Di balik layar propaganda Israel, narasi “tentara humanis” dibentuk rapi. Di layar, tentara terlihat membagikan makanan dan air kepada anak-anak. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya: anak-anak menjadi target serangan mematikan.

Avichay Adraee, juru bicara militer Israel, mempublikasikan video yang menunjukkan tentara memberi makanan pada dua anak di “garis kuning” Gaza. Video itu diputar berulang di akun resmi Israel sebagai kampanye untuk menegaskan citra kemanusiaan tentara.

Namun sehari setelah propaganda itu, drone Israel menembaki dua anak di dekat Rumah Sakit Kamal Adwan, utara Gaza. Korban, Salman Zakaria al-Zawarah (14) dan sepupunya Muhammad Yusuf al-Zawarah (15), menjadi syahid saat mengambil bahan untuk membangun tenda keluarga mereka.

Bilal Sabah, relawan medis yang mengevakuasi jenazah, mengatakan: “Militer menembaki kedua anak itu dengan misil, saat mereka mencari perlindungan dan bahan tenda menghadapi musim dingin.”

Video memilukan menunjukkan ayah salah satu korban, Abu Muhammad al-Zawarah, memeluk jenazah anaknya dan meminta bantuan dokter untuk menyelamatkannya. Foto dan video jenazah keduanya viral di media sosial, membongkar jurang antara propaganda dan kenyataan.

Sejak gencatan senjata, data Kantor Media Gaza mencatat 483 warga gugur, termasuk 252 wanita dan anak-anak. Lebih dari 20 ribu anak telah kehilangan nyawa sejak perang berlanjut.

Laporan PBB dan organisasi hak asasi manusia menunjukkan anak-anak sering menjadi sasaran serangan, baik di rumah, sekolah, rumah sakit, maupun saat mencari makanan dan air. Fakta ini menegaskan bahwa anak-anak berada di pusat sasaran, menentang narasi kemanusiaan yang dikampanyekan Israel.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here