Operasi pembongkaran kembali digelar pasukan penjajah Israel di Al-Quds, Senin (30/3). Sasarannya kali ini kawasan Silwan, tepatnya di lingkungan Al-Bustan yang berbatasan langsung dengan kompleks Masjid Al-Aqsa. Sejumlah rumah diratakan, dinding dihancurkan, dan ruas jalan ikut dirusak. Di saat bersamaan, warga lain menerima surat peringatan pembongkaran berikutnya.

Menurut laporan di lapangan, pasukan penjajah masuk ke kawasan tersebut dengan pengawalan ketat, didukung buldoser milik pemerintah kota Israel. Akses menuju Al-Bustan, baik jalan utama maupun gang kecil—ditutup total, membatasi pergerakan warga sejak pagi.

Jurnalis lokal, Bassem Zaidani, yang tinggal di kawasan itu, menyebut sedikitnya empat rumah dibongkar dalam operasi kali ini. Rumah milik dua bersaudara, Naim dan Ibrahim Shahada, termasuk di antaranya. Selain itu, satu rumah milik Saleh Abu Shaffah dan satu rumah lain milik Ahmad al-Abbasi, warga lanjut usia berusia 85 tahun, juga ikut dihancurkan.

“Bukan hanya rumah. Mereka juga merobohkan pagar dan menggusur tanah milik warga,” kata Zaidani. Ia menambahkan, tiga keluarga lainnya sudah menerima perintah pengosongan rumah hingga Sabtu mendatang—langkah awal sebelum bangunan mereka ikut diratakan.

Tekanan terhadap warga Al-Bustan disebut terus meningkat. Warga menilai, rangkaian pembongkaran ini bukan sekadar penertiban bangunan, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk mendorong mereka angkat kaki dari kawasan tersebut.

Data yang dihimpun Komite Pertahanan Tanah Silwan memperlihatkan perubahan drastis dalam satu dekade terakhir. Dari sekitar 120 rumah yang pernah berdiri di Al-Bustan, kini hanya tersisa 66 unit. Sebanyak 54 rumah telah dihancurkan hingga akhir Februari lalu, belum termasuk pembongkaran terbaru ini.

Fakhri Abu Diab, anggota komite sekaligus warga setempat, menyebut tren pembongkaran meningkat tajam sejak agresi militer di Gaza pada 7 Oktober 2023. Dalam periode itu saja, sedikitnya 37 rumah telah diratakan.

Di balik operasi ini, otoritas penjajah mengajukan klaim historis. Mereka menyebut kawasan Al-Bustan sebagai bagian dari “taman Raja Daud”, sehingga perlu dikosongkan untuk perluasan taman nasional yang terhubung dengan area Wadi Hilweh di sekitarnya.

Kawasan wisata yang dikenal sebagai “Kota Daud” itu dikelola organisasi pemukim Elad sejak 1990-an. Dalam beberapa tahun terakhir, upaya memasukkan Al-Bustan ke dalam proyek tersebut semakin intens. Di satu sisi, pembongkaran dipercepat. Di sisi lain, proses penyitaan lahan terus berjalan.

Pada Januari lalu, otoritas kota Israel mengirimkan pemberitahuan kepada sejumlah pemilik tanah di Al-Bustan terkait rencana penyitaan sekitar 7 dunam lahan. Alasan yang digunakan adalah “penataan taman dan pembangunan area parkir” di atas lahan yang disebut sebagai “kosong”.

Namun bagi warga, klaim itu menyesatkan. Lahan yang dimaksud adalah milik mereka, tempat rumah-rumah pernah berdiri sebelum dihancurkan oleh alat berat penjajah.

Di Al-Bustan hari ini, garis antara kebijakan tata kota dan pengusiran paksa kian kabur. Yang tersisa bagi warga hanyalah pilihan sempit: bertahan di tengah tekanan, atau kehilangan rumah yang telah mereka jaga selama puluhan tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here