Al-Quds Timur – Ruang gerak warga Palestina untuk beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa kembali menyempit. Pada Jumat ini (15/5), otoritas keamanan Israel memberlakukan pembatasan ketat di sekitar situs suci tersebut, bertepatan dengan aksi provokatif puluhan pemukim Israel yang merangsek masuk ke kawasan Bab Al-Asbat.
Pasukan Israel menutup total akses Bab Al-Asbat bagi para jemaah yang hendak melaksanakan Shalat Jumat. Tak berhenti di situ, Gerbang Raja Faisal (salah satu pintu masuk krusial menuju kompleks Al-Aqsa) juga digembok rapat oleh aparat, memutus akses bagi siapa pun yang mencoba masuk melalui jalur tersebut.
Kontrol Ruang yang Sistematis
Langkah ini memperpanjang daftar panjang restriksi yang dialami warga Muslim di Yerusalem Timur. Di saat gerbang-gerbang masjid ditutup bagi jemaah, kelompok pemukim justru mendapatkan kelonggaran untuk melakukan inkrusi di area sekitar situs suci tersebut.
Pola ini kian terbaca sebagai upaya sistematis untuk membatasi kehadiran warga Palestina di Al-Aqsa. Penutupan gerbang-gerbang utama secara mendadak sering kali menjadi taktik untuk menciptakan “kelelahan psikologis” bagi para jemaah, sekaligus memberikan ruang bagi kelompok sayap kanan Israel untuk mengukuhkan eksistensi mereka di kawasan Kota Tua.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar Gerbang Singa masih tegang. Jemaah yang tertahan di luar gerbang terpaksa menggelar sajadah di jalanan aspal, di bawah pengawasan ketat personel keamanan bersenjata lengkap. Bagi mereka, ini bukan sekadar soal akses ibadah yang terganggu, melainkan tentang kedaulatan ruang yang kian hari kian tergerus oleh okupasi.










