HEBRON — Suara azan tak lagi terdengar berkumandang dari menara Masjid Ibrahimi di Kota Hebron, bagian selatan Tepi Barat. Sudah tiga bulan penuh panggilan salat itu dibungkam. Memasuki hari kedua, otoritas Penjajah Israel kembali menggembok rapat kompleks tempat ibadah bersejarah ini dengan dalih peringatan hari raya Yom Kippur.

Masjid Ibrahimi berada di kawasan Kota Tua Hebron, wilayah yang berada di bawah kendali penuh militer Israel. Setiap kali perayaan agama Yahudi berlangsung, aktivitas warga lokal seolah dibekukan lewat penerapan jam malam secara ketat.

Sejak Oktober 2023, pengawasan dan pembatasan di kawasan ini kian mencekik, membuat jumlah jemaah Muslim yang beribadah menyusut drastis.

Tiga Bulan Tanpa Panggilan Salat

Direktur Masjid Ibrahimi, Sheikh Muataz Abu Sneineh, mengonfirmasi bahwa otoritas Israel menutup total area masjid sejak Minggu hingga Senin malam demi memberi ruang bagi perayaan Yom Kippur. Selama penutupan berlangsung, seluruh pengurus dan staf masjid dilarang melangkahkan kaki ke dalam kompleks.

Sistem pembagian ruang di Masjid Ibrahimi sendiri punya rekam jejak panjang. Pasca-pembantaian yang dilakukan pemukim ekstremis Baruch Goldstein pada Februari 1994—yang menewaskan 29 jemaah saat salat Subuh—komite penyelidik Israel merampas sekitar dua pertiga area masjid untuk diubah menjadi sinagoge. Komite tersebut menetapkan aturan: area masjid ditutup total bagi jemaah Muslim selama 10 hari dalam setahun saat hari raya Yahudi, dan sebaliknya berlaku bagi jemaah Yahudi pada hari besar Islam.

Namun, sejak agresi militer di Gaza meletus, aturan itu tak lagi berjalan seimbang. Akses penuh bagi jemaah Muslim saat hari besar Islam kerap diabaikan. Panggilan azan sempat dilarang ratusan kali sebelum akhirnya dihentikan total sejak tiga bulan lalu.

Cengkeraman Kontrol dan Pembatasan Ketat

Sheikh Muataz merinci kepada Al Jazeera Net bahwa azan tak terdengar di Masjid Ibrahimi selama 91 hari berturut-turut—setara dengan 455 waktu salat. Kebijakan ini beriringan dengan deretan pembatasan baru pasca-meletusnya perang Gaza:

  • Akses Dikunci: Pintu bagian timur dan halaman luar ditutup rapat atas alasan keamanan, sementara seluruh akses masuk ditutup kecuali satu jalur pemeriksaan.
  • Intimidasi Pengurus: Para staf dan pengurus masjid menjadi sasaran pemanggilan, interogasi, penahanan, penangkapan, hingga penganiayaan.
  • Penguasaan Fisik: Otoritas memasang gembok di seluruh kamar serta situs makam di dalam kompleks untuk mengukuhkan kendali penuh atas area masjid.
  • Krisis Fasilitas: Aliran listrik dan air dik90 Hari Tanpa Adzan: Saat Sulitnya Beribadah di Masjid Ibrahimi

Otoritas pendudukan Israel kembali menutup total Masjid Ibrahimi di Kota Hebron, bagian selatan Tepi Barat, selama dua hari berturut-turut. Penutupan kali ini dilakukan dengan dalih perayaan hari raya Yahudi, Yom Kippur. Langkah ini memperpanjang deretan pembatasan ketat yang membuat suara adzan tak lagi berkumandang dari menara masjid tersebut selama tiga bulan terakhir.

Masjid Ibrahimi terletak di kawasan Kota Tua Hebron, wilayah yang berada di bawah kendali militer penuh Israel. Setiap kali hari besar Yahudi tiba, aktivitas warga Palestina di sekitar kawasan ini praktis lumpuh total akibat pemberlakuan jam malam secara ketat. Sejak Oktober 2023, tekanan dan pengetatan keamanan di area ini terus meningkat hingga menggerus jumlah jamaah yang datang beribadah.

