ISTANBUL — Perwakilan Global Sumud Flotilla di Turki, Bahci Ismail Songur, mengumumkan dimulainya persiapan untuk meluncurkan misi laut baru menuju Jalur Gaza dalam beberapa bulan ke depan. Misi kemanusiaan kali ini dirancang dengan partisipasi internasional yang jauh lebih luas serta melibatkan jumlah kapal yang lebih banyak. Targetnya tetap konsisten, mematahkan blokade ilegal Israel sekaligus menyoroti bencana kemanusiaan yang kian mencekik di dalam kantong wilayah tersebut.
Pengumuman ini disampaikan di sela-sela pertemuan darurat para aktivis armada di Istanbul pada Ahad (14/6). Pertemuan tersebut digelar khusus untuk mengevaluasi misi pelayaran terakhir mereka yang secara brutal diserang dan dibajak oleh militer Israel saat tengah berlayar menuju Gaza.
Mengutip laporan Kantor Berita Anadolu, Songur menegaskan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan oleh penduduk Gaza memperlihatkan satu hal penting, kebutuhan mereka bukan sekadar bantuan logistik pangan fisik semata. Lebih dari itu, warga Gaza sangat membutuhkan dukungan moral serta solidaritas internasional nyata yang membuktikan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi penindasan.
Songur juga menjelaskan, langkah hukum telah resmi dimulai di berbagai pengadilan Eropa dan internasional untuk menyeret serta mengadili para pejabat Israel yang bertanggung jawab atas pelanggaran hukum laut internasional dan kekerasan terhadap para relawan.
Rekam Jejak Pembajakan di Perairan Internasional
Flashback pada 18 Mei lalu, angkatan laut Israel secara agresif menyerang konvoi kapal Global Sumud Flotilla saat berada di perairan internasional Laut Mediterania. Konvoi yang terdiri dari sekitar 50 kapal tersebut mengangkut 428 aktivis dari 44 negara yang berbeda.
Seluruh relawan ditangkap secara paksa oleh militer Israel. Padahal, mereka berada dalam misi murni kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan darurat bagi warga Palestina di Jalur Gaza serta menolak blokade kejam yang telah membelenggu wilayah itu sejak tahun 2007.
Aksi penyerangan bersenjata dan penangkapan massal para aktivis perdamaian di perairan internasional ini langsung memicu gelombang kecaman global dari berbagai belahan dunia. Salah satu respons keras datang dari organisasi hak asasi manusia global, Amnesty International, yang mengutuk keras pembajakan tersebut dan mencapnya sebagai tindakan yang “memuakkan dan tidak manusiawi”.
Aksi premanisme laut ini sebenarnya bukan barang baru. Otoritas penjajah Israel sudah berulang kali menyita kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan di perairan internasional, menangkap para aktivisnya, untuk kemudian mendeportasi mereka kembali ke negara asal masing-masing demi memutus mata rantai bantuan ke Gaza.
Saat ini, sekitar 2,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza terpaksa bertahan hidup di bawah kondisi kemanusiaan yang teramat katastropik. Situasi ini kian diperparah oleh dampak langsung dari perang genosida Israel yang telah merenggut puluhan ribu nyawa dan melukai ratusan ribu lainnya, di mana mayoritas korban adalah anak-anak dan perempuan tak berdosa.
Sumber: Al Jazeera / Anadolu Agency










