AL-QUDS — Imam dan Khatib Masjid Al-Aqsa, Sheikh Ikrima Sabri, memperingatkan bahwa aksi penyerbuan berulang yang dilakukan para pemukim Yahudi ke Kompleks Masjid Al-Aqsa (dengan perlindungan ketat kepolisian Israel serta partisipasi pejabat tinggi pemerintah) merupakan eskalasi berbahaya.

Langkah ini bertujuan memaksakan fakta-fakta baru (facts on the ground) guna mengubah Status Quo sejarah dan hukum Al-Aqsa, seraya menyerukan aksi nyata dari seluruh elemen Palestina, Arab, dan dunia Islam.

Dalam wawancara khusus bersama Al Jazeera, Sheikh Sabri menjelaskan bahwa penyerbuan pemukim kerap diintensifkan pada momen peringatan keagamaan Yahudi, khususnya apa yang mereka sebut “Tisha B’Av” (Peringatan Hancurnya Candi/Hantu Temple). Ia menegaskan bahwa otoritas pendudukan memanfaatkan momen-momen ini untuk memaksakan pembagian baru di Al-Aqsa di bawah kawalan ketat polisi.

Ia menyoroti pergeseran peran aparat keamanan Israel. Jika sebelumnya kepolisian melarang ritual keagamaan dan Talmudis di pelataran Al-Aqsa, kini mereka justru mengawal dan melindungi para pelaku ritual tersebut.

Di saat yang sama, aparat menangkut, memenjarakan, dan melarang warga Palestina yang mencoba menghalangi penyerbuan untuk mendekati kompleks masjid. Menurut Sheikh Sabri, tindakan ini bukan lagi aksi sporadis kelompok ekstremis, melainkan kebijakan resmi penjajah Israel yang diikuti langsung oleh para menteri dan anggota Knesset.

Para pengamat menilai terdapat tiga pesan politik di balik penyerbuan tersebut. Pertama, mendorong partisipasi yang lebih besar dari para pemukim Yahudi dalam aksi penyerbuan ke Kompleks Masjid Al-Aqsa.

Kedua, menunjukkan klaim kedaulatan penuh pemerintah Israel atas kawasan suci umat Islam tersebut. Ketiga, mengirimkan pesan kepada komunitas Yahudi di berbagai negara agar terdorong berimigrasi ke Palestina yang diduduki dan menetap di sana.

“Bahaya terbesar dari skenario ini adalah upaya membiasakan publik (normalization) terhadap ritual Talmud di dalam Al-Aqsa sehingga dianggap sebagai hal yang biasa. Pemukim tidak lagi datang sebagai pengunjung biasa, melainkan bertindak seolah-olah memiliki hak kepemilikan atas Al-Aqsa. Namun, tindakan ilegal ini tidak akan pernah memberi mereka hak selamanya,” tegas Sheikh Sabri.

Sheikh Sabri menyerukan warga Palestina untuk terus merapatkan barisan dan membanjiri Masjid Al-Aqsa (syaddur rihal). Ia juga mendesak pemerintah dan rakyat di negara-negara Arab serta Islam untuk mengoptimalkan instrumen diplomasi, politik, dan ekonomi demi menekan Israel. Ia menekankan bahwa Al-Aqsa bukan hanya tanggung jawab warga Palestina semata, melainkan milik seluruh umat Islam di dunia.

Terkait peran Badan Wakaf Islam Yordania, Sheikh Sabri menjelaskan bahwa kelompok pemukim sengaja mendokumentasikan dan mempublikasikan aksi ritual mereka sebagai alat propaganda, sementara para penjaga Wakaf terus berjuang melindungi kompleks masjid di tengah tekanan berat otoritas Israel.

Penyerbuan Terbesar dalam Beberapa Tahun Terakhir

Koresponden Al Jazeera, Muhammad Al-Atrash, melaporkan bahwa gelombang penyerbuan terus berlangsung sejak Kamis pagi. Aksi ini diikuti oleh Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan anggota Knesset Amit Halevi, yang secara provokatif menari dan mengibarkan bendera Israel di pelataran Al-Aqsa.

Beberapa pemukim bahkan terlihat membawa batu sebagai simbol meletakkan batu pertama pembangunan kembali “Bait Ketiga” (Third Temple). Untuk pertama kalinya, pemukim meluncurkan tenda-tenda pelindung matahari di dalam pelataran masjid demi kenyamanan peserta penyerbuan.

Data terbaru menunjukkan eskalasi penyerbuan ke Kompleks Masjid Al-Aqsa terus meningkat. Hingga siang hari, jumlah pemukim Yahudi yang memasuki kompleks tersebut telah mencapai 3.228 orang. Kelompok-kelompok Temple Mount menargetkan angka itu meningkat hingga 5.000 orang dalam sehari, melampaui rekor sekitar 4.000 pemukim yang tercatat pada 2025.

Sebagai perbandingan, jumlah penyerbu pada tahun-tahun sebelumnya umumnya berkisar antara 2.300 hingga 3.000 orang. Secara kumulatif, sejak 2025 lebih dari 70 ribu pemukim tercatat telah memasuki Kompleks Masjid Al-Aqsa.

Al-Atrash menambahkan bahwa penyerbuan masif ini dipicu oleh pengerahan seruan luas dari kelompok-kelompok ekstremis Temple Mount melalui berbagai platform media sosial untuk memperingati “9 Agustus” menurut kalender Ibrani.

Momen ini dikaitkan langsung dengan skenario pembongkaran Al-Aqsa untuk mendirikan Temple Third, sebuah langkah yang dinilai warga Palestina merusak Janji Perlindungan Status Quo.

Para pengamat Palestina memandang eskalasi ini sebagai replikasi dari skenario pembagian Masjid Ibrahimi di Hebron pada tahun 1997. Dengan meningkatkan frekuensi penyerbuan, jumlah peserta, pengibaran bendera, serta peletakan fasilitas fisik, Israel secara bertahap sedang menghapus identitas keislaman Masjid Al-Aqsa dan menggantikannya dengan kedaulatan pendudukan secara penuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here