RAMALLAH“Ya habibi, ya ummi…” Isak tangis histeris seorang ibu memecah keheningan ruang perawatan Rumah Sakit Al-Istishari di Ramallah, Tepi Barat. Kalimat lirih itu terus diulanginya sambil mendekap erat jasad kaku Ahmad Ma’rouf Zaid, bayi laki-laki yang baru menginjak usia empat bulan. Ahmad mengembuskan napas terakhirnya di sebuah pos pemeriksaan (checkpoint) militer Israel yang dipasang ketat di pintu masuk kota Deir Ammar, sebelah barat Ramallah.

Dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti, sang ibu mendekap bayinya yang telah dibalut bendera Palestina dan kain keffiyeh. Ia menciumi wajah mungil itu, memberikan tatapan terakhir yang sarat akan duka mendalam. Di sampingnya, seorang kerabat mencoba menenangkan dengan menepuk pundaknya sembari terus melafalkan kalimat tauhid, berserah diri pada ketentuan Sang Pencipta.

Dikepung Asap Air Mata di Tengah Kritis

Tragedi ini bermula ketika Ahmad tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan penurunan kadar oksigen secara drastis di rumahnya. Pihak keluarga yang panik langsung bergegas membawa bayi tersebut menggunakan mobil menuju rumah sakit terdekat. Namun, jalur penyelamatan itu seketika buntu. Militer Israel menutup total pintu masuk kota dan menolak memberikan izin melintas.

Pihak keluarga tertahan selama lebih dari satu jam. Para serdadu Israel di lokasi sama sekali tidak memedulikan kondisi darurat sang bayi. Alih-alih membuka jalan, militer justru menembakkan gas air mata secara membabi buta ke arah kendaraan warga yang mengantre.

“Bayi Ahmad dirampas hak dasarnya untuk mendapatkan penanganan medis tepat waktu. Ia kehilangan nyawanya di atas jalanan karena kebiadaban pos pemeriksaan,” tegas Gubernur Ramallah dan Al-Bireh, Laila Ghannam, melalui pernyataan resminya.

Ghannam menambahkan, Ahmad adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga tersebut yang kehadirannya telah dinanti selama bertahun-tahun melalui perjuangan panjang.

“Apa yang terjadi pada bayi Ahmad adalah noda hitam di dahi kemanusiaan. Ini adalah bagian dari kebijakan teror terstruktur yang menggunakan pos militer untuk mencekik pergerakan warga, ambulans, dan pasien,” lanjutnya.

Jalur Logistik Pengungsi yang Berubah Jadi ‘Gerbang Kematian’

Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina mengutuk keras insiden ini dan melabeli pos-pos pemeriksaan Israel di Tepi Barat sebagai “gerbang kematian”. Blokade jalanan ini dinilai sengaja dirancang sebagai instrumen untuk menindas dan memburu nyawa warga Palestina.

Skala pembatasan ruang gerak di Tepi Barat pasca-Oktober 2023 memang meningkat drastis ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pembatasan mobilitas di Tepi Barat kini berlangsung melalui jaringan pos militer dan gerbang yang semakin luas. Berdasarkan data Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina, terdapat sedikitnya 916 pos pemeriksaan dan gerbang militer yang tersebar di berbagai wilayah, sehingga mengisolasi akses antarkota dan membatasi pergerakan warga Palestina.

Dari jumlah tersebut, 243 gerbang besi merupakan infrastruktur baru yang dipasang Israel sejak pecahnya perang pada Oktober 2023, memperlihatkan semakin ketatnya sistem blokade di Tepi Barat.

Merujuk data resmi dari Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina, jumlah pos pemeriksaan dan gerbang militer di Tepi Barat kini telah menembus 916 titik. Sebanyak 243 gerbang besi di antaranya baru dipasang setelah meletusnya perang pada 7 Oktober 2023 lalu.

Sejak periode tersebut, eskalasi kekerasan oleh militer dan pemukim ekstremis Yahudi di Tepi Barat telah menggugurkan lebih dari 1.179 warga Palestina, melukai 13 ribu orang, serta menyeret hampir 24 ribu warga ke dalam penjara tanpa proses peradilan yang jelas.

Tragedi Anak-Anak di Pusat Pusaran Perang

Kematian bayi Ahmad di Tepi Barat menggemakan kembali tragedi kemanusiaan yang jauh lebih masif di Jalur Gaza. Berdasarkan unit data informasi Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, perang yang berlangsung telah menuntut tumbal yang luar biasa mahal dari generasi masa depan Palestina.

Hingga saat ini, tercatat lebih dari 21.638 anak-anak syahid akibat bombardemen Israel di Gaza, merupakan 30% dari total korban jiwa keseluruhan. Sementara itu, lebih dari 45 ribu anak-anak mengalami luka-luka, di mana sekitar seribu anak di antaranya terpaksa menjalani hidup dengan anggota tubuh yang diamputasi akibat hantaman bom.

Di Tepi Barat, kepulan asap dari selongsong gas air mata Israel mungkin telah menguap dari gerbang Deir Ammar, namun kepergian bayi Ahmad yang dirampas dalam hitungan menit di depan moncong senjata akan selalu menyisakan luka abadi yang tak akan pernah bisa disembuhkan oleh waktu. (Sumber: Al Jazeera)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here