Di sejumlah sudut Gaza, suara mesin bor tak lagi asing. Deru logam yang menembus tanah basah menjadi latar baru kehidupan, sebuah upaya mendesak untuk menemukan air, di tengah krisis yang kian menekan.

Pipa besi berlubang itu perlahan ditancapkan ke dalam tanah. Setiap hentakan mesin membuat lumpur di sekitarnya melebar. Sekitar sepuluh pekerja bergerak cepat mengelilingi lubang sempit itu, mengangkat pipa, menyambung, lalu mengelasnya tanpa jeda. Air dialirkan melalui selang untuk melunakkan tanah, membantu pipa menembus lapisan demi lapisan hingga kedalaman puluhan meter.

Setiap menit berarti semakin dekat ke sumber air bawah tanah. Di sisi lain, para pengungsi berdiri tak jauh dari lokasi, memperhatikan proses itu dalam diam, antara cemas dan harap.

Pemandangan seperti ini kini berulang di berbagai wilayah Jalur Gaza. Sebelum perang, pengeboran sumur bukanlah sesuatu yang lazim dilakukan warga. Namun setelah banyak sumur dan jaringan distribusi air hancur akibat serangan Israel, opsi itu berubah menjadi salah satu jalan terakhir untuk bertahan.

Ketika Keahlian Menjadi Penopang Hidup

Di kawasan Tal al-Hawa, selatan Kota Gaza, sebuah proyek pengeboran sumur berlangsung di dekat pusat-pusat pengungsian. Proyek ini dibiayai lembaga amal internasional. Para pekerja berbagi peran dengan ritme yang terlatih, ada yang mengendalikan pipa utama, ada yang menyiapkan sambungan, sementara tim lain fokus pada pengelasan.

“Ini pekerjaan berat, butuh ketelitian tinggi. Satu kesalahan saja bisa menghentikan seluruh proses,” kata Hamza Falfel, kontraktor pengeboran sumur, kepada Al Jazeera.

Ia menjelaskan, pekerjaan dilakukan dalam kondisi serba terbatas. Bahan bakar sulit didapat, begitu pula material dasar dan suku cadang. “Kami berusaha agar pekerjaan ini tidak berhenti. Kebutuhannya sangat besar,” ujarnya.

Biaya pengeboran satu sumur bisa mencapai 15 ribu dolar AS. Angka yang bagi banyak lokasi pengungsian sulit dipenuhi. “Banyak yang menghubungi kami, tapi proyek tidak bisa berjalan karena dana tidak tersedia,” kata Falfel.

Satu Sumur, Ribuan Kehidupan

Meski mahal, satu sumur bisa mengubah kehidupan ratusan bahkan ribuan orang.

Di pusat pengungsian “Sanad” di tengah Kota Gaza, dampaknya terasa nyata. Sekitar seribu orang tinggal di tenda-tenda yang berhimpitan. Sebelum sumur dibangun, mereka sepenuhnya bergantung pada truk tangki air yang datang tidak menentu, kadang hanya sekali atau dua kali dalam sepekan.

Air yang tersedia pun jauh dari cukup. Warga harus berjalan jauh sambil memikul jeriken berat, hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar: minum, mencuci, hingga mandi.

“Situasinya sangat buruk,” kata Ramez Jundiya, anggota tim pengelola pusat tersebut. Kondisi itulah yang mendorong mereka mengajukan pendanaan untuk pengeboran sumur di lokasi.

Setelah sumur beroperasi, perubahan langsung terasa. “Sekarang kami bisa menjalankannya beberapa jam setiap hari, dan kebutuhan dasar air mulai terpenuhi,” ujar Jundiya.

Manfaatnya tak berhenti di dalam kamp. Pengelola bahkan memasang tangki air di luar area pengungsian agar warga sekitar juga bisa mengaksesnya. “Kami sadar krisis ini bukan hanya milik kami. Banyak keluarga di sekitar yang menghadapi hal yang sama,” katanya.

Aturan yang Longgar di Tengah Darurat

Dalam kondisi normal, pengeboran sumur di Gaza diatur ketat oleh otoritas setempat untuk melindungi cadangan air tanah. Namun situasi perang mengubah banyak hal.

Direktur Otoritas Air dan Kualitas Lingkungan Gaza, Mazen al-Banna, mengatakan pihaknya kini tidak lagi menindak praktik pengeboran. “Masyarakat butuh air, sementara pemerintah daerah tidak mampu menyediakan layanan secara penuh,” ujarnya.

Ia mengakui, langkah ini bukan tanpa risiko. Pengeboran tanpa kontrol dapat memicu pencemaran, intrusi air laut, hingga merusak sumur yang sudah ada. Namun dalam kondisi darurat, pilihan menjadi terbatas. “Kami tidak bisa melarang orang memenuhi kebutuhan dasarnya,” kata Al-Banna.

Ia menambahkan, regulasi akan kembali diperketat jika situasi di Gaza membaik.

Krisis yang Terukur Angka

Data resmi Palestina menggambarkan skala krisis yang dihadapi. Selama perang, pasokan air di beberapa wilayah Gaza turun drastis, hanya berkisar 3 hingga 5 liter per orang per hari—jauh di bawah standar minimum kemanusiaan sebesar 15 liter.

Lebih dari 85 persen infrastruktur air dan sanitasi dilaporkan rusak, sebagian bahkan hancur total sejak Oktober 2023. Dampaknya, sistem pengelolaan limbah hampir lumpuh. Air limbah meluap ke kawasan permukiman, meningkatkan risiko pencemaran dan penyebaran penyakit.

Sekitar 57 persen warga kini tinggal dalam jarak kurang dari 10 meter dari genangan air limbah. Kondisi ini memicu lonjakan penyakit, mulai dari diare akut hingga infeksi kulit dan parasit, terutama di kalangan anak-anak yang mencakup hampir 40 persen populasi Gaza.

Sebagian keluarga bahkan menggantungkan pengambilan air pada anak-anak. Sekitar 15 persen rumah tangga menjadikan mereka sebagai pengumpul utama air, sementara 77 persen lainnya masih bergantung pada pasokan truk tangki.

Beban Ganda bagi Perempuan

Krisis air juga memukul perempuan secara tidak proporsional. Kekurangan air membatasi kemampuan menjaga kebersihan pribadi, berdampak pada kesehatan reproduksi, dan mengikis ruang privat di kamp pengungsian.

Risiko kekerasan pun meningkat, terutama saat perempuan dan anak perempuan harus mencari air atau menggunakan fasilitas yang tidak aman.

Diperkirakan sekitar 700 ribu perempuan dan anak perempuan di Gaza menghadapi kesulitan serius dalam menjaga kebersihan saat menstruasi, akibat terbatasnya air dan perlengkapan dasar.

Dalam laporan resmi disebutkan, krisis air bukan sekadar soal ketersediaan, tetapi juga terkait struktur sosial yang membuat dampaknya berlipat bagi perempuan.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here