GAZA — Warga Jalur Gaza mengantarkan jenazah dan sisa jasad 105 syuhada ke pemakaman pada Kamis, 1 Oktober 2026. Mereka merupakan korban serangan udara Israel terhadap Menara Al-Taj di pusat Kota Gaza pada Oktober 2023. Sisa jasad para korban baru berhasil ditemukan setelah tertimbun reruntuhan selama hampir tiga tahun.
Koresponden Al Jazeera, Nour Khaled, melaporkan sedikitnya 47 anak-anak dan 32 perempuan termasuk di antara para korban. Tim Pertahanan Sipil Gaza mengevakuasi sisa jasad mereka selama 17 hari terakhir, bekerja sama dengan komite Mesir.
Pada 25 Oktober 2023, militer Israel membombardir Menara Al-Taj, bangunan yang saat itu menampung sejumlah keluarga dan warga Palestina yang mengungsi. Mereka berlindung di sana karena mengira kawasan tersebut aman dari serangan.
Menurut laporan Nour Khaled, sekitar 20 bom dijatuhkan ke bangunan dan wilayah sekitarnya. Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut dampak ledakan menjangkau area hingga 5.700 meter persegi.
Serangan itu merenggut nyawa beberapa generasi dalam satu keluarga. Sebanyak 37 anggota keluarga Sharaf dilaporkan syahid, termasuk jurnalis Doaa Sharaf dan anaknya. Sebanyak 15 korban lainnya berasal dari keluarga Al-Mahlawi.
Pencarian Berlangsung di Tengah Keterbatasan
Evakuasi sisa jasad korban bukan pekerjaan mudah. Selama berbulan-bulan, Pertahanan Sipil Gaza tidak memiliki peralatan yang memadai untuk mengangkat reruntuhan dan mencari korban yang tertimbun. Operasi pencarian juga terhambat oleh aktivitas militer Israel yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Pencarian dan pengangkatan sisa jasad baru dimulai kembali pada bulan lalu. Setelah proses berlangsung selama lebih dari dua pekan, para korban akhirnya dapat dibawa untuk dimakamkan.
Sebelum prosesi pemakaman menuju Pemakaman Sheikh Radwan, Pertahanan Sipil Gaza menggelar konferensi pers. Dalam kesempatan itu, seorang perempuan bernama Taghrid al-Hannawi menceritakan kehilangan yang dialaminya.
Putrinya, Alia al-Hannawi, syahid bersama keempat anaknya dalam serangan terhadap Menara Al-Taj.
Pemakaman kali ini menjadi kali keempat warga Gaza menggelar prosesi serupa dalam skala besar. Sebelumnya, puluhan jenazah dan sisa jasad korban perang juga telah ditemukan dari bawah reruntuhan dan dimakamkan setelah tertimbun dalam waktu lama.
Namun, pekerjaan pencarian masih jauh dari selesai.
Menurut laporan Nour Khaled, sekitar 8.000 syuhada masih belum berhasil dievakuasi dari bawah puing-puing bangunan. Keterbatasan alat berat dan perlengkapan pencarian menjadi salah satu hambatan utama untuk menuntaskan operasi tersebut.
Ribuan Keluarga Hilang dari Catatan Sipil
Penghancuran keluarga secara menyeluruh menjadi salah satu karakteristik perang Israel di Gaza. Serangan berulang telah menyebabkan ribuan keluarga Palestina kehilangan banyak anggota sekaligus, bahkan terhapus dari catatan sipil Palestina.
Kasus Menara Al-Taj memperlihatkan bagaimana dampak serangan tidak berhenti ketika bangunan runtuh atau operasi militer berakhir. Bagi keluarga korban, proses mencari dan memakamkan orang-orang yang mereka cintai dapat berlangsung bertahun-tahun.
Di Gaza, ribuan jasad masih tertimbun reruntuhan. Sementara keluarga yang ditinggalkan terus menunggu kepastian tentang nasib anggota keluarga mereka.
Sumber: Al Jazeera.









