GAZA — Selembar terpal sekadar penahan angin, beberapa bilah kayu sisa reruntuhan, dan plastik es tebal (sywadir) yang dijahit seadanya. Di atas puing-puing bangunan yang hancur di barat Kota Gaza, instalasi darurat berbentuk “kios rokok” itu berdiri. Di atas pintunya tak ada papan nama neonsign yang menyala, melainkan guratan spidol, Klinik Gigi drg. Rizq Abu Halima.
Dua tahun lalu, sebelum jet-jet tempur Tel Aviv meratakan seisi kota, Abu Halima adalah pemilik salah satu pusat ortodontik paling mutakhir di utara Gaza. Kliniknya memiliki ruang sterilisasi standar rumah sakit, mesin rontgen digital, dan tim perawat serta sekretariat yang komplet. Hari ini, kemewahan itu menguap jadi abu. Ruang praktiknya kini berganti menjadi ruang sempit pengap berukuran dua kali tiga meter.
“Semua hancur. Dari seluruh inventaris medis yang kami miliki, hanya ada satu kursi periksa lama dan beberapa bor genggam yang berhasil kami gali secara mukjizat dari bawah beton runtuh,” ujar Abu Halima.
Kondisi Abu Halima bukan pengecualian, melainkan potret umum yang jamak. Data internal dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyebutkan bahwa agresi militer telah mengamputasi sedikitnya 80 persen fasilitas klinik swasta dan apotek di seluruh wilayah kantong tersebut. Para praktisi medis dipaksa kembali ke titik nol, merawat pasien dengan peralatan yang lebih mirip perkakas tukang kayu ketimbang instrumen medis abad ke-21.
Harga Hancurnya Saraf Gigi
Bagi dokter gigi di Gaza, tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar getaran tanah akibat artileri, melainkan inflasi gila-gilaan pada bahan baku medis. Blokade total yang diterapkan militer Israel pasca-gencatan senjata parsial membuat material dasar seperti komposit tambalan, bahan cetak rahang, hingga obat perawatan saluran akar (root canal) menjadi barang selundupan berharga selangit.
“Harga material medis dental melonjak antara lima hingga sepuluh kali lipat dari harga normal sebelum perang. Kami terpaksa menaikkan tarif tindakan, sebuah keputusan yang sangat menjepit hati karena kami tahu kondisi ekonomi warga Gaza sudah habis-habisan,” ujar drg. Rizq Abu Halima.
Setiap hari, bilik kayu Abu Halima dipenuhi jeritan menahan nyeri. Di tengah kelangkaan obat penenang dan antibiotik oral di pasar bebas, satu-satunya opsi medis yang tersisa bagi warga yang mengalami infeksi pulpa akut adalah tindakan invasif langsung: pembongkaran saraf gigi secara manual atau ekstraksi total. Tanpa pasokan logistik internasional yang stabil, pelayanan ini berjalan di atas standar sanitasi yang sangat minimalis.
Apotek Trotoar Tanpa Lemari Pendingin
Kondisi setali tiga uang dialami Shiren Al-Atbash. Sebelum blokade, ia adalah seorang apoteker di kawasan barat laut Kota Gaza. Gedung flat yang merumahi apotek tempatnya bekerja hancur rata tanah dalam sekali serangan udara. Seluruh stok obat modernnya tertimbun beton.
Kini, Shiren memindahkan sisa hidupnya ke sebuah lapak semi-permanen di pinggir jalan, berhimpitan dengan barisan tenda pengungsian yang pengap. Apoteknya kini berupa meja kayu beralas tanah.
Masalah terbesar Shiren bukan hanya kelangkaan obat esensial untuk penderita penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan tiroid. Problem utama yang membuatnya frustrasi adalah termoregulasi. Akibat pemutusan aliran listrik total oleh otoritas Israel, ia tidak memiliki kulkas atau alat pendingin.
Di bawah suhu tenda yang bisa mencapai di atas 35 derajat Celsius saat siang hari, obat-obatan cair dan hormon sensitif terancam rusak sebelum sempat disuntikkan ke tubuh pasien.
“Jika pun ada beberapa karton obat yang berhasil lolos masuk lewat jalur perbatasan, harganya sudah tidak masuk akal. Di luar jangkauan daya beli pengungsi yang tidak punya pendapatan lagi,” keluh Shiren.
Statistik Runtuhnya Struktur Kesehatan
Berdasarkan laporan investigasi lapangan dan kompilasi data yang dihimpun, blokade pasca-perang secara sistematis telah mematikan fungsi pertahanan medis paling mendasar di Gaza.
Berikut adalah rincian kehancuran fisik infrastruktur kesehatan hingga pertengahan tahun 2026:
| Infrastruktur Medis Terdampak | Jumlah Unit Riil | Status Operasional di Lapangan |
|---|---|---|
| Klinik Swasta & Spesialis | 80% dari Total Unit | Rusak total / beralih fungsi menjadi tenda darurat |
| Rumah Sakit Umum/Sektoral | 38 Rumah Sakit | Keluar dari sistem layanan akibat kerusakan struktur |
| Pusat Kesehatan Primer | 96 Pusat Layanan | Kehilangan pasokan obat dasar dan vaksin |
| Armada Ambulans/Evakuasi | ± 200 Unit Ambulans | Hancur akibat fragmen bom dan kehabisan suku cadang |
Ancaman ini bukan lagi sekadar proyeksi masa depan; ini adalah krisis klinis harian. Kementerian Kesehatan di Gaza baru saja merilis nota darurat mengenai kondisi stok penunjang hidup yang berada di titik kritis.
- 250 Pasien Gagal Ginjal Kronis terancam kehilangan jadwal hemodialisis akibat kelangkaan total cairan pembersih dan filter dialiser.
- 11.000 Pasien Diabetes menghadapi komplikasi akut karena hilangnya pasokan injeksi insulin secara masif di pasar darurat.
- 110 Penderita Hemofilia terpaksa bertahan hidup tanpa pasokan faktor pembekuan darah (clotting factor), menaruh mereka pada risiko perdarahan internal fatal setiap detiknya.
Gaza di pertengahan 2026 adalah ruang pamer di mana sumpah hipokrates diuji sampai batas paling ekstrem. Di atas reruntuhan beton dan jalinan terpal plastik, para dokter dan apoteker seperti Abu Halima dan Shiren Al-Atbash tidak lagi bekerja untuk menyembuhkan—mereka sekadar menyambung napas sebuah populasi yang kesehatannya sengaja diambrukkan secara perlahan.










