat mengganggu perkembangan janin.

“Gizi buruk pada ibu hamil memicu tingginya angka kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Ini membuat mereka sangat rentan terhadap gangguan tumbuh kembang di fase awal kehidupan,” terang Dr. Musab.

Ia menambahkan, bayang-bayang bahaya tak berhenti setelah persalinan. Bayi baru lahir belum memiliki kemampuan regulasi suhu tubuh yang sempurna, sehingga suhu tenda yang membakar berisiko memicu hipertermia atau dehidrasi berat.

“Tahun pertama kehidupan adalah fase krusial. Paparan infeksi berulang dan kurang gizi pada periode ini tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga berisiko permanen terhadap perkembangan kognitif dan otak anak,” peringatnya.

Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan di Gaza yang dihimpun per 20 September, tercatat ada 137.041 bayi lahir sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023. Mayoritas dari anak-anak ini menghabiskan hari-hari pertama kehidupannya bukan di dalam boks bayi yang hangat, melainkan di atas tanah berdebu di dalam tenda-tenda pengungsian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here