Akses Ditutup, Adzan Diberhentikan

Direktur Masjid Ibrahimi, Sheikh Moutaz Abu Sneineh, mengonfirmasi bahwa penutupan berlangsung sejak Minggu hingga Senin malam waktu setempat. Selama periode ini, seluruh pegawai dan pengurus masjid dilarang memasuki area tempat ibadah.

Praktik penguasaan ruang ini memiliki riwayat panjang. Pasca-tragedi pembantaian oleh pemukim ekstremis Baruch Goldstein pada Februari 1994—yang menewaskan 29 jamaah saat shalat—pemerintah Israel membagi area masjid secara sepihak. Sekitar dua pertiga bangunan diubah menjadi sinagoge.

Komisi penyelidikan Israel kala itu menetapkan bahwa area masjid ditutup total bagi umat Islam selama 10 hari raya Yahudi dalam setahun, dan sebaliknya bagi warga Yahudi saat hari besar Islam. Namun, sejak agresi di Gaza meletus, ketentuan tersebut berjalan timpang. Otoritas Israel tak pernah lagi membuka masjid secara penuh bagi umat Islam pada hari besar keagamaan mereka. Bahkan, panggilan adzan dihentikan total sejak tiga bulan lalu.

Skenario Penguasaan Bertahap

Menurut catatan pengelola masjid, adzan tidak terdengar dari Masjid Ibrahimi selama 91 hari berturut-turut—setara dengan 455 waktu shalat yang terlewati. Penutupan adzan ini melengkapi serangkaian tindakan pengetatan pengamanan yang diterapkan pasca-konflik Gaza, antara lain:

  • Penutupan Akses Utama: Pintu timur dan pelataran masjid ditutup rapat dengan alasan keamanan.
  • Tekanan Terhadap Pengurus: Pegawai masjid berulang kali mengalami intimidasi, pemeriksaan singkat, penahanan, hingga pengusiran dari area kerja.
  • Penguasaan Fisik: Pemasangan gembok pada seluruh ruangan dan situs bersejarah di dalam kompleks masjid.
  • Pembatasan Jalur Masuk: Seluruh akses masuk ditutup dan menyisakan satu pintu pemeriksaan saja.
  • Pengambilalihan Fasilitas: Kendali atas aliran listrik, air, serta izin renovasi sepenuhnya dikuasai otoritas militer, mengesampingkan kewenangan Kota Hebron dan Kementerian Wakaf Palestina.

Rangkaian pembatasan ketat ini berdampak langsung pada aktivitas keagamaan warga. Jumlah jamaah yang datang pada hari-hari biasa merosot hingga separuhnya dibanding kondisi sebelum perang.

Dampak Sosial pada Kota Tua

Dampak kebijakan pengamanan ini meluas hingga ke kehidupan sehari-hari warga di luar kompleks masjid. Imad Abu Shamsiyyah, anggota kelompok Pembela Hak Asasi Manusia di Hebron, melaporkan adanya konsentrasi pasukan militer yang cukup masif di sepanjang sudut Kota Tua.

Akibat penerapan jam malam ini, kegiatan belajar mengajar di empat sekolah terhenti, memutus akses pendidikan bagi lebih dari 600 siswa. Kebijakan ini juga mengisolasi sedikitnya 700 keluarga Palestina yang tinggal di pemukiman sekitar Kota Tua Hebron.

Sesuai Kesepakatan Hebron tahun 1997—bagian dari Protokol Oslo—kota ini terbagi menjadi dua area kontrol: Wilayah H1 di bawah administrasi Otoritas Palestina, dan Wilayah H2 yang berada di bawah kendali militer Israel. Wilayah H2 mencakup area strategis Kota Tua dan kompleks Masjid Ibrahimi, yang hingga kini menjadi titik rawan ketegangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here