RAMALLAH — Dokumen visual terbaru dari jurnalis dan aktivis asal Rusia, Andrei X, mengungkap keterlibatan langsung tentara Penjajah Israel dalam memfasilitasi serangan kelompok pemukim Yahudi di wilayah Tepi Barat.
Dalam rekaman yang diambil di Desa Burqa, sebelah timur Ramallah, tentara Penjajah Israel terang-terangan menolak memberikan perlindungan bagi warga Palestina dan justru mengusir para wartawan dari lokasi kejadian.
“Tugas kami di sini hanya untuk melindungi orang Yahudi,” cetus salah satu tentara bermasker yang mengarahkan senjatanya ke arah warga Palestina, sebagaimana ditirukan Andrei dalam video yang ia unggah di akun Instagram pribadinya, Ahad (13/9).
Untuk memutus ruang gerak wartawan dan menghentikan pendokumentasian kekerasan, tentara tersebut menunjukkan dokumen digital di ponselnya yang menyatakan area tersebut sebagai zona militer tertutup.
Laporan agency berita Palestina, WAFA, mengonfirmasi bahwa sehari sebelumnya kelompok pemukim Yahudi mulai mendatangi pinggiran Desa Burqa dan melempar batu ke arah rumah serta kendaraan warga.
Gelombang Serangan Terus Meluas
Aksi kekerasan pemukim Yahudi tidak berhenti di Burqa. Pada Ahad malam, dua warga Palestina (Muhammad Darwish dan Nash’at Ishtayeh) mengalami luka-luka akibat pengeroyokan fisik oleh kelompok pemukim saat berada di ladang milik mereka di kawasan Wad Al-Sha’er, timur Salfit.
Di lokasi lain, Lembaga Hak Asasi Manusia Al-Baydar melaporkan aksi pembakaran lahan pertanian di kawasan Wad Al-Balat yang menghubungkan poros jalan Ramallah-Nablus. Lahan yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat setempat tersebut mengalami kerugian material yang signifikan.
“Kami memperingatkan bahaya serius dari berlanjutnya eskalasi ini. Perlindungan bagi para petani dan aset mereka harus segera diwujudkan,” tegas Al-Baydar dalam keterangan resminya.
Sementara itu, Stasiun TV Pemerintah Palestina juga melaporkan adanya penyerbuan pemukim ke Desa Deir Jarir, timur Ramallah, yang diwarnai dengan penembakan acak di sekitar pemukiman warga.
Penangkapan dan Penahanan Aktivis Asing
Eskalasi di lapangan diimbangi dengan pengetatan operasi militer Israel. WAFA melaporkan penahanan seorang aktivis kemanusiaan asing beserta kendaraannya di pos pemeriksaan (checkpoint) pintu masuk Desa Al-Mughayyir, timur laut Ramallah. Langkah pengetatan ini memicu kemacetan panjang dan melumpuhkan mobilitas warga.
Di wilayah selatan Tepi Barat, operasi penggerebekan menyasar Desa Al-Tabaqa di Hebron dan berujung pada penangkapan seorang warga lokal. Operasi serupa terjadi di Desa Kafr Ein, di mana pasukan menyergap kawasan tersebut dengan tembakan peluru tajam.
Di Desa Rammun, tentara menciduk Shahid Mustafa Yousif Ma’atan (23), seorang mantan tahanan politik yang tengah bekerja di sebuah sekolah swasta.
Rentetan penggerebekan juga menyisir wilayah Anata di timur laut Yerusalem, serta desa Fuqou’a, Al-Funduqumiya, dan Arraba di kawasan Jenin.
Eskalasi Pasca-Oktober 2023
Sejak pecahnya agresi militer Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023, intensitas serangan tentara dan pemukim di Tepi Barat melonjak drastis. Data resmi pemerintah Palestina mencatat lebih dari 1.190 warga Palestina tewas dan 13.000 lainnya luka-luka akibat kekerasan di Tepi Barat.
Lembaga Penanganan Tembok dan Pemukiman Palestina mencatat setidaknya ada 628 kasus serangan pemukim sepanjang Agustus lalu saja.
Situasi ini mendorong 14 Pelapor Khusus PBB pada Juni lalu mengeluarkan peringatan keras bahwa terorisme pemukim yang disokong otoritas Israel telah menjadi ancaman eksistensial bagi keberlangsungan hidup warga Palestina.
Saat ini, sekitar 750 ribu pemukim Israel menduduki 194 kawasan permukiman ilegal dan 400 pos terdepan (outpost) di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki, termasuk Al-Quds Timur.










